Friday, March 2, 2012

Antara Candabirawa dan Korupsi



Pagi ini saya membuka kembali koleksi buku-buku lama untuk mencari inspirasi, suatu kegiatan yang selalu saya lakukan untuk menghilangkan kejenuhan dan rutinitas. Tidak sengaja terambil lagi cerita wayang Mahabharata yang tidak pernah bosan kalau dibaca.

Ketika membolak-balik cerita legendaris tersebut, saya tertarik membaca kembalii kisah pertempuran Pandu Dewanata dengan Narasoma yang terkenal dengan aji Candabirawanya. Berbeda dengan ajian yang biasa, si pemilik aji Candabirawa mampu  menciptakan raksasa yang bisa diperintah untuk menyerang musuhnya. Lebih unik lagi, raksasa itu kalau dilukai, setiap tetesan darahnya akan menjelma menjadi raksasa yang sama. Akibatnya tentu saja pihak lawan akan makin kerepotan menghadapi raksasa yang jumlahnya semakin banyak.
Bekerjanya aji Candabirawa ini boleh dibilang mirip dengan cara berkembangnya amuba, organisme bersel tunggal yang memecah dirinya untuk berkembang biak.

Dalam kisah diatas, Pandu yang tengah kelabakan dalam menghadapi jumlah raksasa yang semakin banyak, mendapat bisikan dari penasehatnya Semar (pada hikayat lain, ada yang menyebut Petruk sebagai pemberi nasehatnya).
Konon nasihat yang diberikan itu kira-kira begini intisarinya:
Candabirawa itu dapat dibilang sebagai intisari dari watak bangsa manusia.
Untuk melawannya kita harus tenang, tidak emosional dan .... jangan melawannya secara frontal.
Yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya adalah KEHENDAK.
Manusia punya kehendak, cita-cita ataupun ambisi sedangkan makluk lain tidak memilikinya, sementara kehendak manusia seolah tidak ada habisnya, tidak terbatas. Disitu kuncinya untuk menghadapi Candabirawa.

Sebuah resensi yang membahas fenomena candabirawa ini memberikan ulasan bahwa "kehendak" dipicu oleh indera yang dimiliki manusia. Misalnya, mata melihat sehingga muncullah keinginan. Telinga mendengar, maka muncullah kehendak. Bahkan dalam diam sekalipun, manusia seringkali masih juga digoda oleh angan-angan.

Lalu bagaimana caranya untuk menghentikan kehendak? Mudah saja, tutuplah semua indera yang ada. Boleh mendengar tapi jangan disimak, boleh melihat tapi jangan diperhatikan, boleh terlintas namun jangan dipikirkan.

Setelah mengikuti nasehat Semar, dalam menghadapi serbuan raksasa candabirawa, Pandu mengambil sikap diam dan memusatkan perhatian kepada Penguasa Alam, tidak memikirkan apapun yg ada disekitarnya. Reaksinya?
Dalam beberapa saat jumlah raksasa yang tadinya begitu banyak terlihat mulai berkurang dan akhirnya tinggal satu wujud manusia saja, yaitu Narasoma si pemilik aji Candabirawa.
Dengan cara itulah akhirnya Pandu dapat mengalahkan Narasoma yang belakangan dikenal dengan nama Prabu Salya.

Setelah membaca kisah diatas, saya jadi berangan-angan. Andaikan anak bangsa Indonesia khususnya Presiden SBY dan aparatnya bisa mengikuti jejak Pandu Dewanata dalam menguasai dan mengontrol kehendak, mungkin jumlah korupsi di republik ini banyak berkurang. Bukankah pola merajalelanya korupsi itu (yang identik dengan cara berkembang biaknya raksasa candabirawa) disebabkan oleh kehendak (nafsu) yang tergoda oleh perilaku hedonisme dan konsumtif? Tapi, apakah itu sebuah harapan yang realistis dalam kehidupan yang sangat materialistis dewasa ini?

Saya tidak berani beranjak lebih jauh, soalnya mendadak teringat kembali bahwa angan-angan ini pun menunjukkan bahwa saya masih tergoda oleh "kehendak". Ternyata dalam menghadapi serbuan "Candabirawa modern" yang berwujud korupsi itu bukan soal yang gampang, malah mungkin teramat sulit.
Namun kalau sekedar berharap, boleh-boleh saja tokh? Siapa tahu Tuhan berkenan menurunkan "Pandu Dewanata" semisal mitos Satria Piningit untuk menggantikan pemerintahan sekarang yang bergeraknya ibarat binatang kecil undur-undur.

Ciputat, 2 Maret 2012.

Sunday, February 19, 2012

Obrolan Ringan Soal Simbol Status


Minggu lalu saya menerima kiriman SMS yang isinya kira-kira begini:
“Apa kabar Aswil. Ini dari ...... Dimana anda sekarang? Maksud saya, sudah jadi bos apa?”

Isi pesan singkat itu membuat saya tersenyum karena datangnya pada waktu yang sangat pas, yang dalam kosa kata sistem informasi disebut dengan istilah “just in time”. Ya, masuknya SMS kawan ini hanya sehari setelah saya mengulas topik “simbol status kemapanan” seseorang bersama beberapa teman kuliah.

Awalnya salah seorang teman saya mengungkapkan bahwa dia agak risih kalau diundang ke acara reunian alumni sekolahnya, walaupun sebenarnya begitu ingin untuk bertemu dengan sobat-sobat lama. Pasalnya, dalam suasana keakraban tersebut seringkali terlontar pertanyaan seperti kalimat diatas, seperti “sudah jadi boss belum?” atau pertanyaan yang lebih spesifik “si anu sudah jadi direktur belum?”

Bagi sesama teman akrab, pertanyaan semacam itu tentunya tidak menjadi soal karena biasanya tidak bermaksud merendahkan satu sama lain. Tetapi kalau individu yang ditanya sedang sensi (sensitif) dan kondisi kehidupannya memang  susah, pertanyaan tersebut bisa merusak suasana keakraban.

Saya pribadi kebetulan tidak pernah mempersoalkan hal-hal kecil semacam itu ketika hadir dalam acara reuni atau silaturahmi eks teman-teman sekolah masa lalu.  Tetapi diskusi soal status teman-teman lama yang meroket ke posisi puncak dalam karirnya cukup sering terdengar. Pernyataan seperti “si Ahmad sudah jadi Presdir lho” atau “hebat ya si Munir, perusahaannya sudah buka cabang dimana-mana” tidak perlu dibuat heran. Itu biasa, dan sejak dulu fenomena semacam ini sudah ada.

Salah seorang teman menyebutkan bahwa di tahun 70 an dia pernah mendengar kalimat seperti ini, “hebat tuh si Polan, di rumahnya ada piano. Padahal pembantunya aja ngga bisa main piano”.
Ungkapan ini konon merupakan pengakuan akan status seseorang sekaligus sindiran. Maksudnya, orang yang dimaksud pasti kaya karena mampu membeli piano yang mahal. Namun juga menyindir, buat apa buang-buang duit untuk membeli piano karena seisi rumahnya tidak satupun yang bisa main piano, sekalipun pembantu rumah tangganya.

“Namun ada juga masa dimana simbol status kesuksesan diukur dari pintu rumah,” kata teman saya lainnya.
“Lho, kok pintu rumah?,” tanya saya.
“Ya, memang begitu. Kalau pintu rumahnya terbuat dari kayu jati, pasti dia sudah sukses. Kan harga kayu jati itu mahal,” ujar teman tersebut.
Kita yang terlibat dalam diskusi itu cuma tertawa sambil geleng-geleng kepala.

Teman lain ngga mau kalah menimpali, bilang bahwa sejak tahun 90-an kemapanan juga diukur dari ada atau tidaknya kolam renang di rumah seseorang. Ada juga yang memperlihatkan statusnya melalui koleksi moge (motor gede) sekaliber Harley Davidson.

Tapi sekali waktu saya mendengar kalimat yang agak berbeda dari seorang  teman yang sudah menjadi pengusaha sukses. Ketika bertanya tentang keberadaan teman lama yang juga terbilang sukses, dia melontarkan pertanyaan: “Rumahnya sudah pakai lift atau belum?”
Walah, rupanya simbol kemapanan sudah bergeser dari kolam renang menjadi lift.
“Kira-kira setelah lift, nanti apa lagi ya simbol status yang menunjukkan kesuksesan seseorang?” tanya saya ke teman-teman.
Langsung ada yang menimpali, “nanti akan datang masanya dimana helipad di rumah seseorang menjadi simbol status. Kita tunggu aja, kalau ngga percaya!”
Dalam hati saya membatin, prediksi itu boleh jadi benar adanya. Bukankah sudah ada satu dua rumah konglomerat yang sekarang sudah punya helipad?

Ngobrol soal duniawi ini kalau mau diteruskan bakal tidak ada ujungnya, bisa melebar kemana-mana dan kita bisa larut didalamnya. Padahal Allah Swt sudah mengingatkan dalam firman-Nya seperti yang disebutkan dalam surat Al Hadiid ayat 20:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. “

Maka cukup mengherankan kalau simbol status di dunia ini menjadi topik perbincangan. Kok jadi sesuatu banged ya..?

Ciputat, 19 Februari 2012.

Saturday, February 11, 2012

Hallyu: Demam Korea Yang Membius

Beberapa hari yang lalu saya melihat satu narasi artikel yang menyebut  Virus budaya kontemporer Hallyu yang mengakibatkan "demam Korea" sudah menginfeksi Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir.

Hemm, istilah apa lagi nih, pikir saya dalam hati. Sayangnya artikel itu tidak sempat saya baca keseluruhannya karena sedang terburu-buru untuk urusan lain. Belakangan ketika sedang santai, saya coba nanya ke mbah google perihal demam Korea dengan menggunakan keyword “hallyu”. Hasilnya? Sungguh mencengangkan buat saya yang sudah cukup lama tidak memperhatikan negeri ginseng tersebut.



 Seoul di tahun 1980 an
Saya pertama kali menginjak kaki di Seoul, ibukota Korea Selatan pada tahun 1983, hampir 29 tahun yang lalu. Ketika itu Korea terkesan baru bangkit dengan suasana ibukota yang mulai dipenuhi oleh skyscrapers (gedung perkantoran bertingkat tinggi). Jakarta jelas tertinggal jauh, namun Korea secara umum masih berada dibawah bayang-bayang kejayaan Jepang. Belakangan saya sempat mengulangi kunjungan ke Seoul pada tahun 1986 dan terakhir kali tahun 1989 untuk keperluan training. Kota Seoul terlihat semakin berkembang dan menarik bagi orang asing.

Bicara tentang Seoul atau Korea secara umum, ada beberapa kenangan yang masih tersisa di memori saya. Yang pasti, saya tidak mungkin lupa dengan Lotte department store yang gedungnya menjadi tempat favorit bagi para turis. Di tahun 80 an saja gedung Lotte sudah terlihat megah dan komplit isinya. Tapi entah kenapa, saya paling tertarik dengan aneka permen yang dipajang di Lotte tersebut. Ternyata perasaan saya tidak salah, karena Lotte itu awalnya adalah perusahaan permen karet yang didirikan tahun 1948 di Jepang. Konon nama Lotte diambil dari dari nama tokoh CHARLOTTE dalam kisah The Sorrows of Young Werther. Pemuda Takeo Shigemitsu si pendiri perusahaan Lotte sangat mengagumi dan menjadikan gadis muda Charlotte sebagai sumber inspirasi.

