Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Saturday, December 24, 2011

Lembah Harau, Potensi Wisata Yang Nyaris Terlupakan

Lembah Harau tahun 1910 (koleksi KITLV Leiden, Belanda)

Subhanallah, alangkah indahnya!
Itulah decak kagum dari beberapa teman yang baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di Lembah Harau yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Koto, sekitar 15 kilometer dari Payakumbuh atau 47 km timur laut Bukittinggi, Sumatra Barat.
Betapa tidak? Di hadapan kami terpampang lukisan alam yang nyata-nyata menunjukkan kebesaran Sang Pencipta.

Pemandangan ini membuat saya teringat akan kisah-kisah silat Kho Ping Hoo yang acap kali mengungkapkan keindahan alam pegunungan dengan kalimat-kalimat yang mempesona. Coba simak bagaimana Kho Ping Hoo merangkai kalimat kekagumannya terhadap keindahan alam dalam salah satu cerita silatnya,
kata-kata tidak ada artinya lagi untuk menggambarkan keindahan. Kata-kata adalah kosong, penggambaran yang mati, sedangkan kenyataan  adalah hidup, seperti hidupnya setiap helai daun di antara jutaan daun yang bergerak lembut dihembus angin pagi.
Daun-daun pohon yang lebat seperti baru bangkit dari tidur, nyenyak dibuai kegelapan malam tadi, nampak segar bermandikan embun yang membentuk mutiara-mutiara indah di setiap ujung daun dan rumput hijau
Memang sukar untuk menggambarkan keindahan alam di Lembah Harau yang telah ditetapkan sebagai cagar alam dan suaka margasatwa ini.

 
Sepanjang perjalanan kita seolah-olah memasuki celah benteng yang terbentang tinggi. Soalnya Lembah Harau diapit dua bukit cadas yang terjal dengan ketinggian lebih dari 100-200 meter. Cagar Alam Harau dengan ketinggian sekitar 500 sampai 850 meter dari permukaan laut ini terdiri dari beberapa bukit, seperti Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang. Kita akan terpesona oleh keindahan pahatan alam berupa tebing-tebing granit yang terjal dan berbentuk unik yang menjulang tinggi mengelilingi lembah.
Di dasar tebing, hijaunya sawah yang membentang dan rimbunnya pepohonan membuat kita semakin larut dalam kekaguman akan ciptaan-Nya. Lembah Harau semakin memukau dengan adanya sejumlah air terjun (sarasah) yang cukup deras airnya, terutama di musin hujan.

Sarasah Aka Barayun
Air terjun yang sering didatangi pengunjung adalah Sarasah Aka Barayun yang (dulunya) memiliki tiga air terjun deras yang bermuara pada satu kolam alam besar. Lalu ada resort Sarasah Bunta yang lokasinya di bagian timur Aka Barayun. Menurut Wikipedia, Resort Sarasah Bunta terdiri dari 4 air terjun (Sarasah Aie Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murai dan sarasah Aie Angek). Dinamakan Sarasah Aie Luluih karena pada air terjun ini airnya mengalir melewati dinding batu jatuh ke kolam pemandian alami yang asri. Dinamakan Sarasah Bunta karena  sarasah ini mempunyai air terjunnya yang berunta-unta indah seperti bidadari yang sedang mandi apabila terpancar sinar matahari siang. Sedangkan Sarasah Murai karena seringnya didatangi burung murai untuk mandi sambil memadu kasih, dinamakan penduduk setempat dengan “Sarasah Murai“. Sarasah Aie Angek memang belum populer karena lokasinya agak jauh ke utara dari sarasah Murai. Menurut pengakuan penduduk setempat airnya agak panas.

Sebagai hal yang lazim kita jumpai di negeri ini, berbicara tentang lokasi atau kejadian seringkali tidak lepas dari legenda. Begitupun dengan Lembah Harau, ia mempunyai legenda sendiri. Menurut hikayat warga setempat, pada jaman dahulu di atas tebing yang menjulang tinggi terdapat sebuah kerajaan, sedangkan lembahnya masih merupakan lautan. Suatu ketika, putri kerajaan tersebut memilih untuk terjun ke laut karena tidak memperoleh ijin orang tuanya untuk menikah dengan lelaki yang disukainya. Sang raja lalu memerintahkan rakyatnya mencari jasad sang putri. Namun hingga laut dikeringkan, jenazah sang putri tetap tidak ditemukan. Kini lautan itu telah menjadi daratan dan dinamai Lembah Harau dengan segala keindahan alamnya.
Lembah Harau sesungguhnya sudah lama menjadi tempat wisata, walaupun fasilitas bagi wisatawan di lokasi tersebut terkesan sangat bersahaja.  Sebuah monumen peninggalan Belanda yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta merupakan bukti bahwa Lembah Harau sudah sering dikunjungi wisatawan sejak 1926.   

Lembah Harau yang sebetulnya merupakan salah satu potensi wisata daerah Sumbar belum digarap secara optimal, sehingga tidak heran jika teman SMP saya di Padang, Cau Ahda Yanuar berkomentar, “ambo alah 56 tahun baru sakali iko datang kamari”. Ironis bukan?

Ciputat, 24 Desember 2011.

Wednesday, December 7, 2011

Makam-makam Tua di Barus, Tapanuli Tengah

Kota Barus terletak di pantai barat pulau Sumatera, sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga, berada di sebelah selatan Kecamatan Singkil, Aceh Selatan. Barus dapat dicapai dengan  menggunakan pesawat udara dari Medan ke Sibolga selama 30 menit dan dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Sibolga selama 2 jam lagi menuju Barus. Atau bisa juga melalui perjalanan darat dengan minibus travel dari kota Medan, ke Barus selama 9 jam.

Kota Barus dan Samudera Indonesia dilihat dari Kompleks Makam Papan Tinggi

MAKAM PAPAN TINGGI

Pemakaman tua pertama yang konon dianggap paling tua berada di sebuah bukit hijau nan terpencil. Makam ini berlatar belakang panorama kota Barus dan Samudra Indonesia di sisi barat, berada diatas ketinggian 153 meter diatas permukaan laut. Badan bukit menuju makam cukup terjal, memiliki kemiringan hingga 45 derajat, cukup sulit untuk didaki. Bantuan lebih dari tujuh ratus anak tangga sepanjang 225 meter tidak mampu mengurangi rasa lelah peziarah untuk mencapai puncaknya.

Masyarakat Barus menyebutnya Makam Papan Tenggi. Dalam bahasa Indonesia diartikan Makam Papan Tinggi. Dahulu, bukit ini merupakan daerah pengambilan kayu oleh masyarakat yang akan dijadikan bilah-bilah papan. Sejak hadirnya sebuah pemakaman, maka tempat ini dinamakan Makam Papan Tinggi.
Lokasi Makam Papan Tinggi berada di sebuah bukit yang terletak di sisi timur Jalan Raya Barus – Manduamas. Secara administratif makam ini berada di dusun Lobu Tua, Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Makam Papan Tinggi merupakan kompleks pemakaman tua Islam seorang tokoh penyebar agama Islam pertama di Sumatera Utara. Pada kompleks Makam Papan Tinggi terdapat makam istimewa yang memiliki panjang 9 meter, dengan nisan setinggi 1,5 meter. Di sekeliling makam panjang terdapat beberapa makam sederhana dimana nisan makam berupa batu yang ditegakkan tanpa adanya tanda sama sekali. Makam Papan Tinggi diperkirakan didirikan ada tahun 1239 M berdasarkan tulisan yang tertera pada pilar di dekat makam panjang. Kompleks makam dikelilingi pagar dan dinaungi pohon besar. Dahulu, di depan pagar tertanam guci keramat yang mengaliri air tanpa henti meski pada musim kemarau. Kini hanya tinggal berupa lubang tanah berbentuk kotak sedalam 20 sentimeter.

Makam Syekh Mahmud di Makam Papan Tinggi

Sejarahwan kota Barus, Djamaluddin Batubara mengatakan, tokoh utama yang dimakamkan di Makam Papan Tinggi adalah Sykeh Mahmud, penyebar agama Islam yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Makam beliau berupa makam panjang, dengan batu nisan putih setinggi 1,5 meter berukir aksara Persia dan Arab kuno.
Belum diketahui secara pasti tahun kedatangan Syekh Mahmud ke tanah Barus. Namun melihat corak nisan makam dan jenis kaligrafi yang tertulis, serta unsur arkeologis lainnya, diperkirakan Syekh Mahmud telah hadir di Barus sejak abad ke-9 Masehi.

Mengenai kota Barus sendiri, dahulunya merupakan kota pelabuhan terbesar yang pernah ada di nusantara, jauh sebelum adanya Bandar Malaka dan Samudera Pasai di tanah rencong. Barus mengokohkan dirinya sebagai penghasil kapur barus (kamper) yang terkenal hingga seluruh dunia. Sehingga kota ini dinamakan Barus.
Sejarah mencatat, sejak abad ke-9 kota Barus sudah dikenal sebagai kota dagang. Di masa itu komoditi yang sangat digandrungi semisal buah pala, cengkeh, lada, kulit manis, merica, kemenyan dan kayu bulat, diperdagangkan di Barus. Konon bahan-bahan pembalseman para raja Mesir didatangkan dari Barus.