Satu hal lagi yang juga tidak saya lupakan adalah cara  beroperasinya taksi di Seoul. Ketika saya menaiki taksi untuk kembali ke hotel sehabis jalan-jalan ke Lotte department store,  tahu-tahu ditengah jalan taksi saya diberhentikan orang lain dan dipersilahkan naik sama sang sopir. Saya cuma melongo dan tidak sempat bertanya kenapa penumpang lain diijinkan naik. Sempat berpikir, kok taksi disini beroperasinya ibarat angkutan umum yang boleh menaikkan penumpang lain di jalanan. Belakangan saya memperoleh penjelasan bahwa taksi disana memang begitu, kecuali kalau sedari awal kita bilang sama sopir taksinya untuk tidak sharing dengan penumpang lain, dan tentu saja bayarannya akan berbeda. Saya tidak tahu apakah pola operasi taksi sharing seperti itu masih ada sekarang.

Satu lagi hal yang berkesan buat saya adalah buah jeruk berukuran kecil yang rasanya manis sekali yang disebutkan berasal dari pulau Jeju (Jeju Island). Perlu diingat bahwa pada saat itu (tahun 80 an) buah-buahan impor masih sangat langka di Indonesia dan harganya selangit. Ketika saya masih sering bertugas ke Pekanbaru di awal tahun 90 an, banyak kios-kios buah yang menawarkan buah import seperti sunkist, apel, anggur dan pear (selundupan) dari Singapore. Buah import ini banyak diminati oleh para pelancong sebagai buah tangan ketika kembali ke kota asalnya. Kini buah-buahan impor sudah banyak kita temui di toko buah atau supermarket di kota-kota besar Indonesia.

Korea Selatan menurut hemat saya boleh dibilang sebagai salah satu pioneer dalam jiplak menjiplak produk, jadi bukan Cina. Di akhir tahun 80-an, produk branded seperti tas wanita dan sepatu merk terkenal sudah bisa ditemui imitasinya di lokasi pasar gelap Seoul. Hebatnya, produk jiplakan ini juga punya kualitas yang berbeda-beda, dari yang paling mirip sama aslinya (premium class), lalu KW1 hingga KW3. Tentu saja harga yang ditawarkan sesuai dengan kualitas yang dimiliki produk tersebut. Belakangan ternyata Cina juga mengikuti jejak Korea ini.

Nasionalisme dan semangat kerja orang Korea menurut saya tidak kalah dengan Jepang, walau mereka tidak mau disamakan dan terkesan punya "dendam" sama orang Jepang. Sewaktu pertama kali mengunjungi Seoul di tahun 1983, saya dijamu makan malam sama salah seorang teman Korea. Dia datang ke hotel tepat waktu sambil membawa buah tangan berupa gantungan kunci khas Korea, tape cassette lagu pop Korea dan jeruk Jeju yang manis itu. Lalu saya ditraktir makan di restoran Korea tentunya, sambil diterangkan menunya satu persatu. Terasa sekali betapa mereka sangat membanggakan produk dan segala sesuatu yang berbau Korea. Pertemuan malam itu diakhiri menjelang pukul 10 malam karena sahabat saya itu harus menemui customernya di pub untuk urusan bisnis. Karena melihat saya terheran-heran, dijelaskannya bahwa appointment dengan customer di malam hari untuk urusan bisnis itu hal yang biasa di Korea. Saya hanya geleng-geleng kepala, kinerja dan stamina kerja orang Korea ternyata jauh berbeda dengan rata-rata pekerja di negara kita. Di Indonesia, jam kerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore pun sering di korting, alias menghilang di tengah jam kerja.

Korean Wave, sejak kapan?
Hallyu atau Korean Wave ("Gelombang Korea") adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia. Umumnya Hallyu memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan kebudayaan Korea.

Kegemaran akan budaya pop Korea dimulai di Republik Rakyat Cina dan Asia Tenggara mulai akhir 1990-an. Istilah Hanliu, (Bahasa Korea: Hallyu) diadopsi oleh media Cina setelah album musik pop Korea, HOT, dirilis di Cina.  Serial drama TV Korea mulai diputar di Cina dan menyebar ke negara-negara lain seperti Hongkong, Vietnam, Thailand, Indonesia, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Latin dan Timur Tengah. Pada saat ini, Hallyu diikuti dengan banyaknya perhatian akan produk Korea Selatan, seperti masakan, barang elektronik, musik dan film. Fenomena ini turut mempromosikan Bahasa Korea dan budaya Korea ke berbagai negara.

Berbagai stasiun televisi Indonesia mulai menayangkan drama produksi Korea Selatan setelah RCTI yang mempelopori pemutaran drama Endless Love (Autumn in My Heart).  Para sineas drama di Korea mulai menyadari daya jual drama Korea sangat tinggi di negara-negara tetangganya sehingga produksi serial mereka menjadi komoditas ekspor.  Puncaknya terjadi saat serial Winter Sonata diputar di Jepang, Cina, Taiwan dan Asia Tenggara.  Sejak saat itu istilah "Hallyu" atau "demam Korea" muncul.

Demam Korea rupanya berdampak begitu jauh dan terkadang membuat penggemarnya berlaku di luar nalar. Lihat saja kisah Rhiannon Brooksbank-Jones, seorang pelajar kelahiran Inggris yang nekad mengoperasi lidahnya agar dapat melafalkan bahasa Korea dengan sempurna. Pasalnya, Jones yang sudah mengambil kursus bahasa Korea selama dua tahun merasa kesulitan mengucapkan beberapa kata dengan tepat.

Seorang wanita asal Taiwan yang keranjingan serial drama Korea hampir kehilangan penglihatannya. Wanita berusia 40 tahun ini dilaporkan selama tiga hari berturut-turut hanya tidur dua jam demi menyaksikan serial drama Korea kesayangannya. Seperti dikutip dari situs Soompi, setelah menyadari penglihatannya telah berubah kabur, wanita itu bergegas mendatangi rumah sakit. Ia ingin mengetahui kondisi kesehatan matanya. Seperti dilaporkan media Taiwan, ia didiagnosis menderita glaukoma ganas yang mungkin bisa membuatnya buta.

Drama Korea memang merupakan salah satu penyebab Hallyu di sejumlah negara. Drama Korea terkenal dengan ceritanya yang bagus, seru, dan selalu bikin penasaran. Membuat orang yang menggemari drama pasti tergila-gila dengan Drama Korea dan tidak sabar ingin menonton kelanjutannya, bahkan ada yang bener-bener Korea addicted, sampai-sampai berulang-ulang nonton drama Korea yang disukainya tanpa bosan, seperti drama Korea fenomenal Secret Garden yang telah meraih berbagai penghargaan (award) di tahun 2010 dan 2011.

Virus hallyu yang melanda dunia secara mengejutkan telah membuat budaya Korea menjadi barometer para penggemarnya di berbagai negara. Banyak diantara mereka yang rela melancong ke negeri ginseng yang berada di Semenanjung Asia Timur itu hanya untuk menonton konser artis idola dan berbelanja pernik-pernik Korea. Lebih hebat lagi, malah ada paket tour ke Korea untuk napak tilas mengunjungi lokasi-lokasi tempat syuting drama Korea yang populer.

Demam K-Pop rupanya bukan hanya melanda negara-negara di Asia, tetapi juga merambah ke Amerika. Salah satu girlsband yang terdiri dari 9 gadis cantik, Girl’s Generation atau SNSD membuat debut di Amerika dengan tampil pada ‘The Late Show with David Letterman‘ pada tanggal 1 Februari yang lalu.Talk show TV David Letterman ini terkenal dengan tamu-tamu selebritinya, mulai dari bintang papan atas Hollywood hingga politisi, atlet, dan penyiar berita. Program ini dianggap sebagai salah satu program TV tengah malam yang paling popular di Amerika.

Seharusnya belajar dari Korea
Apa yang ditulis diatas sesungguhnya hanya sebagian dari virus hallyu yang melanda dunia. Dalam sektor bisnis seperti segmen produk elektronika dan otomotif, K-wave juga mendominasi di banyak negara. Di jaman dahulu, ketika disebutkan nama Korea, kita biasanya teringat akan ginseng dan taekwon-do. Tapi kini, segmen industri kita dibanjiri oleh produk-produk Korea. Iklan merk seperti LG, Hyundai, Samsung misalnya, bisa kita temui dimana-mana. Lotte Mart yang bergerak di sektor retail mulai bersaing dengan outlet-outlet lokal sebagaimana hanya dengan restoran-restoran Korea.
Kita patut bertanya, apakah serangan K-Wave ini hanya faktor kebetulan atau memang merupakan hasil dari sebuah kerja keras?

Sebagai manusia yang berpikir, tentu saja kita akan cenderung menyatakan bahwa  kemajuan pesat yang dialami Korea Selatan adalah hasil dari kerja keras baik dari pemerintah maupun anak bangsanya. Banyak faktor penyebab suksesnya yang kalau dalam dunia bisnis disebut “key success factors”.

Faktor nasionalisme menurut hemat saya memegang peranan penting, disamping semangat kerja dan daya juang yang kuat. Faktor "dendam" bangsa Korea terhadap Jepang agaknya menjadi salah satu pemicu yang efektif dalam pencapaian prestasi industri mereka. Dari sisi pemerintah, sektor pendidikan sejak puluhan tahun lalu sudah diperkuat dengan alokasi dana pendidikan dan penguatan bidang matematika dan sains. Tampaknya pemerintah mereka sadar betul bahwa kekuatan SDM di bidang matematika dan sains merupakan fondasi bagi kualitas produk industrinya kelak. Di bidang hukum pemerintahnya juga “committed” dan memberantas korupsi tanpa pilih bulu. Sungguh ibarat siang dengan malam jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di negeri kita. Tapi yang paling penting dan krusial adalah faktor perencanaan yang matang dan komprehensif. Pemerintah Korea paham betul akan tujuan yang ingin dicapai dan apa fokus dan prioritasnya.

Singkat kata, kemajuan dan leadership Korea Selatan dalam hampir semua aspek adalah hasil dari kerja keras seluruh komponen bangsa mereka dengan endurance yang belum tertandingi oleh negara-negara lain. Jadi sama sekali tidak ada “magic” disini. Bukankah itu sesuai dengan prinsip “no pain no gain”?

Namun apa yang terjadi di negara kita, kondisinya sungguh kontras. Kalau faktor dendam anak bangsa Korea terhadap Jepang bisa menjadi pemicu prestasi, seharusnya kita juga bisa berbuat yang sama. Bukankah kita juga pernah lama dijajah oleh Belanda dan lalu oleh Jepang? Kenapa ya, rasa "sakit hati" itu tidak mampu kita translasikan menjadi cambuk penyemangat untuk mengalahkan negara-negara penjajah itu dalam sektor industri, SDM dan seni budaya seperti halnya kasus Korea? Apa yang terjadi di bumi pertiwi belakangan ini justru tumbuh kembangnya perilaku oportunis, hedonis dan prinsip yang ingin serba instan, tapi tidak mau bekerja keras.
Nah, ini kan jelas-jelas melanggar konsep sunnatullah. Yang namanya keberhasilan dan kesuksesan itu tidak ujug-ujug jatuh dari langit, tapi harus melalui proses. Saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya mukjizat seperti yang dikaruniai  Tuhan kepada para Nabi di masa lalu.

Annyeonghaseyo kawan-kawan ...

Ciputat, 11 Februari 2012.