Barus yang dikenal sebagai kota perdagangan antarbangsa, sangat dimungkinkan terjadinya kotak budaya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Berkenaan dengan itu pula, berdatangan rombongan mubaligh asal tanah Arab ke negeri niuntuk tujuan penyebaran agama Islam yang dilatarbelakangi perdagangan. Para mubaligh menghabiskan waktunya untuk syiar Islam di daerah baru. Mereka menopang hidupnya dengan berdagang.

Hadirnya Sykeh Mahmud di tanah Barus merupakan salah satu tesis tentang keberadaan penyebar Islam sejak agama ini pertama kali disyiarkan. Arkeolog dan ahli kaligrafi Arab kuno asal Perancis, Prof. Dr. Ludwig Kuvi menyatakan dengan tegas bahwa bukti arkeologis berupa pahatan batu nisan makam Syekh Mahmud menunjukkan beliau adalah seorang pendatang yang telah lama tinggal di Barus. Batu nisan makam Syekh Mahmud bukan batu biasa yang digunakan oleh penduduk Barus, melainkan sejenis batu yang didatangkan dari India. Maka, hampir mustahil Syekh Mahmud seorang biasa yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat Barus. Ukiran batu ayat-ayat Al-Qur’an dan pesan singkat yang Nampak samar memberi isyarat bahwa beliau seorang mubaligh besar.

Teori kedatangan Syekh Mahmud di tanah Barus diperkuat dengan pembuktian yang dilakukan oleh sejarahwan Belanda, Dr. Ph. S. Van Ronkel. Sejarahwan Belanda ini menyatakan Syekh Mahmud merupakan penyebar ajaran Islam yang pertama di Tapanuli. Da’wah Syekh Mahmud berhasil menyentuh tokoh etnis Batak, Raja Guru Marsakkot, yang akhirnya memeluk agama Islam.

Salah satu ukiran batu pada nisan makam Syekh Mahmud yang berbunyi: “Fa Kullu Syai’un Halikun Illa Wajhullah” yang berarti, “Maka segala sesuatunya hancur kecuali Dzat Allah”. Menurut Djamaluddin Batubara, nilai Islam yang disampaikan Sykeh Mahmud kepada masyarakat Barus adalah ajaran Tauhid, yakni mengajak masyarakat pesisir Tapanuli untuk meng-esa-kan Tuhan, Allah SWT.

Mencermati posisi makam Syekh Mahmud yang berada di atas bukit, diperkirakan bahwa beliau adalah guru bagi pengikutnya yang dimakamkan di Makam Mahligai. Terdapat 43 makam para ulama yang berada di kompleks Makam Mahligai. Daintaranya adalah makam Syekh Rukunuddin, kompleks makam Bukit Hasan, makam Tuanku Ambar, makam Tuan Kepala Ujung, makam Tuan Sirampak, makam Tuan Tembang, makam Tuanku Kayu Manang, makam Tuanku Makhdum, makam Syekh Zainal Abidin Ilyas, makam Syekh Ahmad Khatib Siddiq, dan makam Imam Mua’azhamsyah.

Tidak mudah bersiarah ke Makam Papan Tinggi. Sebelum menaiki tangga, peziarah disyaratkan untuk bersuci di kaki bukit yang telah tersedia pancuran air. Kemudian peziarah menaiki seribu anak tangga yang dibangun permanen. Perlu ketangguhan fisik untuk menaiki anak-anak tangga yang curam dan menanjak. Namun tangguh secara fisik saja tidak cukup, diperlukan pula niat ikhlas untuk mengunjungi makam Syekh Mahmud yang berada di puncak bukit. Sebab bila niatnya tidak tulus, apalagi disertai niat syirik, maka sulit untuk dapat mencapai puncak bukit Makam Papan Tinggi.

MAKAM MAHLIGAI



Tim arkeologi dari Ecole Francaise D’extreme-Orient, Perancis yang bekerja sama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua – Barus, memberikan telaah baru mengenai sejarah Islam datang ke nusantara. Adanya data-data arkeologis sekitar abad ke-9 sampai 12 Masehi, membuktikan bahwa Barus telah berkembang menjadi kota perdagangan dengan struktur masyarakat multi etnis yang terdiri dari masyarakat Batak, Minangkabau, Bengkulu, Jawa bahkan Bugis, termasuk bangsa asing dari negeri India, Arab, Cina, Tamil dan sebagian kecil Afrika.

Bukti adanya masyarakat multi etnis ini berupa temuan aneka keramik, guci dan batu mulia yang berkualitas tinggi yang telah berusisa ratusan tahun. Bukti ini menunjukkan kesejahteraan masyarakat Barus ketika itu sudah makmur.
Heterogenitas masyarakat kota Barus bertumpu kepada kehidupan ekonomi yang bersandar kepada perdagangan antar bangsa. Berbagai kooditi rempah-rempah tersedia di Barus, terutama kapur barus yang berkualitas tinggi. Letak Barus yang berhadapan dengan lautan luas memudahkan para pedagang dari berbagai negeri berdatangan. Saat itu pelabuhan Samudera Pasai belum dikenal perdagangan dunia.

Banyaknya para saudagar asal Arab yang menetap di Barus menciptakan kemakmuran yang tinggi di daerah ini. Beberapa diantara mereka pernah menjadi utusan dari Bani Umayyah untuk Kerajaan Sriwijaya, sehingga diantara kalangan saudagar Arab sendiri diangkat seorang pemimpin. Sikap terbuka, bersahabat dan kekeluargaan yang ditunjukkan oleh para penguasa bandar kepada kalangan masyarakat lokal, menjadikan mereka begitu terpandang, sehingga mampu menjalin hubungan baik dengan para raja, adipati ataupun pembesar Kerajaan Sriwijaya. Beberapa diantaranya menerima Islam sebagai keyakinan baru. Bukti kemakmuran masyarakat yang didiami saudagar Arab berupa situs makam tua bertarikh abad ke-8 Masehi yang menguatkan keberadaan komunitas Muslim mapan di Barus.

Berdasarkan teori sosiologi, pengelompokan makam yang dibangun merata dan teratur berdasarkan ukuran tertentu di daerah tertentu, membuktikan status tokoh-tokoh yang dimakamkan. Sejarah selalu mencatat, hanya orang-orang besar yang memiliki pemakaman khusus. Dengan demikian kompleks pemakaman ini membuktikan entitas masyarakat muslim di tanah Barus yang telah ada ratusan tahun silam.

Kompleks pemakaman tua ini bernama Makam Mahligai, tidak berapa jauh dari Makam Papan TInggi. Pada kompleks makam ini, terdapat 43 nsan tua yang berukir aksara Arab kuno dan Persia.
Konon, nama makam ini diambil dari sebuah istana kecil pada zaman dahulu yang dibangun oleh Tuan Syekh Abdul Khatib Siddiq. Setelah wafat, Syekh Siddiq dimakamkan di Makam Mahligai. Selain beliau, sejumlah ulama besar penyebar Islam lainnya dimakamkan disini, diantaranya Syekh Rukunuddin, Syekh Ushuluddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Mu’azzamsyah Biktiba’I, Syekh Syamsuddin, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang, Tuanku Makhdum.



Ukuran makam di kompleks ini rata-rata panjangnya 7 meter, datar tanpa ornamen khusus kecuali batu nisan di kedua ujung makam. Nisan makam berbahan batu khusus berwarna coklat terlihat mulai menghitam akibat terkikis zaman. Batu nisan bertuliskan aksara Arab kuno bercampur Persia. Sebagian batu nisan memiliki kesamaan corak dengan makam para Syekh di wilayah Sumatera dan Jawa, yakni memiliki corak India.
Nisan makam Syekh Rukunuddin bertuliskan aksara Arab yang memiliki arti: “Tuan Syekh Rukunuddin, wafat malam 13 Syafar, tahun 48 Hijriah (48 H), dalam usia 102 tahun, 2 bulan, 10 hari atau Ha Min Hijratun Nabiy”. Nisan makam Syekh Rujunuddin hanya ada satu nisan, nisan beliau lainnya disimpan di museum purbakala di kota Medan sebagai bahan untuk penelitian.

Menurut beberapa keterangan sejarah, Syekh Rukunuddin melanjutkan misi dakwah Syekh Mahmud yang dimakamkan di Makam Papan TInggi. Sebagian ahli sejarah lainnya mengatakan bahwa makam yang berada di Makam Mahligai adalah murid dan pengikut Syekh Mahmud, dimana ajaran Syekh Mahmud bertumpu pada tauhid, mengesakan Allah. Belum ada perintah melaksanakan hukum-hukum Islam. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dibawakan berupa ayat-ayat Makiyyah.

Beberapa catatan pemerhati sejarah perkembangan Islam menyatakan, daerah penyebaran Islam yang dilakukan oleh Syekh Rukunuddin beserta ulama lainnya dimulai dari dusun Lobu Tua kemudian bergerak ke wilayah utara, kembali ke selatan hingga di ujung bukit dimana Makam Mahligai berada. Kemudian perjalanan da’wah dilanjutkan ke arah timur hingga ke Dusun Patumangan.

Lingkungan Makam Mahligai terbilang rindang dan sejuk, dinaungi pohon besar dengan hamparan sawah membentang di sisi makam. Keadaan tanah Makam Mahligai bergelombang dan berbukit-bukit. Sebelum memasuki kawasan Makam Mahligai, peziarah disarankan bersuci sebagai penghormatan kepada tokoh-tokoh yang disemayamkan disana.