Saturday, January 14, 2012

MEMAHAMI GENERASI Z DI ERA SERBA DIGITAL

Anda sering melihat anak remaja di jalanan, di sekolah, di tempat umum atau bahkan di rumah dengan earphone atau headphone yang menempel di telinganya? Itulah salah satu ciri Generasi Z, yang sulit dipisahkan dari handphone dan portable MP3 Player dalam kehidupannya, yang seolah-olah tidak bisa melepaskan diri dari musik. Mereka terkesan cuek atau bisa dibilang budek, karena ketika dipanggil orang tuanya seringkali tidak memberi respon saking asyiknya menikmati suara musik di telinganya.

Entah siapa yang memprakarsai istilah generasi Z ini, tetapi menurut literatur penggolongan generasi telah dimulai sejak tahun 1965, tatkala barang-barang konsumsi seperti perangkat teknologi mulai diproduksi secara masal di Amerika.

Setiap generasi periodenya sekitar satu dekade atau atau lebih, memiliki keunikan karakteristik masing-masing. Generasi yang awal dinamai Baby Boomers. Mereka itu merupakan kelompok masyarakat yang hidup setelah Perang Dunia II (dari 1946 hingga 1964). Konon diberi nama Baby Boomers karena semasa hidupnya generasi ini terjadi peningkatan jumlah kelahiran di seluruh dunia. Pada generasi ini mulai dikenal TV hitam putih.
Berikutnya adalah Generasi X (mereka yang lahir dari tahun 1965 hingga 1980). Mereka yang lahir pada generasi ini bertumbuh kembang dengan video games dan MTV, serta menghabiskan  masa remajanya di tahun 80-an.
Sesudahnya muncul Generasi Y, (dari 1981 hingga 1995)  yang lebih dikenal dengan generasi Milenium. Mereka berkembang seiring dengan banyaknya kemajuan dunia, diantaranya perkembangan komunikasi massa dan awalnya Internet.
Generasi terkini adalah Generasi Z, anak-anak yang lahir sesudah tahun 1994. Ada pendapat lain yang menyebut bahwa Generasi Z dimulai dari tahun 1990.
Yang jelas, Generasi Z atau terkadang disebut juga Generasi Net adalah mereka yang hidup pada masa digital, atau lebih spesifik “native digital”.

Berbagai artikel yang mengulas subyek ini rata-rata menuliskan bahwa  karakteristik yang menyolok dari Generasi Z antara lain adalah mereka yang
  1. Punya akses yang cepat terhadap informasi dari berbagai sumber
  2. Mampu ber-multitasking (mengerjakan beberapa aktivitas secara bersamaan)
  3. Lebih menyenangi hal-hal yang berbau multimedia
  4. Lebih suka berinteraksi di jejaring sosial seperti facebook, twitter, Yahoo Messenger dan  BBM
  5. Dalam belajar, lebih menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan
Sesungguhnya tidak perlu heran terhadap kekhasan karakteristik Generasi Z diatas, karena mereka lahir pada era dimana Internet mulai berkembang dan tumbuh sejalan dengan perkembangan media digital elektronik. Jadi wajar kalau mereka akrab dengan piranti digital seperti handphone, laptop dan gadget elektronik mutakhir lainnya.

Di satu sisi kita boleh kagum akan kecepatan Generasi Z beradaptasi dengan dunia digital. Mereka tidak perlu lagi ikut kursus komputer sebagaimana halnya generasi orang tuanya. Para orang tua zaman sekarang bisa tercengang melihat kepiawaian anak-anaknya berchatting ria di dunia maya, mengetik cepat diatas toets smartphone atau mencolek layar tablet PC. Tidak jarang kita lihat orang tua yang justru berguru kepada sang anak bagaimana cara berkomunikasi di dunia maya.

Tetapi generasi ini harus patuh kepada analogi hukum kekekalan energi, bahwa dimana ada keunggulan pasti ada kelemahan. Karena terbiasa dengan dunia digital yang umumnya serba instan, anak-anak yang terlahir di era generasi Z biasanya tidak terlalu suka dengan proses, mereka tidak sabaran dan ingin segalanya serba instan. Makanan instan pun jadi kegemaran mereka. Makanya anak-anak generasi Z umumnya tidak paham dengan proses.

Kondisi ini bukan salah mereka, tapi memang situasi zaman yang telah berubah. Kalau di era pra-digital kita terbiasa dengan kamera foto analog dengan film 35mm yang harus melalui proses cuci cetak, anak-anak generasi Z justru akrab dengan digital camera yang bisa menghasilkan gambar foto secara instan yang bisa langsung dicetak ke kertas dalam hitungan menit saja. Mereka tidak paham dengan cara pembuatan foto yang harus melalui proses pencucian film foto di kamar gelap. Kini banyak kita temui anak-anak yang belajar animasi dan desain tanpa memiliki skill menggambar, sesuatu yang sukar dilakukan pada era pra komputer digital. Padahal idealnya mereka harus melalui proses belajar menggambar dahulu sebelum beranjak ke tingkatan yang lebih tinggi, sebagai designer. Keinginan serba instan ini pula yang menjerumuskan sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) muda yang tergiur mengambil jalan pintas untuk menjadi kaya secara instan. Tidak percaya? Coba saja simak pemberitaan beberapa media cetak dan elektronik belakangan ini yang mengangkat topik “rekening gendut PNS muda”.

Era digital juga membuat Generasi Z kurang trampil dalam berkomunikasi verbal. Mereka terbiasa berkomunikasi dengan gadget elektronik, apakah melakukan chatting via messenger atau SMS. Saya pernah memergoki dua kakak beradik tengah berkomunikasi via chatting, padahal mereka berada di satu ruangan, malah duduk berdekatan. Ini sih kebangetan pikir saya, karena mereka kan bisa saja berkomunikasi secara langsung. Jadi jangan heran kalau ada yang menamakan generasi ini dengan istilah silent generation.

Kegemaran akan dunia maya inilah yang menjadi sasaran kritik para humanis seperti Mark Slouka. Anak-anak generasi Z menjadi sulit untuk membedakan antara realitas nyata dengan realitas maya. Seperti yang pernah saya singgung dalam artikel “teknologi maju dan alam yang terkembang”, mereka tidak akrab dengan alam. Mereka melihat dunia dari balik kaca belaka.

Konon dampaknya Generasi Z akan benar-benar dirasakan sekitar tahun 2020, ketika mereka berusia sekitar 25 tahunan, saat memasuki dunia kerja. Mereka diyakini akan sangat tergantung kepada perangkat digital untuk hampir seluruh aktivitasnya. Bagi Generasi Z, kecepatan (speed) adalah kunci keberhasilannya, sejalan dengan kegemaran mereka terhadap yang serba instan. Siapa yang paling cepat memperoleh informasi, memasuki pasar, akan memenangi pertarungan. Ironinya, kecepatan itulah yang dapat membuat mereka terisolasi dari alam nyata, seolah pohon yang tercerabut akarnya, terlepas dari tanah.

Maka para orang tua masa kini memliki tantangan baru, yaitu bagaimana untuk menyikapi anak-anak generasi Z dengan bijak. Orang tua selain harus menjaga komunikasi dua arah dengan sang anak, kini juga harus bisa menjelaskan kepada si anak bahwa proses itu merupakan aspek penting, jangan dilupakan. Bahkan konsep dasar bekerjanya sebuah komputer modern  sekalipun adalah INPUT – PROSES – OUTPUT.

Ciputat, 14 Januari 2012.

Sunday, January 8, 2012

Antara Teknologi Maju dan Alam Yang Terkembang

  Pepatah “Belajar dari alam yang terkembang” agaknya perlu dirunut ulang atau direvisi kembali. Bukannya mengingkari leluhur atau mau sok pintar, tapi saya hanya merasa kesulitan untuk mewujudkan himbauan bijak itu di abad modern, abad serba hi-tech saat ini.

Falsafah arif diatas sesungguhnya telah teruji berabad-abad dan diamini oleh banyak pemikir di bumi nusantara ini, itu tidak mungkin salah. Mewujudkan harapan untuk dekat dengan alam, semestinya tidak susah-susah amat tentunya. Mereka yang hidup di alam pedesaan, di lereng gunung Merapi misalnya, pasti paham sekali betapa bijaksananya para orang tua kita tempo doeloe. Sungguh banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik oleh manusia yang katanya ciptaan Allah paling mulia ini, dari peristiwa yang terjadi di alam semesta.

Di abad-abad silam, nenek moyang kita bisa hidup tenang dan akrab dengan alam. Mereka bertani tanpa merusak gunung dan ekosistem, padahal mereka tidak pernah duduk di sekolah tinggi atau magister pertanian manapun. Mereka melaut dan menangkap ikan tanpa merusak terumbu laut atau mengotori laut dengan sampah manusia.

Kini, pendidikan manusia di dunia telah sedemikian majunya. Di kota-kota besar kita bisa lihat dengan kasat mata betapa banyaknya dan sekolah-sekolah tinggi yang menawarkan gelar yang ditengarai akan meningkatkan harkat dan martabat si penyandangnya. Syaratnya cuma satu, harus punya kocek yang cukup tebal. Lha jelas tokh? Apapun harus pake duit di jaman hi-tech dan hedonis ini.

Tapi bukan cuma pendidikan umum saja yang berkembang pesat. Di negeri ini sekolah-sekolah agama tidak mau kalah, juga bertaburan. Tidak cukup dengan itu, kelompok pengajian, kelompok zikir pun belakangan ini semakin banyak kita temui di hampir semua kota besar bumi pertiwi ini. Kita tentu akan bersyukur dalam hati, bahwa ternyata kehidupan manusia Indonesia bukan melulu mengejar materi dan duniawi, tetapi juga urusan spiritual.

Namun ironinya, apa yang kita saksikan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari sungguh membuat cemas hati ini.
Manusia yang seharusnya paripurna ini, yang telah mengenyam pendidikan tinggi dan rohaninya berisikan ayat-ayat Allah, kok masih banyak yang berperilaku anomali, yang melanggar rambu-rambu Sang Pencipta serta merusak alam ciptaan-Nya? Kehidupan yang modern serta teknologi tinggi membuat si manusia lupa diri, ibarat kacang yang lupa pada kulitnya, melupakan alam semesta yang memayungi dan melindunginya.

Seyogyanya seseorang yang memiliki pendidikan tinggi itu semakin arif dan bijaksana. Bukankah ada pepatah, bahwa padi itu semakin berisi semakin merunduk. Tapi apa yang kita saksikan saat ini, rata-rata kejahatan dan penyelewengan kelas kakap di kota-kota besar, pelakunya justru mereka yang status dunianya terhormat, orang-orang terpelajar. Mereka pun menjarah masuk ke pelosok, ke daerah-daerah terpencil yang memiliki kekayaan alam melimpah. Alam pun dikuras dan dirusak, demi untuk memuaskan nafsu lawwamah mereka. Astaghfirullah!

Allah sesungguhnya Maha Tahu, sehingga jauh-jauh hari telah mengingatkan umatnya untuk tidak merusak alam. Lihat saja salah satu penggalan terjemahan firman-Nya berikut ini:
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42

Juga di dalam surat Al Baqarah Allah SWT telah memberi peringatan: “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. 2 : 11).

Intinya, ternyata pendidikan tinggi itu tidak serta merta berbanding lurus dengan perilaku dan pribadi seseorang. Banyak diantara kita yang seolah pohon yang telah tercerabut dari akarnya, sehingga tidak lagi akrab dengan alam.
Ada yang menyalahkan teknologi yang saking majunya membuat manusia lupa diri, lupa  segalanya.
Ah, masa iya sih?