Sumber Pustaka:
  • Masjid dan Makam Bersejarah di Sumatera, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, 2008
  • Claude Guillot, Daniel Perret, Atika Suri Fanani (Translator), Marie-France Dupoizat, Untung Sunaryo, Heddy Surachman, Barus: Seribu Tahun Yang Lalu, KPG, 2008
  • Foto-foto koleksi pribadi

Wednesday, November 30, 2011

Kota Barus: Kisah Pilu Bandar Niaga Internasional Masa Lalu

Bulan Juni 2009 saya tergerak untuk membeli majalah eramuslim digest (edisi koleksi 9) yang bertemakan THE UNTOLD STORY di sebuah toko buku kecil. Salah satu artikelnya yang berjudul “Barus dan Pembalseman Mumi Firaun” membuat saya terheran-heran, karena ternyata di negeri tercinta ini ada sebuah kota kecil yang memiliki sejarah masa lalu yang hebat.

Disitu dikisahkan secara ringkas namun lugas, bahwa kota kecil Barus yang berada di pesisir Barat Propinsi Sumatera Utara itu, diantara kota Singkil dan Sibolga dulunya sangat terkenal. Sesuai dengan namanya, kota Barus merupakan penghasil kapur wewangian yang populer dengan nama kapur barus yang berkualitas tinggi. Konon kota Barus merupakan satu-satunya kota di Nusantara yang pernah dicatat berbagai literatur sejak awal Masehi dalam bahasa Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia dan Cina.
Lebih jauh artikel itu menyebutkan bahwa Claudius Ptolomeus, seorang ahli geografi, astronom yang juga Gubernur Yunani di abad ke-2 Masehi membuat peta yang mencantumkan nama Barousai, sebagai bandar niaga di pesisir Barat Sumatera yang menghasilkan wewangian dari sejenis kapur. Bahkan diceritakan pula bahwa kapur wangi yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dimanfaatkan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun sebelum Masehi.

Karena begitu pentingnya Barus, maka sejak lama sekali dalam dunia dagang dikenal nama-nama baros, balus, pansur, fansur, pansuri (dari desa Pansur sedikit di utara Barus), kalasaputra (dari kata Kalasan, daerah penghasil kapur barus antara kota Barus dan sungai Chenendang), karpura-dwipa, barousai (oleh Ptolomeus), warusaka dan lain-lain.
Prof. Kern pernah menulis bahwa kota “P’o-lu-chi” yang dimaksud I Tsing di abad ke-7, tidak lain adalah Barus. Begitu pula kerajaan “Ho-lo-tan” dalam tulisan-tulisan Cina, mungkin yang dimaksud adalah Kalasan, daerah penghasil kapur barus yang disebut diatas.
Penjelajah terkenal Marcopolo menjejakkan kakinya di bandar perniagaan Barus pada tahun 1292 M, sementara sejarawan muslim ternama, Ibnu Batutah mengunjungi Barus pada tahun 1345 M.
Berdasarkan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin, wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriah. Ini memperkuat data bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era tersebut.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 625 M – hanya berselang 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab – telah ada kampung kecil yang dihuni pemeluk Islam di sebuah pesisir pantai Barat Sumatera. Kampung ini berada dalam kekuasaan wilayah kerajaan Budha Sriwijaya. Disebutkan pula bahwa di daerah ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan pernikahan. Namun belum ada kesepakatan diantara sejarawan muslim, apakah Barus merupakan lokasi pertama masuknya Islam di Nusantara. Pandangan itu setidaknya mengemuka dalam seminar “Masuknya Islam di Nusantara” yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963. Dalam seminar itu Dada Meuraksa, sejarawan lokal, berkeyakinan bahwa Islam masuk ke Barus pada awal tahun Hijriah, berdasarkan penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin diatas.

Batu nisan itu menginformasikan bahwa Syekh Rukunuddin wafat dalam usia 100 tahun, 2 bulan, dan 22 hari pada tahun hamim aatu hijaratun Nabi. Tetapi pandangan Dada Meuraksa itu disangkal oleh ulama terkenal Sumut, HM Arsyad Thalib Lubis yang menganggap bahwa bukti nisan tidak dapat dijadikan dasar penentuan. Perbedaan pendapat itu berlangsung hingga belasan tahun lamanya. Baru pada tahun 1978 sejumlah arkeolog dipimpin oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar daerah Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog dari Universitas Airlangga itu meyakini Islam sudah masuk sejak tahun I Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat Dada Meuraksa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya.
Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus yang bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter lebih, diatas permukaan laut, menurut ustad Djamaluddin Batubara usianya lebih tua dari makam Syekh Rukunuddin, sekitar era 10 tahun pertama dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Menurut beliau, Syekh Mahmud adalah penyebar Islam pertama di Barus, sedangkan 43 ulama lainnya merupakan pengikut dan murid-muridnya.

Mengutip KOMPAS (Akhir Perjalanan Sejarah Barus, 1 April 2005), Daniel Perret dan kawan-kawannya dari Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO) Perancis bekerja sama dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) melakukan penggalian arkeologi di Lobu Tua (4 km kearah Barat dari Barus). Temuan mereka membuktikan bahwa pada abad IX-XII perkampungan multietnis dari suku Tamil, China, Arab, Aceh, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya juga telah ada di sana. Perkampungan tersebut dikabarkan sangat makmur mengingat banyaknya barang-barang berkualitas tinggi yang ditemukan.

Pada tahun 1872, pejabat Belanda, GJJ Deutz, menemukan batu bersurat tulisan Tamil. Tahun 1931 Prof Dr K A Nilakanta Sastri dari Universitas Madras, India, menerjemahkannya. Menurutnya, batu bertulis itu bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi di zaman pemerintahan Raja Cola yang menguasai wilayah Tamil, India Selatan. Tulisan itu antara lain menyebutkan tentang perkumpulan dagang suku Tamil sebanyak 1.500 orang di desa Lobu Tua yang memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan, dan ketentuan lainnya.
Namun, Lobu Tua yang merupakan kawasan multietnis di Barus ditinggalkan secara mendadak oleh penghuninya pada awal abad ke-12 sesudah kota tersebut diserang oleh kelompok yang dinamakan Gergasi.

Setelah ditinggalkan oleh komunitas multietnis tersebut, Barus kemudian dihuni oleh orang-orang Batak yang datang dari kawasan sebelah utara kota ini. Situs Bukit Hasang merupakan situs Barus yang berkembang sesudah penghancuran Lobu Tua.

Sampai misi dagang Portugis dan Belanda masuk, peran Barus yang saat itu telah dikuasai raja-raja Batak sebenarnya masih dianggap menonjol sehingga menjadi rebutan kedua penjajah dari Eropa tersebut. Penjelajah Portugis Tome Pires yang melakukan perjalanan ke Barus awal abad ke-16 mencatat Barus sebagai pelabuhan yang ramai dan makmur.

"Kami sekarang harus bercerita tentang Kerajaan Barus yang sangat kaya itu, yang juga dinamakan Panchur atau Pansur. Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatera namanya Baros (Barus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua," demikian catatan Pires.

Tahun 1550, Belanda berhasil merebut hegemoni perdagangan di daerah Barus. Dan pada tahun 1618, VOC, kongsi dagang Belanda, mendapatkan hak istimewa perdagangan dari raja-raja Barus, melebihi hak yang diberikan kepada bangsa China, India, Persia, dan Mesir.

Belakangan, hegemoni Belanda ini menyebabkan pedagang dari daerah lain menyingkir. Dan sepak terjang Belanda juga mulai merugikan penduduk dan raja-raja Barus sehingga memunculkan perselisihan. Tahun 1694, Raja Barus Mudik menyerang kedudukan VOC di Pasar Barus sehingga banyak korban tewas. Raja Barus Mudik bernama Munawarsyah alias Minuassa kemudian ditangkap Belanda, lalu diasingkan ke Singkil, Aceh.

Perlawanan rakyat terhadap Belanda dilanjutkan di bawah pimpinan Panglima Saidi Marah. Gubernur Jenderal Belanda di Batavia kemudian mengirim perwira andalannya, Letnan Kolonel Johan Jacob Roeps, ke Barus. Pada tahun 1840, Letkol Roeps berhasil ditewaskan pasukan Saidi Marah, yang bergabung dengan pasukan Aceh dan pasukan Raja Sisingamangaraja dari wilayah utara Barus Raya.

Namun, pamor Barus sudah telanjur menurun karena saat Barus diselimuti konflik, para pedagang beralih ke pelabuhan Sunda Kelapa, Surabaya, dan Makassar. Sementara, pedagang-pedagang dari Inggris memilih mengangkut hasil bumi dari pelabuhan Sibolga.

Barus semakin tenggelam saat Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada permulaan abad ke-17. Kerajaan baru tersebut membangun pelabuhan yang lebih strategis untuk jalur perdagangan, yaitu di pantai timur Sumatera, berhadapan dengan Selat Melaka.

Pesatnya teknologi pembuatan kapur barus sintetis di Eropa juga dianggap sebagai salah satu faktor memudarnya Barus dalam peta perdagangan dunia. Pada awal abad ke-18, Barus benar-benar tenggelam dan menjadi pelabuhan sunyi yang terpencil.

Kehancuran Barus kian jelas ketika pada tanggal 29 Desember 1948, kota ini dibumihanguskan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia karena Belanda yang telah menguasai Sibolga dikabarkan akan segera menuju Barus.


Panggilan dari Barus

Ketika saya memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke Barus atas undangan sesepuh Barus, Prof. Dr. Dachnel Kamars, MA, tentu saja tawaran ini saya sambut dengan sangat gembira.
Ini betul-betul merupakan kesempatan emas untuk melihat sendiri bagaimana kondisi kota kecil yang sempat menjadi emporium di masa lalu.


Begitulah, pada tanggal 30 Oktober 2011 saya yang belum sempat beristirahat setelah kembali dari Papua dan diikuti dengan meninggalnya adik kandung saya, harus berangkat lagi ke Barus melalui Medan dengan didampingi oleh M. Dachyar, anak Prof. Dachnel yang saya kenal baik sejak kecil.



Kami memasuki Barus melalui jalur Sibolga, setelah terbang dengan Wings Air dari Medan ke Sibolga selama 35 menit. Bandar udaranya begitu sederhana, dinamakan bandara Dr. Ferdinand Lumbantobing yang terletak di desa Pinang Sori, sekitar 30 km dari kota Sibolga.

Di bandara, kami sudah ditunggu oleh pak Rivai, staf STKIP Barus yang diutus oleh Prof. Dachnel.
Pemandangan yang terlihat dalam perjalanan dari airport menuju Sibolga dan Barus seakan mengkonfirmasi saya bahwa lokasi ini memang telah luput dari perhatian pemerintah. Kondisi jalan banyak yang rusak, amat kontras dengan apa yang saya lihat di kota-kota propinsi lain seperti Aceh dan Sumbar.


 
Pantai Binasi, Barus dengan pasir putihnya.


Karena ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Tapanuli Tengah, Dachyar bertindak sebagai tour guide dengan memperkenalkan beberapa tempat yang kami lewati. Kami singgah sebentar di pantai Pandan yang menjadi areal wisata warga Sibolga, lalu santap siang di Rumah Makan Pak Nas yang terkenal itu. Kami berdua memang sudah kelaparan karena di bandara  Soekarno-Hatta tidak sempat sarapan pagi. Kombinasi antara lapar dan lezatnya lauk, sungguh membuat makan siang kami begitu nikmat.
Perjalanan pun dilanjutkan menuju Barus dengan mengambil jalur di sepanjang pantai, sehingga kami bisa menikmati keindahan dam keasrian pantai Binasi yang berpasir putih di kecamatan Sorkam. Alangkah kontrasnya jika dibandingkan dengan kondisi pantai Ancol di Jakarta.


Akhirnya kami memasuki kota Barus ditengah guyuran hujan menjelang pukul empat sore dan langsung menuju kediaman keluarga Prof. Dachnel. Saya yang kelelahan sempat kawatir, apakah kondisi fisik saya cukup fit untuk melakukan pendakian ke makam Papan Tinggi esok hari. Seolah dapat membaca jalan pikiran saya, pak Dachnel diam-diam telah meminta seorang tukang urut untuk datang pada malam harinya khusus untuk memijat saya dan Dachyar.
Malam itu kami tidur lelap sekali.

Mendaki Makam Papan Tinggi


 

Anak tangga yang begitu panjang menuju makam di puncak bukit.

Pagi hari saya terbangun dengan kondisi badan masih pegal, namun sudah lebih  fit dibandingkan kemaren. Udara pagi di Barus ternyata cukup sejuk walaupun lokasinya tidak jauh dari tepi pantai.

Setelah sarapan pagi saya dan Dachyar berangkat menuju ke Makam Papan Tinggi di desa Pananggahan dengan membonceng dua sepeda motor yang dikendarai Eros dan Bambang, warga setempat.
Uniknya, mayoritas penduduk desa di desa Pananggahan justru masyarakat non-Muslim. Menjelang sampai ke lokasi kami melihat banyak babi peliharaan warga berkeliaran di pekarangan rumah-rumah.
Akhirnya kami tiba di tempat yang dituju. Saya agak terperangah melihat anak tangga yang seolah tiada habisnya menuju keatas bukit. Ternyata istilah makam Papan Tinggi bukan sekedar bualan belaka. Menurut penuturan Prof. Dachnel, anak tangga yang mengular ini dibuat ketika Raja Inal Siregar (alm.) menjadi Gubernur Sumut. Sebelum itu, mereka yang ingin menuju ke makam harus merangkak keatas, seperti yang dilakukan oleh Prof. Dachnel semasa kecilnya. Sungguh sulit untuk membayangkan hal ini.
Saya melihat ke sekeliling. Suasananya begitu teduh dan hening yang diselingi bunyi jangkrik di lingkungan pepohonan karet dan tanaman penduduk.

Awalnya saya berniat untuk mencoba menghitung jumlah anak tangga menuju Makam Papan Tinggi yang oleh salah satu literatur disebutkan sebanyak 744 anak tangga. Tetapi saya menyerah, tidak sanggup. Bukan apa-apa, saya pada akhirnya sudah repot sendiri mengurus pernapasan selama mendaki. Pada tempat-tempat tertentu ada tempat perhentian yang bisa digunakan untuk beristirahat. Di beberapa tempat perhentian sudah dibuatkan tempat duduk menggunakan semen yang kerjakan oleh Eros dan Bambang atas instruksi Prof. Dachnel. Menurut Eros, bangku-bangku itu sengaja buru-buru dikerjakan satu minggu sebelum kedatangan kami supaya bisa digunakan sebagai tempat beristirahat.

Ada satu peristiwa yang aneh terjadi sewaktu Eros, Bambang dan dua tukang lainnya tengah asyik mengerjakan bangku untuk istirahat itu. Tahu-tahu mereka berempat mendengar suara halus menyapa “Assalamu’alaikum”  sementara tidak ada siapapun  di sekitar tempat itu. Mereka berempat akhirnya berpikir bahwa mungkin itu merupakan salam dari penghuni makam, dan meneruskan pekerjaannya.
Saya setidaknya memerlukan 5 kali beristirahat dengan duduk dan mengatur napas sebelum akhirnya berhasil melihat pagar makam dengan kombinasi warna hijau dan biru. Kepenatan yang melanda seakan sirna begitu sampai diatas. Pemandangan kearah lautan lepas maupun ke bukit-bukit sekitar makam begitu mempesona. Ternyata kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai lokasi makam.

 

Makam Syekh Mahmud sepanjang 7 meter lebih. 

Alhamdulillah, saya bisa ziarah ke makam aulia yang didalam sejumlah literatur disebutkan sebagai makam Syekh Mahmud, penyebar agama Islam pertama di Barus. Makam tersebut diperkirakan panjangnya sekitar tujuh meter lebih dengan batu nisan besar setinggi 1,5 meter.
Sulit untuk membayangkan bagaimana batu nisan bertulisan Persia dan Arab yang terbuat dari batu cadas dengan berat ratusan kilogram itu bisa diangkut sampai di ketinggian ini.

 
Kompleks Makam Mahligai. 

Singkat cerita, kami pun tidak lupa mengunjungi makam Mahligai yang berlokasi di desa Dakka, hanya beberapa kilometer dari makam Papan Tinggi. Makam seluas 1,5 hektar itu berisikan sekitar 215 makam dengan batu nisan yang besar dan kecil yang ditandai dengan ukiran bergaya Arab. Disinilah tempat dimakamkannya  Syekh Rukunuddin (wafat 48 Hijiriah).


Riwayat Barus, Kini dan Harapan Masa Depan

Melihat kondisi kota Barus saat ini sungguh membuat kita prihatin.
Bagaimana tidak? Kota yang di masa lalu terkenal sebagai penghasil Kapur Barus dan rempah-rempah yang diperdagangkan sampai ke Arab dan Persia kini seperti diterlantarkan. Kota kecamatan ini tidak memiliki tempat penginapan yang memadai, tidak ada apotik dan hanya ada satu mesin ATM (di kantor cabang BRI). Jangan tanya soal convenience store seperti Alfa Mart, Indomaret atau fast food. Kami sempat kesulitan ketika ingin membeli Coca Cola kaleng di Barus.
Tidak heran jika Prof. Dr. Dachnel Kamars, MA sebagai sesepuh yang dituakan di Barus saat ini merasa sangat prihatin akan kemunduran kota Barus. Itulah yang membuat beliau terpanggil untuk kembali untuk membangun kampung halamannya , sementara mayoritas warga Barus pergi merantau ke kota-kota besar. Beliau memulainya dengan satu aktivitas yang paling mendasar, yaitu pendidikan dengan membuka Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Barus yang kini memiliki 600 mahasiswa. SDM memang merupakan isu yang paling krusial bukan hanya di Barus, tapi juga di daerah-daerah lainnya.