Baiklah kita longok sejenak, dunia modern dewasa ini yang bisa membuat teknologi menjadi kambing hitam. Tentu banyak diantara kita yang telah pernah mendengar istilah cyberspace (dunia maya). Perkembangan teknologi satu dekade terakhir ini nyaris mencengangkan orang awam dan membuat cemas para humanis yang mencermati pesatnya pergerakan teknologi ini terutama di era Internet saat ini.

Salah satu humanis yang gencar mengumandangkan kegalauan hatinya terhadap perkembangan teknologi ini adalah Mark Slouka, seorang dosen di bidang sastra dan budaya di Universitas California, San Diego. Dalam bukunya, War od the Worlds: Cyberspace and the High-tech Assault on Reality (terjemahan Indonesianya berjudul Ruang Yang Hilang: Pandangan humanis tentang Budaya CYBERSPACE Yang Merisaukan). Mark mengungkapkan kegelisahannya terhadap realitas maya yang begitu digandrugi manusia modern. Ia begitu risau melihat betapa banyaknya orang yang tergiur dengan cyberspace ini sehingga rela menghabiskan waktunya berjam-jam untuk chatting (bercengkerama) dengan teman-maya yang tidak dikenalnya. Teknologi cyberspace ini ternyata lebih maju dari pemikiran manusia secara umumnya. Ia menawarkan opsi buat para penggunanya untuk bergaul di dunia maya tanpa menunjukkan identitas aslinya, sehingga seseorang akan semakin bebas untuk berekspresi dan beraksi di pentas fiktif itu. Kita bahkan bisa memanipulasi gender dimana seorang pria dewasa bisa saja mengaku sebagai gadis remaja dengan menggunakan atribut palsu. Mereka begitu menikmati peran tersebut dan meyakini itu sebagai kenyataan, sehingga tidak heran jika ada yang punya pacar di dunia maya. Mereka bebas melakukan apa saja tanpa kawatir kepergok Hansip sehingga populerlah apa yang disebut cybersex, cyberorgasm, cybermasturbation dll. Dan karena semua serba maya, bisa jadi seorang pria yang menyaru sebagai anak gadis, berpacaran dengan anak muda di dunia maya (padahal mungkin saja pacarnya itu adalah seorang pria tua yang menyamar jadi anak muda).

Sebagian besar mereka ini sesungguhnya paham bahwa realitas sesungguhnya bisa saja berbeda dengan yang digelutinya di alam maya ini, tetapi mereka tampaknya begitu menikmati itu dan umumnya tidak lagi tertarik untuk bertatap muka (copy darat). Bagi mereka ini tampaknya batasan antara dunia realitas dengan dunia maya sudah blur, sudah tidak jelas lagi.

Kini pertanyaannya, apakah ketidak jelasan batasan antara dunia realitas dengan dunia maya hanya dilakukan oleh mereka yang rajin chatting saja? Jawabannya jelas tidak.
Coba simak dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Betapa banyak orang, dari anak-anak hingga orang tua yang akrab dengan gadget seperti handphone. Ketika berada didalam angkutan umum, sewaktu berbelanja di mall, ketika dirawat rumah sakit, atau (maaf) di dalam toilet, mereka bisa dengan enteng berkomunikasi dengan teman, pacar atau orang tuanya di manapun, sejauh sinyal handphone bisa ditangkap. Seorang tokoh yang menjadi moderator di sebuah seminar diam-diam bisa berchatting ria melalui gadget mungil ditangannya sementara pemakalah tengah memberikan paparannya.

Fenomena diatas sesungguhnya menunjukkan betapa kita (manusia) dewasa ini sudah masuk ke alam cyber, suka atau tidak suka. Seorang suami yang sedang berada dalam department store di Eropa, bisa berkomunikasi dengan isterinya melalui handphone untuk menanyakan barang yang akan dibelinya, apakah sudah sesuai dengan kemauan sang isteri. Bahkan kalau perlu barangnya bisa difoto dulu dengan Blackberry, lalu dikirim via BBM agar bisa dikonfirmasi sang isteri bahwa memang itu yang dimauinya. Dalam hitungan detik ia bisa memperoleh kepastian dan tidak akan terjadi kesalahan dalam berbelanja. Semua dilakukan serba instan, bukan jamannya lagi berkomunikasi via kartu pos atau surat. Selamat tinggal kantor pos.

Apa yang kita bahas diatas menunjukkan betapa seseorang bisa berada di dua tempat sekaligus. Saya secara fisik sedang berada di Jakarta, dalam ruang kelas misalnya, tetapi pada saat yang sama bisa berada di lokasi yang nun jauh disana. Dengan bantuan perangkat komunikasi saya bisa bincang-bincang dengan sahabat saya yang lagi berada di tepi danau Sentani,  Jayapura. Bahkan bisa turut menyaksikan keindahan danau tersebut secara visual dengan bantuan komunikasi 3G. Alam pikiran saya telah hadir di Papua sementara saya tengah berada di dalam kelas di Jakarta.

Beberapa tahun lalu, ketika salah seorang teman berkisah tentang kemampuan kakeknya yang diyakini bisa berada di dua lokasi pada satu saat yang bersamaan, saya hanya mengomentarinya dengan senyum. Sungguh sebuah cerita yang sulit diterima akal. Ketika itu saya tidak mampu untuk mencerna dan mempercayai kisah tersebut. Padahal cukup banyak cerita semacam itu yang disampaikan para orang tua kita jaman dahulu. Saya menganggapnya sebagai bumbu cerita saja.

Namun ketika tidak sengaja membaca buku “The Science and Miracle of Zona Ikhlas” dari Erbe Sentanu yang menyinggung soal teori dan alam kuantum, saya jadi terpana. Buku tersebut ditulis dalam bahasa populer yang menarik dan memuat banyak konten ilmiah termasuk tentang fisika kuantum. Disitu disebutkan bahwa di dalam alam yang berisikan benda-benda kuantum yang sangat sulit dilihat (quanta) berlaku prinsip-prinsip:
  1. Keterkaitan quantum entanglement (bahwa kita semua saling bertautan dalam zona informasi raksasa)
  2. Adanya pusat informasi raksasa yang merekam semua perubahan dan pergerakan yang terjadi pada setiap atom di alam semesta.
  3. Kita dan seluruh alam sebagai bagian dari jaringan komunikasi raksasa itu di tingkat atom memiliki fungsi seperti antena untuk menerima dan mengirim informasi dari dan ke penjuru jagat raya.
  4. Kecerdasan prinsip-prinsip non-lokal diatas menjelaskan bahwa di tingkat kuantum; semua benda di seluruh alam sesungguhnya juga berada di tempat lain pada saat bersamaan.
Poin nomor 4 diatas merupakan sesuatu yang hampir tidak pernah kita dengar (sebagai orang awam). Statement diatas diperkuat oleh ilmuwan Marcus Chown berikut ini:
“Ini bukan fantasi teoritis. Dalam eksperimen telah dibuktikan bahwa photon atau atom bisa berada di dua tempat sekaligus – hal itu setara dengan Anda berada di San Fransisco dan di Sydney pada saat yang sama.”

Kalau begitu, tampaknya para leluhur kita telah sangat paham dengan alam semesta sehingga bisa melebur dan memanfaatkan prinsip yang berlaku di alam kuantum. Sementara soal keakraban dengan alam semesta sesungguhnya merupakan isu besar pada era cyberspace ini.

Nenek moyang kita dan mereka yang hidup di pedalaman dan belum tersentuh teknologi lebih mampu memahami perilaku dan sifat-sifat alam karena mereka sehari-hari bergaul dengan alam. Seorang petani akan dekat dengan alam karena setiap hari bercocok tanam, paham dengan bau khas tanah, warna dan tekstur tumbuhan obat di lokasinya. Sementara mereka yang melewati daerah itu dengan kendaraan bermotor, akan memperoleh pengalaman (moment of truth) yang berbeda. Ia tidak mungkin dapat merasakan bau atau apalagi menyentuh pepohonan yang dilewatinya. Kecepatan gerak telah menjauhkan kita, menciptakan jarak dengan alam. Dalam komentarnya Mark Slouka dikatakan bahwa kendaraan (mobil) telah mengisolasi kita; dunia yang berada di balik kaca jendela – apakah itu padang rumput ataukah ladang pertanian – tampak tidak nyata. Pada kecepatan supersonik keterceraian itu menjadi sempurna. Pemandangan dari ketinggian 10.000 meter adalah sebuah abstraksi, tidak serupa dengan kenyataan, hanya bak lukisan belaka. Sehingga tentu saja akan sulit untuk mengharapkan manusia modern yang tidak akrab dengan alam, untuk menimba pelajaran dari alam yang terkembang. Mereka jarang sekali memperoleh moment of truth, pengalaman berinteraksi dengan alam. Di mata mereka, pengalaman itu sama saja dengan apa yang mereka saksikan di realitas maya seperti visualisasi video/film sehari-hari. Padahal itu bukanlah realitas nyata karena mereka sesungguhnya telah tersolir dari alam, pemandangan yang disaksikannya dari balik kaca.

Maka tidak heran jika banyak anak-anak dari kota besar yang menjadi cerewet dan antusias ketika diajak orang tuanya menyusuri alam pedesaan yang hijau, bertanya tentang tumbuhan atau hewan yang tidak pernah dijumpainya di tempat mereka dibesarkan. Mereka bisa menikmati dan menyentuh bunga, merasakan sejuknya embun pagi, menangkap kupu-kupu indah atau mungkin dikejutkan oleh melintasnya hewan liar. Inilah realitas nyata yang masih belum bisa disaingi oleh dunia cyber. Tapi kalau teknologi sudah bisa menemukan cara untuk mentransmisikan rasa dan bau, saya tidak bisa lagi membayangkan bagaimana kondisi kehidupan di dunia ini nantinya. Di masa depan, seorang gadis yang sedang bercakap-cakap dengan pacarnya melalui komunikasi video tidak bisa lagi berbohong bahwa ia telah memakan petai, karena aroma petainya tercium sama sang pacar di ujung sana. 

Kini semuanya terpulang kepada si manusianya. Begitu banyak fasilitas dan kemampuan teknologi yang tersedia. Tinggal kita saja yang harus menentukan, apakah itu akan digunakan untuk kemaslahatan manusia atau digunakan untuk merusak dan membuat kemudaratan.

Ciputat, 8 Januari 2012.

Saturday, December 24, 2011

Lembah Harau, Potensi Wisata Yang Nyaris Terlupakan

Lembah Harau tahun 1910 (koleksi KITLV Leiden, Belanda)

Subhanallah, alangkah indahnya!
Itulah decak kagum dari beberapa teman yang baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di Lembah Harau yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Koto, sekitar 15 kilometer dari Payakumbuh atau 47 km timur laut Bukittinggi, Sumatra Barat.
Betapa tidak? Di hadapan kami terpampang lukisan alam yang nyata-nyata menunjukkan kebesaran Sang Pencipta.

Pemandangan ini membuat saya teringat akan kisah-kisah silat Kho Ping Hoo yang acap kali mengungkapkan keindahan alam pegunungan dengan kalimat-kalimat yang mempesona. Coba simak bagaimana Kho Ping Hoo merangkai kalimat kekagumannya terhadap keindahan alam dalam salah satu cerita silatnya,
“kata-kata tidak ada artinya lagi untuk menggambarkan keindahan. Kata-kata adalah kosong, penggambaran yang mati, sedangkan kenyataan  adalah hidup, seperti hidupnya setiap helai daun di antara jutaan daun yang bergerak lembut dihembus angin pagi”.
“Daun-daun pohon yang lebat seperti baru bangkit dari tidur, nyenyak dibuai kegelapan malam tadi, nampak segar bermandikan embun yang membentuk mutiara-mutiara indah di setiap ujung daun dan rumput hijau”. 
Memang sukar untuk menggambarkan keindahan alam di Lembah Harau yang telah ditetapkan sebagai cagar alam dan suaka margasatwa ini.