Seperti diutarakan oleh KOMPAS, Barus yang berjarak sekitar 414 km dari kota Medan tampaknya memang telah terlupakan. Pemerintah lebih tertarik mengembangkan perdagangan di kawasan pantai timur Sumatera, khususnya di sekitar Selat Malaka, dengan pusatnya di Batam dan Medan. Dominasi pembangunan pantai timur ini bisa dilihat pengiriman hasil bumi dari pedalaman pantai barat Sumatera yang harus melalui jalur darat untuk kemudian dibawa dengan kapal dari pelabuhan Belawan, Medan. Sedangkan untuk melayani arus perdagangan skala lokal di kawasan pantai barat Sumatera, pemerintah lebih tertarik mengembangkan pelabuhan yang lebih baru seperti Singkil di utara dan Sibolga di selatan. Kehebatan Barus sebagai bandar internasional benar-benar dilupakan. Kini, Barus tak lebih dari kota kecamatan lain di daerah pinggiran yang hampir-hampir tak tersentuh roda pembangunan. Sebagian besar warganya meninggalkan desa, mencari pekerjaan atau pendidikan di luar daerah.









Barus terkenal sebagai penghasil ikan kering .                                    Coklat, salah satu produksi Barus

Apakah Barus bisa bangkit kembali sebagai salah satu kota dan bandar niaga kelas internasional sebagaimana masa  lalunya, itu sangat tergantung kepada keseriusan pemerintah pusat, pemerintah setempat serta warga Barus dalam mengelola dan memberdayakan potensi sumber daya alam dan wisatanya yang melimpah itu. Semoga saja!

Aswil Nazir (9 November 2011)

DAFTAR PUSTAKA
  • Eramuslim digest, edisi koleksi no. 9, 2009
  • Akhir Sejarah Perjalanan Barus, KOMPAS, 1 April 2005
  • Barus, pintu masuk Islam pertama di Indonesia, WASPADA ONLINE, 7 Agustus 2011 (http://www.waspada.co.id) 
  • Rusli Amran, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, Bab I bagian 4, Kota Barus dan Kebudayaan Asal India Selatan, 1981.
  • Claude Guillot, Daniel Perret, Atika Suri Fanani (Translator), Marie-France Dupoizat, Untung Sunaryo, Heddy Surachman, Barus: Seribu Tahun Yang Lalu, KPG, 2008

Thursday, November 3, 2011

PUTU PIRING, Inovasi Kue Putu di Singapura

Kue Putu adalah jenis tradisional Indonesia berupa kue yang terbuat dari kukusan tepung beras yang diisi dengan gula jawa dan parutan kelapa. Kue putu tradisional yang kita temui selama ini dibuat dengan dikukus dengan ditaruh dalam tabung bambu dan dijual pada malam hari. Si penjaja kue putu tidak perlu repot-repot memanggil pembelinya karena suara khas "huuuuuuu" dari cerobong peluit yang tertiup uap dari alat kukus itu sudah jadi tanda pengenalnya.

Dengan berkembangnya jaman, kue putu yang tradisional ini juga mengalami perkembangan dalam pembuatan dan penampilannya. Di beberapa daerah kini bisa kita temui pedagang kue putu yang mengganti tabung bambu dengan pipa PVC yang tampaknya lebih praktis, walau segi kesehatannya bisa membahayakan.

Kue yang dalam bahasa Jawanya disebut puthu ini, konon kabarnya berasal dari Kerala, India. Apakah makanan tradisional Indonesia ini merupakan warisan dari pedagang Gujarat di masa lalu, tidak ada yang tahu. Kenyataannya, kue putu bisa kita temui hampir di seluruh pelosok nusantara. Malah kini sudah merambah ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Sekilas tentang riwayat Singapura
Singapura nyaris tidak punya peranan di dalam perkembangan sejarah Asia Tenggara sampai Sir Stamford Raffles mendirikan sebuah pelabuhan Inggris di tahun 1819. Dia menjumpai sebuah perkampungan Melayu kecil di muara Sungai Singapura yang diketuai oleh seorang Temenggung Johor.
Di bawah pemerintahan kolonial Inggris, Singapura telah menjadi pelabuhan yang amat strategis mengingat letaknya yang ada di tengah-tengah jalur perdagangan di antara India dan Cina yang akhirnya menjadi pelabuhan transit yang terpenting di dunia sampai hari ini.

Pada tahun 1840-an, setelah Inggris membubarkan desa terapung Melayu di muara Singapore River, orang-orang Melayu mulai menetap di daerah Geylang Serai.
Pada awal 1920-an, terjadi eksodus orang-orang Melayu dari daerah Kampong Glam ke  Geylang Serai, karena perebutan lahan yang berlarut-larut di Kampong Glam. Itulah sebabnya hingga kini Geylang Serai masih dikenal sebagai kantong Melayu di Singapura.

Agar dapat menarik minat wisatawan ke daerah tersebut, dikembangkanlah  Malay Village yang menampilkan budaya dan gaya kehidupan tradisional Melayu, lengkap dengan sebuah museum, toko-toko, dan tempat makan. Lokasi ini dibuka dari jam 10 pagi hingga jam 10 malam setiap harinya.
Maka jika Anda bosan dengan suasana serba glamour dan modern di kawasan Orchard, barangkali kunjungan ke Geylang Serai Market & Food Centre bisa menghilangkan kebosanan itu. Lokasinya persis di samping kanan Malay Village, salah satu pasar terbaik untuk  dikunjungi di Singapura yang tidak jauh dari Paya Lebar MRT Station.

PUTU PIRING, makanan favorit di Geylang Serai Market.
Salah satu kios makanan yang tidak pernah sepi dari pembeli, yang rela berlama-lama antri menunggu untuk dilayani, adalah kios PUTU PIRING. Di mata penduduk setempat, putu piring adalah variasi dari kueh Tutu (dari Malaysia), kue putih kecil yang terbuat dari tepung Melayu dan diisi dengan gula Melaka untuk dimakan dengan kelapa parut. Padahal sesungguhnya putu piring tidak lain adalah jenis kue putu yang dimasak dengan cara yang berbeda dengan cara tradisional kita.

Putu Piring dipersiapkan diatas sepotong kain putih yang melapisi piring-piring metal (dengan tutup berupa kerucut) yang diletakkan diatas kukusan. Agar lebih jelas, dapat dilihat dari gambar disamping. Untuk memberikan aroma khas, belakangan ditambahkan pula daun pandan kedalam kukusan.

Kios putu piring yang sering meraih "Best Food Awards" dari Green Book Singapore saat ini dikelola oleh hajjah Zilla bersama suaminya, Haji Hashin. Menurut pengakuannya, usaha jualan kue putu ini dirintis oleh neneknya, Mislawia di kawasan Geylang tersebut sejak tahun 1940.

Saat ini hajjah Zilla dan suaminya telah melakukan inovasi dalam menjajakan bisnis keluarganya tersebut. Maka lahirlah produk PUTU PIRING yang ditawarkan dengan harga yang sangat terjangkau, cuma $1 untuk 3 potong. Tetapi Anda memang harus sabar menunggunya sebelum dapat mencicipi kelezatan dan lembutnya kue berwarna putih selembut kapas itu.

Faktor kerapihan dan kebersihan dalam mengukus putu piring juga menjadi daya tarik para pembeli, disamping cita rasanya yang memang menggelitik lidah.













 

Itulah sekilas kisah inovasi bisnis kue putu di Singapura, yang ironinya justru mulai terlihat langka di negeri asalnya, Indonesia.

Ciputat, 31 Juli 2011.

Wednesday, November 2, 2011

Cemilan Ringan dari Padang: RAKIK UDANG SAIA (halus)



Kata Rakik di telinga orang Minang tidaklah asing lagi. Rakik adalah sebutan untuk makanan cemilan sejenis rempeyek. Bentuknya ada yang bulat dan ada yang persegi empat, dengan warna merah kuning ke coklat-coklatan. Aroma kunyit dan cabainya terasa agak kuat. Adonannya terdiri dari campuran tepung beras dan tepung terigu dengan tambahan bumbu halus seperti cabai, bawang putih, merica, irisan daun jeruk, kunyit dan daun ketumbar yang diaduk rata dengan air. Kemudian adonan ini dicetak dalam sendok ceper yang dicelupkan ke dalam minyak penggorengan hingga matang. Jenis rakik juga ada beberapa macam. Misalnya rakik maco (maco: sejenis ikan teri), rakik ikan bilih yang banyak dijual di sekitar danau Singkarak dan rakik udang.

Rakik yang hendak kita bahas disini adalah jenis rakik udang saia (udang halus) yang diberi label Rakik Udang Mila.
Ketika ditemui di pondokannya yang sangat sederhana di jalan Bukit Ngalau, Indarung, ibu Eni si pembuat rakik hanya  menjelaskan bahwa usahanya itu awalnya hanya sebagai tambahan nafkah buat keluarga. Eni dan suaminya Sardi yang mengaku sebagai keturunan dari transmigran Jawa di Sitiung ini memulai usaha kecil-kecilan ini sejak pindah ke Padang tahun 2000 lalu. Awalnya pembuatan rakik udang hanya dikerjakan oleh Eni dengan bantuan suaminya, di warung sempit yang digunakannya untuk berdagang kelontong. Dengan berjalannya sang waktu, usahanya terus berkembang dan kapasitas produksi rakiknya naik secara bertahap dari beberapa puluh bungkus sehari, kini menjadi 150 bungkus per hari. Itupun setelah ia mempekerjakan 3 orang pembantu dan mengontrak satu ruang kecil disamping rumahnya yang digunakan khusus sebagai dapur. Pembuatan rakik ini dikerjakannya setiap hari mulai selepas subuh hingga siang hari setelah waktu dhuhur.

Nah, mungkin anda akan bertanya, apa yang khas atau istimewa dari rakik udang Mila ini?
Nama “Rakik Udang Mila” memang tidak berarti apa-apa bagi kita yang sering mampir belanja di toko oleh-oleh terkenal seperti Christine Hakim atau Shirley di kota Padang. Namun citarasa rakik udang Mila tidak kalah dengan rakik yang dipajang di toko oleh-oleh yang punya nama itu, dengan harga separuhnya atau bahkan kurang.

Kalau pepatah Inggris berbunyi "Seeing is believing", dalam hal citarasa rakik udang ini mungkin ungkapan yang lebih tepat adalah "Tasting is believing". Ibarat pepatah "tak kenal maka tak sayang", maka saya jamin sekali mencoba rakik udang Mila, anda akan sulit untuk menghentikan selera yang diterbitkannya. Rakik ini kalau digigit terasa begitu gurih, kriuk-kriuk renyah dengan aroma wangi kunyit dan daun jeruk dan sedikit pedas. Maka tidaklah heran jika rakik bikinan ibu Eni saat ini terpilih sebagai makanan cemilan salah satu perusahan katering terkenal di kota Padang.

Itulah sekilas tentang “RAKIK UDANG MILA” di Bukit Ngalau Indarung, Padang yang walaupun lokasinya tidak terlalu jauh dari kompleks pabrik Semen Indarung, namun karena harus masuk melalui jalan kecil dan tidak ada papan penunjuk, kita bisa saja salah jalan.  

Ciputat, 11 Agustus 2011

Tuesday, November 1, 2011

IDIOT'S GUIDE TO RUMAH SI PITUNG

Perjalanan napak tilas kali ini memang berasal dari ide bantal, yaitu ide spontan yang muncul ketika tidur-tiduran diatas bantal. Kami berempat, saya bersama Wibi, Dirjo dan Tri karena alasan tekniis terpaksa membatalkan touring ke Ujung Kulon yang sesungguhnya sudah direncanakan lama sebelumnya.
Maka sebagai penggantinya, daripada bengong di rumah, muncullah ide untuk berkunjung ke Rumah si Pitung di kawasan Marunda pada hari Minggu pagi, 3 April 2011. Kebetulan Tri yang punya hobi mancing, mengaku familiar dengan kawasan tersebut.
Tanpa banyak persiapan, kami pun berkumpul di Citos sekitar jam 8 pagi untuk bersama-sama menuju target area. Disepakati pula bahwa dari Marunda kita akan napak tilas ke beberapa obyek di kota tua. Dalam hal ini saya, Dirjo dan Tri mengandalkan sepenuhnya kepada pengetahuan Wibi yang telah mempersiapkan dua buku andalannya, "The Social World of Batavia" oleh Jean Gelman Taylor dan "Nathaniel's Nutmeg" karya Giles Milton. Saya sejujurnya tidak paham tentang apa sesungguhnya yang dibahas oleh dua buku tersebut. Baru belakangan setelah searching di Google saya sadar bahwa buku kedua, Nathaniel's Nutmeg ternyata berkisah tentang perjalanan para penjelajah Eropa di abad ke-15 mencari pulau rempah-rempah yang sekarang dikenal sebagai kepulauan Banda di Maluku. Jadi tidak terkait langsung dengan Batavia.

Begitu berangkat dari Citos pukul 8 pagi, target utama adalah mencari tempat makan, karena sarapan pagi termasuk bagian dari rencana awal. Thanks God, begitu keluar dari pintu belakang Citos menuju jalan Cilandak Tengah, ada spanduk yang agak provokatif bertuliskan KETAN SUSU dengan arah panah ke kiri. Tanpa perlu voting, semuanya sepakat untuk memilih sarapan di kedai KETAN SUSU. Not bad lah, walau tidak terlalu istimewa.

Prinsip pepatah lama memang tepat sekali, "gendang gendut tali kecapi - kenyang perut senanglah hati". Dengan disopiri Dirjo kendaraan bermuatan turis lokal ini melaju di jalan Tol TB Simatupang kearah Cilincing dan Marunda. Begitu akan memasuki kawasan Marunda, mulai terjadi diskusi alot antara Dirjo sebagai sopir dan Tri sebagai pemandu tentang arah yang akan dilalui. Tapi tokh kami berhasil mencapai dermaga (kok dermaga sih?) di areal KBN Marunda.

 

setelah menyeberangi muara untuk menuju lokasi rumah si Pitung. 

Sebetulnya saya mulai bertanya-tanya dalam hati, kok jalur menuju Rumah si Pitung tidak sama dengan informasi di beberapa website? Disana disebutkan bahwa kita akan berjalan kaki melalui jembatan kayu reyot (karena belum diperbaiki oleh Pemda DKI), sementara kami berhenti di tepi dermaga KBN Marunda yang sepi. Tri bilang bahwa kita harus menyeberang dengan sampan. Naik sampan memang bukan favorit saya, tetapi kekawatiran tentunya tidak harus diperlihatkan. Apalagi menurut Tri lokasi Rumah si Pitung sudah berada di seberang kanal atau muara tersebut.
Kebetulan ada sampan sederhana yang memang sedang menunggu penumpang, sehingga kami pun menyeberangi muara dengan bayaran Rp 3000 per orang. Cuma butuh waktu kurang dari 5 menit untuk sampai di seberang. Kita pun meminta bapak si pemilik sampan untuk menunggu sekitar 1 jam, untuk menyeberangkan kami kembali.

 
di pintu masuk Rumah si Pitung.

Tri ternyata tidak membual. Kami pun berhasil mencapai rumah si Pitung setelah menyusuri gang sempit diantara gubuk-gubuk sederhana dan kumuh.
Inilah rupanya rumah si Pitung yang sesungguhnya merupakan rumah yang pernah menjadi korban perampokan si Pitung. Diperkirakan rumah tersebut didirikan kira-kira pada abad ke- 19. Perkiraan ini didasarkan pada kejadian perampokan rumah tersebut pada tahun 1883. Dengan demikian, rumah yang artistik dengan lantai 1,5 meter dari permukaan tanah itu telah berusia 100 tahun lebih.

Menurut kisah yang diutarakan oleh Alwi Shahab, ia merupakan anak bungsu dari pasangan suami istri Piun dan Pinah. Dalam belajar ilmu silat dari gurunya di Rawabelong, yang bernama Naipin, dia juga memperoleh ilmu kekebalan.

Pitung merasakan kehidupan orang Betawi dan Belanda (Eropa) terlalu kontras. Para penjajah yang disebut tuan besar, termasuk tuan-tuan tanah yang hidup mewah, sementara warga Betawi hidup menderita. Itulah yang membuat ia suka melakukan perampokan terhadap orang-orang kaya dan tuantuan tanah, yang membelenggu petani dengan berbagai blasting (pajak). Hasil rampokannya itu dibagikan kepada masyarakat miskin.

Menurut buku Sejarah Kampung Marunda yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Permuseuman DKI Jakarta, beberapa kali Si Pitung ditangkap dan dipenjarakan, tetapi selalu dapat meloloskan diri. Karena itu, ia dijadikan legenda, bisa menghilang dan tidak mempan oleh peluru. Karena aksi-aksinya yang membuat panik penjajah dan keamanan di Batavia terganggu, Belanda pun menugaskan Scehout (kini kira-kira Kapolsek) memimpin operasi penumpasan. Karena dikhianati salah satu kawannya, dia ditembak oleh Scehout Heyne dan pasukannya, dengan peluru emas yang khusus disediakan untuk melawan kesaktiannya.

Sampai kini, tidak diketahui letak makam Robin Hood dari Betawi ini. Ada yang menyebutkan, penembakan terjadi di Jembatan Haji Ung, Kemayoran. Mayatnya dikuburkan dengan kepala dan badan terpisah. Kepalanya dikubur di dekat pabrik arak dan badannya dikubur di daerah Bogor. Sampai akhir hayatnya, Pitung tidak sempat berkeluarga. Versi lain menyatakan, mayatnya dikubur di daerah Pejagalan, Jakarta Barat, dan dijaga militer selama enam bulan.

Berkunjung ke Rumah si Pitung dianggap kurang afdol jika tidak singgah ke Masjid Al-Alam (GPS -6° 5′ 38.83″, +106° 57′ 35.86″) yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana. Masjid Al-Alam Marunda, yang dulu dikenal dengan nama Masjid Aulia Marunda, menurut legenda dibangun hanya dalam semalam dan merupakan salah satu masjid tertua di wilayah Jakarta yang konon dibangun pertama kali oleh Fatahillah dan pasukannya pada 1527 setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. Saat menyerbu VOC di Batavia pada 1628-1629, pasukan Mataram juga menjadikan Masjid Al-Alam Marunda dan daerah sekitarnya sebagai pangkalannya. Banyak kisah heroik yang disimpan oleh masjid ini. Menurut Alwi Shihab, tentara Demak, Si Pitung, Si Ronda, Si Jampang, Si Mirah dan lainnya pernah bersembunyi di sini dari kejaran Belanda. Mereka bisa selamat karena menurut cerita, bila bersembunyi di Masjid ini mereka tidak akan kelihatan."