 
Sepanjang perjalanan kita seolah-olah memasuki celah benteng yang terbentang tinggi. Soalnya Lembah Harau diapit dua bukit cadas yang terjal dengan ketinggian lebih dari 100-200 meter. Cagar Alam Harau dengan ketinggian sekitar 500 sampai 850 meter dari permukaan laut ini terdiri dari beberapa bukit, seperti Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang. Kita akan terpesona oleh keindahan pahatan alam berupa tebing-tebing granit yang terjal dan berbentuk unik yang menjulang tinggi mengelilingi lembah.
Di dasar tebing, hijaunya sawah yang membentang dan rimbunnya pepohonan membuat kita semakin larut dalam kekaguman akan ciptaan-Nya. Lembah Harau semakin memukau dengan adanya sejumlah air terjun (sarasah) yang cukup deras airnya, terutama di musin hujan.

Sarasah Aka Barayun
Air terjun yang sering didatangi pengunjung adalah Sarasah Aka Barayun yang (dulunya) memiliki tiga air terjun deras yang bermuara pada satu kolam alam besar. Lalu ada resort Sarasah Bunta yang lokasinya di bagian timur Aka Barayun. Menurut Wikipedia, Resort Sarasah Bunta terdiri dari 4 air terjun (Sarasah Aie Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murai dan sarasah Aie Angek). Dinamakan Sarasah Aie Luluih karena pada air terjun ini airnya mengalir melewati dinding batu jatuh ke kolam pemandian alami yang asri. Dinamakan Sarasah Bunta karena  sarasah ini mempunyai air terjunnya yang berunta-unta indah seperti bidadari yang sedang mandi apabila terpancar sinar matahari siang. Sedangkan Sarasah Murai karena seringnya didatangi burung murai untuk mandi sambil memadu kasih, dinamakan penduduk setempat dengan “Sarasah Murai“. Sarasah Aie Angek memang belum populer karena lokasinya agak jauh ke utara dari sarasah Murai. Menurut pengakuan penduduk setempat airnya agak panas.

Sebagai hal yang lazim kita jumpai di negeri ini, berbicara tentang lokasi atau kejadian seringkali tidak lepas dari legenda. Begitupun dengan Lembah Harau, ia mempunyai legenda sendiri. Menurut hikayat warga setempat, pada jaman dahulu di atas tebing yang menjulang tinggi terdapat sebuah kerajaan, sedangkan lembahnya masih merupakan lautan. Suatu ketika, putri kerajaan tersebut memilih untuk terjun ke laut karena tidak memperoleh ijin orang tuanya untuk menikah dengan lelaki yang disukainya. Sang raja lalu memerintahkan rakyatnya mencari jasad sang putri. Namun hingga laut dikeringkan, jenazah sang putri tetap tidak ditemukan. Kini lautan itu telah menjadi daratan dan dinamai Lembah Harau dengan segala keindahan alamnya.
Lembah Harau sesungguhnya sudah lama menjadi tempat wisata, walaupun fasilitas bagi wisatawan di lokasi tersebut terkesan sangat bersahaja.  Sebuah monumen peninggalan Belanda yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta merupakan bukti bahwa Lembah Harau sudah sering dikunjungi wisatawan sejak 1926.   

Lembah Harau yang sebetulnya merupakan salah satu potensi wisata daerah Sumbar belum digarap secara optimal, sehingga tidak heran jika teman SMP saya di Padang, Cau Ahda Yanuar berkomentar, “ambo alah 56 tahun baru sakali iko datang kamari”. Ironis bukan?

Ciputat, 24 Desember 2011.

Wednesday, December 7, 2011

Makam-makam Tua di Barus, Tapanuli Tengah

Kota Barus terletak di pantai barat pulau Sumatera, sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga, berada di sebelah selatan Kecamatan Singkil, Aceh Selatan. Barus dapat dicapai dengan  menggunakan pesawat udara dari Medan ke Sibolga selama 30 menit dan dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Sibolga selama 2 jam lagi menuju Barus. Atau bisa juga melalui perjalanan darat dengan minibus travel dari kota Medan, ke Barus selama 9 jam.

Kota Barus dan Samudera Indonesia dilihat dari Kompleks Makam Papan Tinggi

MAKAM PAPAN TINGGI

Pemakaman tua pertama yang konon dianggap paling tua berada di sebuah bukit hijau nan terpencil. Makam ini berlatar belakang panorama kota Barus dan Samudra Indonesia di sisi barat, berada diatas ketinggian 153 meter diatas permukaan laut. Badan bukit menuju makam cukup terjal, memiliki kemiringan hingga 45 derajat, cukup sulit untuk didaki. Bantuan lebih dari tujuh ratus anak tangga sepanjang 225 meter tidak mampu mengurangi rasa lelah peziarah untuk mencapai puncaknya.

Masyarakat Barus menyebutnya Makam Papan Tenggi. Dalam bahasa Indonesia diartikan Makam Papan Tinggi. Dahulu, bukit ini merupakan daerah pengambilan kayu oleh masyarakat yang akan dijadikan bilah-bilah papan. Sejak hadirnya sebuah pemakaman, maka tempat ini dinamakan Makam Papan Tinggi.
Lokasi Makam Papan Tinggi berada di sebuah bukit yang terletak di sisi timur Jalan Raya Barus – Manduamas. Secara administratif makam ini berada di dusun Lobu Tua, Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Makam Papan Tinggi merupakan kompleks pemakaman tua Islam seorang tokoh penyebar agama Islam pertama di Sumatera Utara. Pada kompleks Makam Papan Tinggi terdapat makam istimewa yang memiliki panjang 9 meter, dengan nisan setinggi 1,5 meter. Di sekeliling makam panjang terdapat beberapa makam sederhana dimana nisan makam berupa batu yang ditegakkan tanpa adanya tanda sama sekali. Makam Papan Tinggi diperkirakan didirikan ada tahun 1239 M berdasarkan tulisan yang tertera pada pilar di dekat makam panjang. Kompleks makam dikelilingi pagar dan dinaungi pohon besar. Dahulu, di depan pagar tertanam guci keramat yang mengaliri air tanpa henti meski pada musim kemarau. Kini hanya tinggal berupa lubang tanah berbentuk kotak sedalam 20 sentimeter.

Makam Syekh Mahmud di Makam Papan Tinggi

Sejarahwan kota Barus, Djamaluddin Batubara mengatakan, tokoh utama yang dimakamkan di Makam Papan Tinggi adalah Sykeh Mahmud, penyebar agama Islam yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Makam beliau berupa makam panjang, dengan batu nisan putih setinggi 1,5 meter berukir aksara Persia dan Arab kuno.
Belum diketahui secara pasti tahun kedatangan Syekh Mahmud ke tanah Barus. Namun melihat corak nisan makam dan jenis kaligrafi yang tertulis, serta unsur arkeologis lainnya, diperkirakan Syekh Mahmud telah hadir di Barus sejak abad ke-9 Masehi.

Mengenai kota Barus sendiri, dahulunya merupakan kota pelabuhan terbesar yang pernah ada di nusantara, jauh sebelum adanya Bandar Malaka dan Samudera Pasai di tanah rencong. Barus mengokohkan dirinya sebagai penghasil kapur barus (kamper) yang terkenal hingga seluruh dunia. Sehingga kota ini dinamakan Barus.
Sejarah mencatat, sejak abad ke-9 kota Barus sudah dikenal sebagai kota dagang. Di masa itu komoditi yang sangat digandrungi semisal buah pala, cengkeh, lada, kulit manis, merica, kemenyan dan kayu bulat, diperdagangkan di Barus. Konon bahan-bahan pembalseman para raja Mesir didatangkan dari Barus.

Barus yang dikenal sebagai kota perdagangan antarbangsa, sangat dimungkinkan terjadinya kotak budaya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Berkenaan dengan itu pula, berdatangan rombongan mubaligh asal tanah Arab ke negeri niuntuk tujuan penyebaran agama Islam yang dilatarbelakangi perdagangan. Para mubaligh menghabiskan waktunya untuk syiar Islam di daerah baru. Mereka menopang hidupnya dengan berdagang.

Hadirnya Sykeh Mahmud di tanah Barus merupakan salah satu tesis tentang keberadaan penyebar Islam sejak agama ini pertama kali disyiarkan. Arkeolog dan ahli kaligrafi Arab kuno asal Perancis, Prof. Dr. Ludwig Kuvi menyatakan dengan tegas bahwa bukti arkeologis berupa pahatan batu nisan makam Syekh Mahmud menunjukkan beliau adalah seorang pendatang yang telah lama tinggal di Barus. Batu nisan makam Syekh Mahmud bukan batu biasa yang digunakan oleh penduduk Barus, melainkan sejenis batu yang didatangkan dari India. Maka, hampir mustahil Syekh Mahmud seorang biasa yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat Barus. Ukiran batu ayat-ayat Al-Qur’an dan pesan singkat yang Nampak samar memberi isyarat bahwa beliau seorang mubaligh besar.

Teori kedatangan Syekh Mahmud di tanah Barus diperkuat dengan pembuktian yang dilakukan oleh sejarahwan Belanda, Dr. Ph. S. Van Ronkel. Sejarahwan Belanda ini menyatakan Syekh Mahmud merupakan penyebar ajaran Islam yang pertama di Tapanuli. Da’wah Syekh Mahmud berhasil menyentuh tokoh etnis Batak, Raja Guru Marsakkot, yang akhirnya memeluk agama Islam.

Salah satu ukiran batu pada nisan makam Syekh Mahmud yang berbunyi: “Fa Kullu Syai’un Halikun Illa Wajhullah” yang berarti, “Maka segala sesuatunya hancur kecuali Dzat Allah”. Menurut Djamaluddin Batubara, nilai Islam yang disampaikan Sykeh Mahmud kepada masyarakat Barus adalah ajaran Tauhid, yakni mengajak masyarakat pesisir Tapanuli untuk meng-esa-kan Tuhan, Allah SWT.

Mencermati posisi makam Syekh Mahmud yang berada di atas bukit, diperkirakan bahwa beliau adalah guru bagi pengikutnya yang dimakamkan di Makam Mahligai. Terdapat 43 makam para ulama yang berada di kompleks Makam Mahligai. Daintaranya adalah makam Syekh Rukunuddin, kompleks makam Bukit Hasan, makam Tuanku Ambar, makam Tuan Kepala Ujung, makam Tuan Sirampak, makam Tuan Tembang, makam Tuanku Kayu Manang, makam Tuanku Makhdum, makam Syekh Zainal Abidin Ilyas, makam Syekh Ahmad Khatib Siddiq, dan makam Imam Mua’azhamsyah.

Tidak mudah bersiarah ke Makam Papan Tinggi. Sebelum menaiki tangga, peziarah disyaratkan untuk bersuci di kaki bukit yang telah tersedia pancuran air. Kemudian peziarah menaiki seribu anak tangga yang dibangun permanen. Perlu ketangguhan fisik untuk menaiki anak-anak tangga yang curam dan menanjak. Namun tangguh secara fisik saja tidak cukup, diperlukan pula niat ikhlas untuk mengunjungi makam Syekh Mahmud yang berada di puncak bukit. Sebab bila niatnya tidak tulus, apalagi disertai niat syirik, maka sulit untuk dapat mencapai puncak bukit Makam Papan Tinggi.