Disamping masjid ada sebuah sumur tua yang usianya ratusan tahun dan sampai saat ini air masih tetap mengalir dan tidak pernah kering. Khusus mengenai sumur ini Dirjo merasa heran karena rasa airnya sama sekali tidak asin, bahkan terkesan agak manis.


Bagian dalam Masjid Al-Alam Marunda ini terkesan sederhana, dengan empat pilar besar pendek penyangga atap masjid, serta pilar yang lebih kecil pada bagian mihrab. Konstruksi tiang sokoguru ini dibangun pada abad ke-18 dengan beberapa tulisan kaligrafi menempel pada dindingnya.
Bagian mihrab dengan kaligrafi arab berbentuk setengah lingkaran, mengikuti bentuk lengkung mihrab. Tersembunyi di balik tembok ruang imam, adalah sebuah tongkat Khotib yang hanya dipakai ketika sembahyang Jumat atau pada Hari Raya.

Perjalanan singkat ke Rumah Pitung dan Masjid Al-Alam di Marunda ternyata tidak memakan waktu lama. Perkiraan waktu satu jam seperti yang dijanjikan kepada si bapak pemilik sampan tidak terlalu meleset. Sehingga kami pun kembali menyusuri gang kecil tadi untuk menuju dermaga dan menyeberangi muara.
Oh iya, ada yang pernah disampaikan disini bahwa ketika akan kembali, ketauan bahwa ada jalur lain menuju rumah si Pitung yang tidak perlu menggunakan sampan. Itu dia jalur yang saya baca di beberapa website, tapi ya sudahlah. Lumayan juga sebagai bahan cerita, pengalaman naik sampan menuju Rumah si Pitung gara-gara ulahnya Tri.

Mission accomplished dan perjalanan napak tilas masih akan dilanjutkan menuju kota tua, Old Batavia.

Ciputat, 4 April 2011.

Kota tua BATH: Menjaring Wisatawan melalui pelestarian sejarah


"Oh, who can ever be tired of Bath?"
(Jane Austen, 'Northanger Abbey')

'They arrived in Bath.Catherine was all eager delight; - her eyes were here, there, everywhere, as they approached its fine and striking environs, and afterwards drove through those streets which conducted them to the hotel. She was come to be happy, and she felt happy already'.
 (Jane Austen, 'Northanger Abbey')

 
Jane Austen Centre di 40 Gay Street, Bath.

 Dua kutipan diatas merupakan penggalan dari isi novel "Northanger Abbey", karya Jane Austen, novelis terkenal di abad ke-18. Ia menulis dua dari enam novelnya, Northanger Abbey dan Persuasion, dengan mengambil plot di Bath dan bermukim disana selama kurun waktu 1801-1806. Novel lainnya yang juga populer adalah 'Pride and Prejudice', 'Sense and Sensibility', 'Emma' dan 'Mansfield Park'.

Ketika berkesempatan mengunjungi kota Bath di penghujung bulan Oktober 2010, saya cukup surprise melihat banyaknya jumlah turis yang datang, padahal hari itu bukan weekend atau hari liburan, sementara menurut literatur, penduduk kota Bath hanyalah sekitar 84 ribu jiwa. Belakangan saya dengar bahwa kota ini dikunjungi oleh lebih dari 3 juta pengunjung setiap harinya. Konon daya tarik utama Bath adalah sejarah kota tuanya yang dikaitkan dengan mata air panas dan beberapa embel-embel lain seperti kisah di novel Jane Austen diatas, misalnya.

SEJARAH KOTA BATH
Kota ini awalnya merupakan sebuah resor spa yang memiliki mata air panas dengan nama Latin, Aquae Sulis (air Sulis) yang didirikan oleh Roma di tahun 43 Masehi. Nama Bath Spa pun dikenal karena adanya mata air panas itu. Saat itu orang-orang Roma datang ingin menaklukkan Inggris. Sampai ke daerah ini, mereka mengetahui ada tiga sumber air panas dari orang Inggris lokal ketika itu.

Tetapi, mereka lebih tertarik dengan tempat suci Celtic di mata air utama yang disebut King's Bath spring. Mereka menemukan sumber air panas itu sebagai spa atau sumber air mineral yang berguna untuk kesehatan. Air dan uapnya telah memberikan inspirasi yang banyak bagi bangsa Romawi dan Celts. Bagi orang Roma waktu itu, hal ini merupakan penemuan ajaib di Inggris.
Sumber air panas itu mengandung mineral yang menakjubkan. Ada 43 jenis mineral yang berbeda terkandung di dalamnya sementara temperaturnya konstan 50 derajat Celcius. Air itu mereka yakini berkhasiat membunuh semua kuman penyakit di dalam dan di luar tubuh, khususnya penyakit rematik.

Akhirnya sekitar tahun 70-an Masehi, mereka malah tinggal dan mulai membangun tempat mandi air panas dan kuil di perbukitan sekitar Bath di lembah sungai Avon. Kota ini semua dibangun dengan batu kapur yang diperoleh dari lembah.
Bangsa Romawi ini sempat menempati Bath Spa selama 350 tahun. Kemudian mereka pergi. Dan, generasi selanjutnya yang menempati tanah itu adalah orang-orang Jerman dari The Saxon. Mereka membangun kota lagi.

Pada tahun 1700 Raja Inggris datang ke Bath Spa untuk mengambil air, karena ia mengawini wanita asing dari daerah Continent (benua Eropa selain Inggeris) yang juga mempunyai spa.
Raja dan Ratu Inggris datang ke Bath dan ingin memiliki segalanya. Bath yang semula merupakan  kota yang miskin dan kecil, tiba-tiba telah menjadi kota yang penuh dengan bangunan berarsitektur indah, karena yang datang kesini adalah mereka yang sangat kaya.
Tidak hanya orang kaya Inggris saja, tetapi orang kaya Perancis dan Jerman banyak yang datang. Di tahun 1700, mereka yang datang ke sini biasanya untuk berlibur selama tiga bulan. Mereka gemar menikmati arsitektur gaya Paladian yang berasal dari Romawi Kuno. Sebut saja Paladian City, Inggeris akhirnya memang menjiplak gaya arsitektur Paladian di Bath. Biasanya orang-orang kaya berjalan-jalan di kota dalam suatu parade.

Pergantian generasi demi generasi menyebabkan kota yang pertama kali dibangun orang Roma itu hilang jejaknya sekitar 1000 tahun. Ketika itu orang Inggris hanya berpikir bahwa mereka hanya punya sumber air panas.

 
Pintu masuk "The Pump Room"

Barulah ketika tahun 1790, dibangun Pump Room, mulai tersibak adanya peninggalan Roma. Ketika membangun Pump Room ditemukan adanya tangga-tangga candi yang merupakan bagian dari Roman Baths. Candi itu sendiri ternyata berada di bawah Pump Room itu.

Tetapi, penemuan itu tidak diteruskan selama hampir 80 tahun. Hanya setiap 100 tahun kegiatan ekskavasi (penggalian) dilakukan orang-orang Inggris sedalam satu kaki. Baru 1960-an diadakan penggalian besar-besaran hingga ditemukan mata air keramat di dalam Roman Baths dan di bawah bangunan Pump Room itu. Semua pekerjaan selesai tahun 1983, ternyata Roman Baths itu terletak enam meter di bawah jalanan kota Bath Spa yang sekarang.
 
Gerbang masuk The Roman Bath, selalu melalui antrean panjang.

 



Roman Baths itu kurang lebih masih terlihat lengkap. Tinggi Roman Baths 60 kaki dari dasar tanah. Semula mempunyai atap terbentuk kubah terbuat dari kayu. Kemudian pada zamannya diganti dengan batu. Tetapi, sekarang atap itu tidak ada lagi. Sehingga kita bisa melihat langit dari dalam museum itu.

Sekarang sebagian bangunan modelnya terbuat dari kayu. Setidaknya mendekatkan pada bentuk aslinya. Misalnya, masih ada dinding batu yang tidak utuh. Maka untuk menggambarkan dinding yang utuh dibuatkan dinding kayu.

Kini kota tua Bath termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Bath merupakan sebuah kota modern yang sibuk dan sangat menarik sebagai tempat tinggal maupun bekerja, dipenuhi oleh pelajar dan turis.

Salah satu obyek menarik di kota tua Bath adalah "Sally Lunn cakes" di Sally Lunn's tearoom yang berada di bangunan tertua di kota Bath, di 4 North Parade Passage. Konon ini dulunya adalah nama pengungsi Perancis bernama Sally Lunn (yang nama aslinya diduga Solange Luyon), yang pindah ke bangunan ini di tahun 1680 dan menjadi terkenal dengan kue bikinannya. Tapi ternyata ada beberapa versi lain tentang sejarah Sally Lunn ini. Tetapi hal itu tidaklah penting bagi sebagian besar turis, karena target utama mereka adalah mencicipi Sally Lunn cakes yang legendaris tersebut.



Keanggunan kota tua Bath menempati urutan teratas dalam tujuan wisata di Inggris. Sumber air panas yang menjadi obyek turis itu terletak di kota kecil Bath Spa, satu-satunya daerah yang menyimpan sumber air panas di Inggris. Kini sumber air panas yang diperkirakan sebagai peninggalan kerajaan Roma 2000 tahun lalu, telah diabadikan dalam museum Roman Baths. Menarik untuk melihat kenyataan betapa kedatangan para turis ke Bath bukanlah bukanlah karena khasiat airnya, melainkan karena sejarah penemuannya.

 
di Royal Victoria Park. 
Taman ini dibuka oleh Princess Victoria ketika berusia 11 tahun di tahun 1830.