MAKAM MAHLIGAI



Tim arkeologi dari Ecole Francaise D’extreme-Orient, Perancis yang bekerja sama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua – Barus, memberikan telaah baru mengenai sejarah Islam datang ke nusantara. Adanya data-data arkeologis sekitar abad ke-9 sampai 12 Masehi, membuktikan bahwa Barus telah berkembang menjadi kota perdagangan dengan struktur masyarakat multi etnis yang terdiri dari masyarakat Batak, Minangkabau, Bengkulu, Jawa bahkan Bugis, termasuk bangsa asing dari negeri India, Arab, Cina, Tamil dan sebagian kecil Afrika.

Bukti adanya masyarakat multi etnis ini berupa temuan aneka keramik, guci dan batu mulia yang berkualitas tinggi yang telah berusisa ratusan tahun. Bukti ini menunjukkan kesejahteraan masyarakat Barus ketika itu sudah makmur.
Heterogenitas masyarakat kota Barus bertumpu kepada kehidupan ekonomi yang bersandar kepada perdagangan antar bangsa. Berbagai kooditi rempah-rempah tersedia di Barus, terutama kapur barus yang berkualitas tinggi. Letak Barus yang berhadapan dengan lautan luas memudahkan para pedagang dari berbagai negeri berdatangan. Saat itu pelabuhan Samudera Pasai belum dikenal perdagangan dunia.

Banyaknya para saudagar asal Arab yang menetap di Barus menciptakan kemakmuran yang tinggi di daerah ini. Beberapa diantara mereka pernah menjadi utusan dari Bani Umayyah untuk Kerajaan Sriwijaya, sehingga diantara kalangan saudagar Arab sendiri diangkat seorang pemimpin. Sikap terbuka, bersahabat dan kekeluargaan yang ditunjukkan oleh para penguasa bandar kepada kalangan masyarakat lokal, menjadikan mereka begitu terpandang, sehingga mampu menjalin hubungan baik dengan para raja, adipati ataupun pembesar Kerajaan Sriwijaya. Beberapa diantaranya menerima Islam sebagai keyakinan baru. Bukti kemakmuran masyarakat yang didiami saudagar Arab berupa situs makam tua bertarikh abad ke-8 Masehi yang menguatkan keberadaan komunitas Muslim mapan di Barus.

Berdasarkan teori sosiologi, pengelompokan makam yang dibangun merata dan teratur berdasarkan ukuran tertentu di daerah tertentu, membuktikan status tokoh-tokoh yang dimakamkan. Sejarah selalu mencatat, hanya orang-orang besar yang memiliki pemakaman khusus. Dengan demikian kompleks pemakaman ini membuktikan entitas masyarakat muslim di tanah Barus yang telah ada ratusan tahun silam.

Kompleks pemakaman tua ini bernama Makam Mahligai, tidak berapa jauh dari Makam Papan TInggi. Pada kompleks makam ini, terdapat 43 nsan tua yang berukir aksara Arab kuno dan Persia.
Konon, nama makam ini diambil dari sebuah istana kecil pada zaman dahulu yang dibangun oleh Tuan Syekh Abdul Khatib Siddiq. Setelah wafat, Syekh Siddiq dimakamkan di Makam Mahligai. Selain beliau, sejumlah ulama besar penyebar Islam lainnya dimakamkan disini, diantaranya Syekh Rukunuddin, Syekh Ushuluddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Mu’azzamsyah Biktiba’I, Syekh Syamsuddin, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang, Tuanku Makhdum.



Ukuran makam di kompleks ini rata-rata panjangnya 7 meter, datar tanpa ornamen khusus kecuali batu nisan di kedua ujung makam. Nisan makam berbahan batu khusus berwarna coklat terlihat mulai menghitam akibat terkikis zaman. Batu nisan bertuliskan aksara Arab kuno bercampur Persia. Sebagian batu nisan memiliki kesamaan corak dengan makam para Syekh di wilayah Sumatera dan Jawa, yakni memiliki corak India.
Nisan makam Syekh Rukunuddin bertuliskan aksara Arab yang memiliki arti: “Tuan Syekh Rukunuddin, wafat malam 13 Syafar, tahun 48 Hijriah (48 H), dalam usia 102 tahun, 2 bulan, 10 hari atau Ha Min Hijratun Nabiy”. Nisan makam Syekh Rujunuddin hanya ada satu nisan, nisan beliau lainnya disimpan di museum purbakala di kota Medan sebagai bahan untuk penelitian.

Menurut beberapa keterangan sejarah, Syekh Rukunuddin melanjutkan misi dakwah Syekh Mahmud yang dimakamkan di Makam Papan TInggi. Sebagian ahli sejarah lainnya mengatakan bahwa makam yang berada di Makam Mahligai adalah murid dan pengikut Syekh Mahmud, dimana ajaran Syekh Mahmud bertumpu pada tauhid, mengesakan Allah. Belum ada perintah melaksanakan hukum-hukum Islam. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dibawakan berupa ayat-ayat Makiyyah.

Beberapa catatan pemerhati sejarah perkembangan Islam menyatakan, daerah penyebaran Islam yang dilakukan oleh Syekh Rukunuddin beserta ulama lainnya dimulai dari dusun Lobu Tua kemudian bergerak ke wilayah utara, kembali ke selatan hingga di ujung bukit dimana Makam Mahligai berada. Kemudian perjalanan da’wah dilanjutkan ke arah timur hingga ke Dusun Patumangan.

Lingkungan Makam Mahligai terbilang rindang dan sejuk, dinaungi pohon besar dengan hamparan sawah membentang di sisi makam. Keadaan tanah Makam Mahligai bergelombang dan berbukit-bukit. Sebelum memasuki kawasan Makam Mahligai, peziarah disarankan bersuci sebagai penghormatan kepada tokoh-tokoh yang disemayamkan disana.

Sumber Pustaka:
  • Masjid dan Makam Bersejarah di Sumatera, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, 2008
  • Claude Guillot, Daniel Perret, Atika Suri Fanani (Translator), Marie-France Dupoizat, Untung Sunaryo, Heddy Surachman, Barus: Seribu Tahun Yang Lalu, KPG, 2008
  • Foto-foto koleksi pribadi

Sunday, December 4, 2011

Menggoyang Lidah di RM Indah Jaya Minang, Alam Sutera



Ketika salah seorang famili saya menyebutkan ada restoran Padang di Alam Sutera (Tangerang) yang ayam gorengnya mirip dengan ayam goreng “Pagi Sore” yang khas di kawasan Pondok, Padang, nama itu diam-diam saya catat. Satu saat saya akan cari tempat itu untuk membuktikan kebenaran klaim tersebut.

Karena kesibukan ibukota, saya dan isteri baru berkesempatan untuk mengunjungi target kami, yaitu Restoran Indah Jaya Minang beberapa hari lalu. Lokasi persisnya di Komplek Ruko Imperial Walk, Jalur Tol Alam Sutera 29C No. 46-48, Alam Sutera - Tangerang. Lokasinya lumayan jauh, kecuali bagi warga BSD, karena berada di jalur Tol arah ke Tangerang dan bandara Soeta.

Ketika menginjakkan kaki ke rumah makan ini saya langsung terkesan dengan kebersihan dan keramahan pelayannya. Ini jelas desain sebuah rumah makan Padang modern.
Belum selesai saya mengamati seisi ruangannya, seorang pelayan mendatangi meja kami dengan kereta roda yang berisi belasan piring lauk dan nasi. Dugaan saya ternyata benar. Pola penyajian makanan Padang dengan menggunakan kereta roda ini memang salah satu ciri rumah makan Padang modern, yang awalnya diperkenalkan oleh restoran Salero Bagindo dan Roda tahun 80 an di Jakarta.

Sang pelayan dengan gesit menata belasan piring lauk di meja kami, sementara saya mengamati satu persatu piring lauk yang disajikan.
Hemm, lumayan juga aneka menunya, lebih variatif dari standar menu yang disajikan oleh rumah makan Padang umumnya, termasuk RM Sederhana yang terkenal itu. Lauknya yang agak jarang terlihat di rumah makan Padang antara lain adalah semur ayam, tahu gulai putih, gulai daun singkong dengan bumbu rendang dan gulai sumsum. Sementara lauk tradisional lainnya terlihat cukup menimbulkan selera, seperti dendeng batokok sambal hijau, gulai tunjang yang masih panas, ikan bilis dan ikan goreng balado. Belakangan menyusul ayam goreng yang masih panas dan sambal lado petai.

Karena niat awal saya kesini untuk mencicipi ayam gorengnya, tentu itulah yang saya comot terlebih dahulu. Begitu juga dengan isteri saya. Nah, bagaimana taste nya?
Sebelum saya sempat berkomentar, isteri saya sudah mendahului, “oke sih, tapi bumbunya masih belum menyamai ayam goreng Pondok Jaya”. Aha, tadinya saya mau ngomong begitu. Walaupun rasa goreng ayam ini diatas standar, lidah saya yang terbiasa dimanja ini lebih menyukai ayam goreng Garuda (arteri Pondok Indah) dan Pondok Jaya (dulu di Hayam Wuruk, kini sudah pindah ke belakang Duta Merlin). Tapi sambal lado petainya cukup menggiurkan walau sekali lagi, masih kalah dengan sambal lado petainya Pondok Jaya yang dicampur dengan potongan leher ayam.

Karena tujuan datang kesini sebagai food tester, kami harus mencoba menu lainnya kan? Saya sempat bimbang, apakah mau pilih semur ayam, ayam asam padeh atau dendeng batokok. Karena isteri saya memutuskan untuk mencoba ayam asam padeh, saya pun mencomot dendeng batokok sambal hijau. Hasilnya?

Hemm.... pilihan saya tidak salah. Acungan jempol buat lauk ini. Dan untuk memperoleh opini satu sama lainnya, kami pun saling berbagi lauk. Melihat isteri saya sepakat dengan kesan yang saya berikan, rasanya lega. Ayam asam padehnya pas sekali bumbunya.
Bagi saya, mencicipi dendeng batokok sambal hijau ini seolah bernostalgia ke tahun 90-an sewaktu saya masih bolak-balik bertugas ke Pekanbaru. Ketika itu ada satu rumah makan Padang yang jadi favorit, namanya Kota Buana. Saking favoritnya, belakangan Kota Buana diminta membuka cabang di kompleks Caltex, Rumbai. Salah satu menu favorit di Kota Buana adalah dendeng batokok sambal hijau itu. Saking populernya, cukup sering karyawan Caltex yang bekerja di Jakarta memesan dendeng batokok kepada rekan kerjanya di Rumbai kalau berkunjung ke Jakarta. Entah kini rumah makan tersebut masih ada atau sudah menjadi bagian dari sejarah.

gulai sumsum

Maksud hati hendak mencicipi lauk lainnya, apa daya kapasitas perut ada batasnya. Disamping itu juga ada kendala psikologis lainnya. Saya sejujurnya ingin mencoba bagaimana citarasa gulai tunjang dan gulai sumsum yang menantang itu. Tapi kekawatiran medis berhasil menghambat salero buruak itu, maklum bulan lalu hasil lab Prodia saya menunjukkan angka LDL 172, jauh diatas batas maksimum ukuran normal.


Akhirnya saya menyelesaikan tugas uji selera ini dengan tidak sempurna, alias tidak sempat mencicipi semua lauk yang diinginkan. Namun setidaknya sudah punya kesimpulan bahwa rumah makan ini layak untuk direkomendasikan, terutama bagi pecinta masakan Padang yang tidak maniak dengan sambal yang pedas. Artinya, bagi anda yang terbiasa dengan masakan Padang yang pedas-pedas, restoran ini bukan tempat yang cocok bagi anda.
Bagi yang merasa penasaran, kenapa tidak mencobanya?

Ciputat, 4 Desember 2011.

Thursday, December 1, 2011

Mengenang alm. YANTI NAZIR: KEPERGIAN ITU BUKAN UNTUK DITANGISI



Minggu 23 Oktober siang
suap nasi pertama urung kulakukan
ketika handphone berdering
dari adikku Rini

Bukan sapa renyah yang kuterima
tapi ledakan tangis yang meruntuhkan selera makan
kalimat “ni Titi meninggal” membuatku terpana
apakah ini sebuah mimpi?

Hati ini bagaikan berontak
mencoba menafikan kenyataan itu
dengan melontarkan kalimat keras “siapa yang bilang?”
padahal aku sungguh sadar, ini pasti bukan mimpi

di RSPI aku bersimpuh disampingmu
wajahmu terlihat damai
ikhlas menunaikan tugas mulia di dunia fana

Perjalanan hayatmu memang telah jauh merangkak
gejolak kehidupan telah memunculkan sebaris kerut di keningmu
namun itu tak menghilangkan sisa kecantikanmu
yang telah kau wariskan kepada putri kesayanganmu, Nisa

Aku mencoba menerawang kebelakang
kenangan indah masih terbayang nyata
ketika kecil kita berebut mainan dan makanan
sebagai anak tertua, aku sering diminta mengalah

Ku teringat di sekitar tahun 1978
aku mendampingimu sebagai duta Putri Sumbar
menyambangi tokoh-tokoh Minang di ibukota
kau terlihat begitu lugunya sementara aku justru was-was . . . . .

Waktu begitu cepatnya berlalu
ketika aku harus bertindak mewakili keluarga
melepas putri tercintamu ke jenjang pelaminan
wajahmu tampak tegang bercampur sedih dan bahagia

Di malam terakhirmu itu
kau terbaring diam diatas dipan kayu sederhana
aku bertekad mengawalmu sepanjang malam
bersama putrimu yang rebah disampingmu
sebagai ungkapan kasih sayang dan salam perpisahan

Kini aku hanya bisa tercenung
inikah akhir dari pertemuan kita?
yang diawali dengan tawa dan canda
mengapa harus diakhiri dengan linangan air mata

Ah, mengapa aku melupakan itu?
bukankah Dia telah mengingatkan dalam firman-Nya
bahwa kehidupan di dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan?

Namun aku yakin seyakin-yakinnya
kita semua kelak akan berkumpul kembali
di alam nan kekal abadi
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un

Ya Allah, ya Rabb, ampuni hambamu yang lemah ini
yang lupa untuk mengingat sabda-Mu
bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada-Mu
terimalah arwah adik tercintaku disisi-Mu
kepergian itu bukan untuk ditangisi.

Aswil Nazir (1 Desember 2011)

Wednesday, November 30, 2011

Kota Barus: Kisah Pilu Bandar Niaga Internasional Masa Lalu

Bulan Juni 2009 saya tergerak untuk membeli majalah eramuslim digest (edisi koleksi 9) yang bertemakan THE UNTOLD STORY di sebuah toko buku kecil. Salah satu artikelnya yang berjudul “Barus dan Pembalseman Mumi Firaun” membuat saya terheran-heran, karena ternyata di negeri tercinta ini ada sebuah kota kecil yang memiliki sejarah masa lalu yang hebat.

Disitu dikisahkan secara ringkas namun lugas, bahwa kota kecil Barus yang berada di pesisir Barat Propinsi Sumatera Utara itu, diantara kota Singkil dan Sibolga dulunya sangat terkenal. Sesuai dengan namanya, kota Barus merupakan penghasil kapur wewangian yang populer dengan nama kapur barus yang berkualitas tinggi. Konon kota Barus merupakan satu-satunya kota di Nusantara yang pernah dicatat berbagai literatur sejak awal Masehi dalam bahasa Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia dan Cina.
Lebih jauh artikel itu menyebutkan bahwa Claudius Ptolomeus, seorang ahli geografi, astronom yang juga Gubernur Yunani di abad ke-2 Masehi membuat peta yang mencantumkan nama Barousai, sebagai bandar niaga di pesisir Barat Sumatera yang menghasilkan wewangian dari sejenis kapur. Bahkan diceritakan pula bahwa kapur wangi yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dimanfaatkan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun sebelum Masehi.

Karena begitu pentingnya Barus, maka sejak lama sekali dalam dunia dagang dikenal nama-nama baros, balus, pansur, fansur, pansuri (dari desa Pansur sedikit di utara Barus), kalasaputra (dari kata Kalasan, daerah penghasil kapur barus antara kota Barus dan sungai Chenendang), karpura-dwipa, barousai (oleh Ptolomeus), warusaka dan lain-lain.
Prof. Kern pernah menulis bahwa kota “P’o-lu-chi” yang dimaksud I Tsing di abad ke-7, tidak lain adalah Barus. Begitu pula kerajaan “Ho-lo-tan” dalam tulisan-tulisan Cina, mungkin yang dimaksud adalah Kalasan, daerah penghasil kapur barus yang disebut diatas.
Penjelajah terkenal Marcopolo menjejakkan kakinya di bandar perniagaan Barus pada tahun 1292 M, sementara sejarawan muslim ternama, Ibnu Batutah mengunjungi Barus pada tahun 1345 M.
Berdasarkan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin, wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriah. Ini memperkuat data bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era tersebut.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 625 M – hanya berselang 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab – telah ada kampung kecil yang dihuni pemeluk Islam di sebuah pesisir pantai Barat Sumatera. Kampung ini berada dalam kekuasaan wilayah kerajaan Budha Sriwijaya. Disebutkan pula bahwa di daerah ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan pernikahan. Namun belum ada kesepakatan diantara sejarawan muslim, apakah Barus merupakan lokasi pertama masuknya Islam di Nusantara. Pandangan itu setidaknya mengemuka dalam seminar “Masuknya Islam di Nusantara” yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963. Dalam seminar itu Dada Meuraksa, sejarawan lokal, berkeyakinan bahwa Islam masuk ke Barus pada awal tahun Hijriah, berdasarkan penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin diatas.

Batu nisan itu menginformasikan bahwa Syekh Rukunuddin wafat dalam usia 100 tahun, 2 bulan, dan 22 hari pada tahun hamim aatu hijaratun Nabi. Tetapi pandangan Dada Meuraksa itu disangkal oleh ulama terkenal Sumut, HM Arsyad Thalib Lubis yang menganggap bahwa bukti nisan tidak dapat dijadikan dasar penentuan. Perbedaan pendapat itu berlangsung hingga belasan tahun lamanya. Baru pada tahun 1978 sejumlah arkeolog dipimpin oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar daerah Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog dari Universitas Airlangga itu meyakini Islam sudah masuk sejak tahun I Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat Dada Meuraksa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya.
Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus yang bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter lebih, diatas permukaan laut, menurut ustad Djamaluddin Batubara usianya lebih tua dari makam Syekh Rukunuddin, sekitar era 10 tahun pertama dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Menurut beliau, Syekh Mahmud adalah penyebar Islam pertama di Barus, sedangkan 43 ulama lainnya merupakan pengikut dan murid-muridnya.

Mengutip KOMPAS (Akhir Perjalanan Sejarah Barus, 1 April 2005), Daniel Perret dan kawan-kawannya dari Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO) Perancis bekerja sama dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) melakukan penggalian arkeologi di Lobu Tua (4 km kearah Barat dari Barus). Temuan mereka membuktikan bahwa pada abad IX-XII perkampungan multietnis dari suku Tamil, China, Arab, Aceh, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya juga telah ada di sana. Perkampungan tersebut dikabarkan sangat makmur mengingat banyaknya barang-barang berkualitas tinggi yang ditemukan.

Pada tahun 1872, pejabat Belanda, GJJ Deutz, menemukan batu bersurat tulisan Tamil. Tahun 1931 Prof Dr K A Nilakanta Sastri dari Universitas Madras, India, menerjemahkannya. Menurutnya, batu bertulis itu bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi di zaman pemerintahan Raja Cola yang menguasai wilayah Tamil, India Selatan. Tulisan itu antara lain menyebutkan tentang perkumpulan dagang suku Tamil sebanyak 1.500 orang di desa Lobu Tua yang memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan, dan ketentuan lainnya.
Namun, Lobu Tua yang merupakan kawasan multietnis di Barus ditinggalkan secara mendadak oleh penghuninya pada awal abad ke-12 sesudah kota tersebut diserang oleh kelompok yang dinamakan Gergasi.

Setelah ditinggalkan oleh komunitas multietnis tersebut, Barus kemudian dihuni oleh orang-orang Batak yang datang dari kawasan sebelah utara kota ini. Situs Bukit Hasang merupakan situs Barus yang berkembang sesudah penghancuran Lobu Tua.

Sampai misi dagang Portugis dan Belanda masuk, peran Barus yang saat itu telah dikuasai raja-raja Batak sebenarnya masih dianggap menonjol sehingga menjadi rebutan kedua penjajah dari Eropa tersebut. Penjelajah Portugis Tome Pires yang melakukan perjalanan ke Barus awal abad ke-16 mencatat Barus sebagai pelabuhan yang ramai dan makmur.

"Kami sekarang harus bercerita tentang Kerajaan Barus yang sangat kaya itu, yang juga dinamakan Panchur atau Pansur. Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatera namanya Baros (Barus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua," demikian catatan Pires.

Tahun 1550, Belanda berhasil merebut hegemoni perdagangan di daerah Barus. Dan pada tahun 1618, VOC, kongsi dagang Belanda, mendapatkan hak istimewa perdagangan dari raja-raja Barus, melebihi hak yang diberikan kepada bangsa China, India, Persia, dan Mesir.

Belakangan, hegemoni Belanda ini menyebabkan pedagang dari daerah lain menyingkir. Dan sepak terjang Belanda juga mulai merugikan penduduk dan raja-raja Barus sehingga memunculkan perselisihan. Tahun 1694, Raja Barus Mudik menyerang kedudukan VOC di Pasar Barus sehingga banyak korban tewas. Raja Barus Mudik bernama Munawarsyah alias Minuassa kemudian ditangkap Belanda, lalu diasingkan ke Singkil, Aceh.

Perlawanan rakyat terhadap Belanda dilanjutkan di bawah pimpinan Panglima Saidi Marah. Gubernur Jenderal Belanda di Batavia kemudian mengirim perwira andalannya, Letnan Kolonel Johan Jacob Roeps, ke Barus. Pada tahun 1840, Letkol Roeps berhasil ditewaskan pasukan Saidi Marah, yang bergabung dengan pasukan Aceh dan pasukan Raja Sisingamangaraja dari wilayah utara Barus Raya.

Namun, pamor Barus sudah telanjur menurun karena saat Barus diselimuti konflik, para pedagang beralih ke pelabuhan Sunda Kelapa, Surabaya, dan Makassar. Sementara, pedagang-pedagang dari Inggris memilih mengangkut hasil bumi dari pelabuhan Sibolga.

Barus semakin tenggelam saat Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada permulaan abad ke-17. Kerajaan baru tersebut membangun pelabuhan yang lebih strategis untuk jalur perdagangan, yaitu di pantai timur Sumatera, berhadapan dengan Selat Melaka.

Pesatnya teknologi pembuatan kapur barus sintetis di Eropa juga dianggap sebagai salah satu faktor memudarnya Barus dalam peta perdagangan dunia. Pada awal abad ke-18, Barus benar-benar tenggelam dan menjadi pelabuhan sunyi yang terpencil.

Kehancuran Barus kian jelas ketika pada tanggal 29 Desember 1948, kota ini dibumihanguskan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia karena Belanda yang telah menguasai Sibolga dikabarkan akan segera menuju Barus.


Panggilan dari Barus

Ketika saya memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke Barus atas undangan sesepuh Barus, Prof. Dr. Dachnel Kamars, MA, tentu saja tawaran ini saya sambut dengan sangat gembira.
Ini betul-betul merupakan kesempatan emas untuk melihat sendiri bagaimana kondisi kota kecil yang sempat menjadi emporium di masa lalu.


Begitulah, pada tanggal 30 Oktober 2011 saya yang belum sempat beristirahat setelah kembali dari Papua dan diikuti dengan meninggalnya adik kandung saya, harus berangkat lagi ke Barus melalui Medan dengan didampingi oleh M. Dachyar, anak Prof. Dachnel yang saya kenal baik sejak kecil.



Kami memasuki Barus melalui jalur Sibolga, setelah terbang dengan Wings Air dari Medan ke Sibolga selama 35 menit. Bandar udaranya begitu sederhana, dinamakan bandara Dr. Ferdinand Lumbantobing yang terletak di desa Pinang Sori, sekitar 30 km dari kota Sibolga.

Di bandara, kami sudah ditunggu oleh pak Rivai, staf STKIP Barus yang diutus oleh Prof. Dachnel.
Pemandangan yang terlihat dalam perjalanan dari airport menuju Sibolga dan Barus seakan mengkonfirmasi saya bahwa lokasi ini memang telah luput dari perhatian pemerintah. Kondisi jalan banyak yang rusak, amat kontras dengan apa yang saya lihat di kota-kota propinsi lain seperti Aceh dan Sumbar.


 
Pantai Binasi, Barus dengan pasir putihnya.


Karena ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Tapanuli Tengah, Dachyar bertindak sebagai tour guide dengan memperkenalkan beberapa tempat yang kami lewati. Kami singgah sebentar di pantai Pandan yang menjadi areal wisata warga Sibolga, lalu santap siang di Rumah Makan Pak Nas yang terkenal itu. Kami berdua memang sudah kelaparan karena di bandara  Soekarno-Hatta tidak sempat sarapan pagi. Kombinasi antara lapar dan lezatnya lauk, sungguh membuat makan siang kami begitu nikmat.
Perjalanan pun dilanjutkan menuju Barus dengan mengambil jalur di sepanjang pantai, sehingga kami bisa menikmati keindahan dam keasrian pantai Binasi yang berpasir putih di kecamatan Sorkam. Alangkah kontrasnya jika dibandingkan dengan kondisi pantai Ancol di Jakarta.


Akhirnya kami memasuki kota Barus ditengah guyuran hujan menjelang pukul empat sore dan langsung menuju kediaman keluarga Prof. Dachnel. Saya yang kelelahan sempat kawatir, apakah kondisi fisik saya cukup fit untuk melakukan pendakian ke makam Papan Tinggi esok hari. Seolah dapat membaca jalan pikiran saya, pak Dachnel diam-diam telah meminta seorang tukang urut untuk datang pada malam harinya khusus untuk memijat saya dan Dachyar.
Malam itu kami tidur lelap sekali.

Mendaki Makam Papan Tinggi


 

Anak tangga yang begitu panjang menuju makam di puncak bukit.

Pagi hari saya terbangun dengan kondisi badan masih pegal, namun sudah lebih  fit dibandingkan kemaren. Udara pagi di Barus ternyata cukup sejuk walaupun lokasinya tidak jauh dari tepi pantai.

Setelah sarapan pagi saya dan Dachyar berangkat menuju ke Makam Papan Tinggi di desa Pananggahan dengan membonceng dua sepeda motor yang dikendarai Eros dan Bambang, warga setempat.
Uniknya, mayoritas penduduk desa di desa Pananggahan justru masyarakat non-Muslim. Menjelang sampai ke lokasi kami melihat banyak babi peliharaan warga berkeliaran di pekarangan rumah-rumah.
Akhirnya kami tiba di tempat yang dituju. Saya agak terperangah melihat anak tangga yang seolah tiada habisnya menuju keatas bukit. Ternyata istilah makam Papan Tinggi bukan sekedar bualan belaka. Menurut penuturan Prof. Dachnel, anak tangga yang mengular ini dibuat ketika Raja Inal Siregar (alm.) menjadi Gubernur Sumut. Sebelum itu, mereka yang ingin menuju ke makam harus merangkak keatas, seperti yang dilakukan oleh Prof. Dachnel semasa kecilnya. Sungguh sulit untuk membayangkan hal ini.
Saya melihat ke sekeliling. Suasananya begitu teduh dan hening yang diselingi bunyi jangkrik di lingkungan pepohonan karet dan tanaman penduduk.

Awalnya saya berniat untuk mencoba menghitung jumlah anak tangga menuju Makam Papan Tinggi yang oleh salah satu literatur disebutkan sebanyak 744 anak tangga. Tetapi saya menyerah, tidak sanggup. Bukan apa-apa, saya pada akhirnya sudah repot sendiri mengurus pernapasan selama mendaki. Pada tempat-tempat tertentu ada tempat perhentian yang bisa digunakan untuk beristirahat. Di beberapa tempat perhentian sudah dibuatkan tempat duduk menggunakan semen yang kerjakan oleh Eros dan Bambang atas instruksi Prof. Dachnel. Menurut Eros, bangku-bangku itu sengaja buru-buru dikerjakan satu minggu sebelum kedatangan kami supaya bisa digunakan sebagai tempat beristirahat.

Ada satu peristiwa yang aneh terjadi sewaktu Eros, Bambang dan dua tukang lainnya tengah asyik mengerjakan bangku untuk istirahat itu. Tahu-tahu mereka berempat mendengar suara halus menyapa “Assalamu’alaikum”  sementara tidak ada siapapun  di sekitar tempat itu. Mereka berempat akhirnya berpikir bahwa mungkin itu merupakan salam dari penghuni makam, dan meneruskan pekerjaannya.
Saya setidaknya memerlukan 5 kali beristirahat dengan duduk dan mengatur napas sebelum akhirnya berhasil melihat pagar makam dengan kombinasi warna hijau dan biru. Kepenatan yang melanda seakan sirna begitu sampai diatas. Pemandangan kearah lautan lepas maupun ke bukit-bukit sekitar makam begitu mempesona. Ternyata kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai lokasi makam.

 

Makam Syekh Mahmud sepanjang 7 meter lebih. 

Alhamdulillah, saya bisa ziarah ke makam aulia yang didalam sejumlah literatur disebutkan sebagai makam Syekh Mahmud, penyebar agama Islam pertama di Barus. Makam tersebut diperkirakan panjangnya sekitar tujuh meter lebih dengan batu nisan besar setinggi 1,5 meter.
Sulit untuk membayangkan bagaimana batu nisan bertulisan Persia dan Arab yang terbuat dari batu cadas dengan berat ratusan kilogram itu bisa diangkut sampai di ketinggian ini.

 
Kompleks Makam Mahligai. 

Singkat cerita, kami pun tidak lupa mengunjungi makam Mahligai yang berlokasi di desa Dakka, hanya beberapa kilometer dari makam Papan Tinggi. Makam seluas 1,5 hektar itu berisikan sekitar 215 makam dengan batu nisan yang besar dan kecil yang ditandai dengan ukiran bergaya Arab. Disinilah tempat dimakamkannya  Syekh Rukunuddin (wafat 48 Hijiriah).


Riwayat Barus, Kini dan Harapan Masa Depan

Melihat kondisi kota Barus saat ini sungguh membuat kita prihatin.
Bagaimana tidak? Kota yang di masa lalu terkenal sebagai penghasil Kapur Barus dan rempah-rempah yang diperdagangkan sampai ke Arab dan Persia kini seperti diterlantarkan. Kota kecamatan ini tidak memiliki tempat penginapan yang memadai, tidak ada apotik dan hanya ada satu mesin ATM (di kantor cabang BRI). Jangan tanya soal convenience store seperti Alfa Mart, Indomaret atau fast food. Kami sempat kesulitan ketika ingin membeli Coca Cola kaleng di Barus.
Tidak heran jika Prof. Dr. Dachnel Kamars, MA sebagai sesepuh yang dituakan di Barus saat ini merasa sangat prihatin akan kemunduran kota Barus. Itulah yang membuat beliau terpanggil untuk kembali untuk membangun kampung halamannya , sementara mayoritas warga Barus pergi merantau ke kota-kota besar. Beliau memulainya dengan satu aktivitas yang paling mendasar, yaitu pendidikan dengan membuka Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Barus yang kini memiliki 600 mahasiswa. SDM memang merupakan isu yang paling krusial bukan hanya di Barus, tapi juga di daerah-daerah lainnya.

Seperti diutarakan oleh KOMPAS, Barus yang berjarak sekitar 414 km dari kota Medan tampaknya memang telah terlupakan. Pemerintah lebih tertarik mengembangkan perdagangan di kawasan pantai timur Sumatera, khususnya di sekitar Selat Malaka, dengan pusatnya di Batam dan Medan. Dominasi pembangunan pantai timur ini bisa dilihat pengiriman hasil bumi dari pedalaman pantai barat Sumatera yang harus melalui jalur darat untuk kemudian dibawa dengan kapal dari pelabuhan Belawan, Medan. Sedangkan untuk melayani arus perdagangan skala lokal di kawasan pantai barat Sumatera, pemerintah lebih tertarik mengembangkan pelabuhan yang lebih baru seperti Singkil di utara dan Sibolga di selatan. Kehebatan Barus sebagai bandar internasional benar-benar dilupakan. Kini, Barus tak lebih dari kota kecamatan lain di daerah pinggiran yang hampir-hampir tak tersentuh roda pembangunan. Sebagian besar warganya meninggalkan desa, mencari pekerjaan atau pendidikan di luar daerah.









Barus terkenal sebagai penghasil ikan kering .                                    Coklat, salah satu produksi Barus

Apakah Barus bisa bangkit kembali sebagai salah satu kota dan bandar niaga kelas internasional sebagaimana masa  lalunya, itu sangat tergantung kepada keseriusan pemerintah pusat, pemerintah setempat serta warga Barus dalam mengelola dan memberdayakan potensi sumber daya alam dan wisatanya yang melimpah itu. Semoga saja!

Aswil Nazir (9 November 2011)

DAFTAR PUSTAKA
  • Eramuslim digest, edisi koleksi no. 9, 2009
  • Akhir Sejarah Perjalanan Barus, KOMPAS, 1 April 2005
  • Barus, pintu masuk Islam pertama di Indonesia, WASPADA ONLINE, 7 Agustus 2011 (http://www.waspada.co.id) 
  • Rusli Amran, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, Bab I bagian 4, Kota Barus dan Kebudayaan Asal India Selatan, 1981.
  • Claude Guillot, Daniel Perret, Atika Suri Fanani (Translator), Marie-France Dupoizat, Untung Sunaryo, Heddy Surachman, Barus: Seribu Tahun Yang Lalu, KPG, 2008