Bath adalah sebuah kisah yang mengagumkan tentang upaya pelestarian sejarah suatu bangsa, sesuatu yang tampaknya masih merupakan utopia di bumi nusantara kita tercinta ini. Obyek semacam ini yang tampaknya lebih cocok menjadi target pembelajaran dan tujuan studi banding bagi para pengelola negara kita. Semoga.

(bahan rujukan: http://www.tnol.co.id/id/travel-living, http://visitbath.co.uk dan buku "Did you Know? BATH a Miscellany")

Ciputat, 26 Maret 2011.

A Trip Report: Visit to Spectacular BROMO


Indonesia sepatutnya berbangga. Gunung Bromo yang terletak di Probolinggo, Jawa Timur masuk tiga besar gunung terbaik di dunia bagi para pendaki. Gunung Bromo cuma kalah dari dua gunung lainnya, yakni Gunung Elbrus di Rusia dan Gunung Olympus di Yunani.Seperti dikutip detikcom dari situs www.lonelyplanet.com, Rabu (28/4/2010), Gunung Bromo bahkan mengungguli 7 gunung terkenal di dunia yang termasuk 10 besar gunung terbaik di dunia yang layak untuk didaki seperti Jebel Toubkal di Maroko, Gunung Matterhorn di Switzerland, Gunung Table di Afrika Selatan, Gunung Ben Nevis di Skotlandia, Gunung Sinai di Mesir, Gunung Fuji di Jepang, dan Gunung Half Dome di Amerika Serikat.
 
Pemandangan kawah gunung Bromo dilihat dari puncak gunung Penanjakan -2 Agustus 2010

Inilah salah satu alasan kenapa saya begitu berhasrat untuk mengunjungi kawasan eksotik ini. Hanya saja sejumlah kendala temasuk alasan pekerjaan belum memungkinkan niat ini terlaksana.Namun akhirnya momen itu pun akhirnya tiba, bertepatan dengan berakhirnya masa kerja saya pada hari Jum'at, 30 Juli 2010 (persisnya pensiun saya jatuh di tanggal lahir, Minggu 1 Agustus 2010). Usia 55 tahun perlu disambut dengan suasana yang berbeda, dan daerah wisata Bromo mungkin merupakan pilihan yang menarik bagi keluarga.

Maka sebulan sebelumnya saya mencoba menyusun rencana perjalanan untuk mengunjungi Bromo bersama Inet (isteri) dan Giri (putra kedua). Mengingat Inet dan Giri belum pernah berkunjung ke jawa Timur, saya memilih kota Malang dan Blitar sebagai obyek kunjungan awal sebelum menuju Bromo. Ada dua teman kantor yang membantu agar itenary yang disusun benar-benar realistis, mengingat saya masih awam dengan daerah Jawa Timur.

Hari-H pun tiba. Dengan mengucapkan 'bismillah' kami terbang ke Malang dengan pesawat Sriwijaya Air jam 7 pagi. Ketika check-in, saya sempat bersitegang dengan sang petugas karena tiket kami bertiga terkena time limit (alias statusnya tidak confirm). Saya jelas tidak mau terima, walau petugas Sriwijaya Air bilang bahwa hal ini kesalahan travel bureau kami. Persoalannya, kalau batal berangkat pagi itu, jadwal perjalanan yang sudah diatur rapih, bakal berantakan. Timing buat saya amatlah krusial. Ada sekitar 20 menit menunggu kepastian di counter check-in sebelum boarding pass kami di-rilis oleh petugas check-in.

 
Gunung Arjuno yang terlihat cukup jelas dari halaman rumah Fajar.

Singkat cerita, pesawat mendarat dengan mulus di bandara Abdulrahman Saleh, Malang. Disana sudah menunggu kolega saya eks IBM, sdr. Fajar Asikin. Setelah beristirahat dan dijamu oleh Fajar dan isteri di rumahnya nan asri, kami pun memulai perjalanan menuju kota Blitar dengan menggunakan Panther yang sudah di booking untuk 3 hari. Cukup surprise juga melihat kenyataan bahwa lalu-lintas di kota-kota seperti Malang dan Blitar di hari Sabtu tidak luput dari kemacetan. Penyebabnya antara lain adalah banyaknya sepeda motor yang berseliweran di jalan.
Sorenya kami kembali ke Malang dan menginap di hotel Tugu Malang. Saya sengaja memilih hotel ini karena nuansa eksotiknya walau harus membayar sedikit lebih. Sekitar jam 8 malam kami menikmati ayam goreng Pemuda (yang katanya tidak buka cabang dimana-mana) bersama adik kelas SMP saya, dr. Tjoky Panggabean. Acara dinner ini juga sudah diatur sebelumnya, karena sebagai dokter, Tjoky yang bertugas di RSUD Pare, Kediri harus khusus datang ke Malang.
Saya sudah hampir 40 tahun tidak ketemu Tjoky, jadi pertemuan ini sungguh mengesankan apalagi disertai keluarga masing-masing. Kami keasyikan mengobrol sambil menikmati gurihnya ayam goreng hingga tahu-tahu semua meja lainnya sudah kosong. Artinya, kami harus segera angkat kaki dari sana.

Esok paginya dengan kondisi agak mengantuk kami meneruskan perjalanan menuju Bromo dengan singgah dulu ke candi Singosari dan kota Pasuruan. Kasihan juga memaksa Inet dan Giri untuk buru-buru berbenah, tetapi soalnya jadwal perjalanan kami cukup ketat.Di Singosari praktis kami tidak melihat sesuatu yang berarti, bahkan Inet berkomentar spontan bahwa dua arca besar yang bercokol di kiri kanan jalan sepertinya bukan arca asli lagi. Saya hanya bisa diam karena memang tidak punya kompetensi dalam hal ini.
Bagi saya mengunjungi candi Singosari hanya untuk membuktikan sejumlah artikel yang menyatakan bahwa bangunan candi Singosari yang tersisa nyaris berupa puing-puing tak berharga, sementara banyak arcanya yang telah diboyong ke negeri Belanda. Dari Singosari kami melanjutkan perjalanan ke kota Pasuruan. Target saya adalah menunaikan shalat dhuhur di masjid agung Pasuruan yang di dalam kompleknya terdapat makam seorang wali Allah, yaitu Kiai Hamid. Sayang sekali saya tidak bisa terlalu mendekati makam karena dipadati oleh peziarah yang tengah melantunkan doa shalawat bersama.

Perjalanan pun diteruskan menuju arah kota Probolinggo. Kita mampir makan siang di restoran Rawon Nguling yang memajang baliho foto Presiden SBY ketika berkunjung ke restoran tersebut. Menurut saya, masakan rawon disini memang lebih nikmat dibandingkan masakan rawon yang pernah saya cicipi selama ini.
Setelah melalui perjalanan yang agak berliku dan menanjak, sekitar jam 4 sore kami tiba di Cafe Lava Hostel yang telah saya booking satu bulan sebelumnya. Lokasinya berada di Cemoro Lawang yang umum dilalui para pendaki gunung Bromo.
Kami disambut ramah oleh staf hostel dan diminta menyelesaikan pembayaran dimuka, termasuk biaya sewa jeep untuk menuju puncak Penanjakan dan kawah Bromo. Setelah selesai memasukkan barang-barang ke kamar, kami berkendaraan menuju Lava View Lodge Hotel yang disebut-sebut memiliki pemandangan indah kearah lautan pasir.

 
Pemandangan Lautan pasir Bromo yang terlihat dari depan Lava View Lodge Hotel.

Karena lokasinya berada di dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, setiap pengunjung domestik dikenai biaya Rp 6000 per orang. Sementara warga asing dikenai biaya Rp 25.000/orang. Ternyata apa yang ditulis oleh literatur memang benar. Pemandangan kearah lautan pasir Bromo memang mengagumkan dan suhu udaranya sungguh sejuk. Pantas saja Lava View Lodge selalu fully booked. Santap malam kami lakukan secara cepat di restoran Cafe Lava karena ingin buru-buru istirahat. Soalnya jam 3:30 akan dibangunkan oleh staf hotel untuk diberangkatkan ke puncak Penanjakan jam 4 pagi. Padahal saya ingin melewatkan malam hari di tempat terbuka karena langit terlihat penuh dengan bintang dan tidak ada awan sama sekali. Giri sempat berkomentar bahwa dia tidak pernah melihat langit di malam hari yang bebas awan dan penuh dengan bintang-bintang. Sungguh ciptaan Allah yang mengagumkan.

 
Siap-siap menuju puncak Penanjakan dan Bromo.

Saya terbangun ketika petugas hostel mengetuk-ngetuk pintu kamar menjelang jam setengah empat pagi.
Dalam kondisi masih ngantuk, lelah dan dingin yang menusuk tulang, kami segera mengenakan pakaian berlapis yang sudah disiapkan dari Jakarta. Perangkat ini termasuk mantel tebal, topi kupluk, sarung tangan, kaos kaki dan scarf (syal). Ya, ini juga yang membuat koper-koper kami nyaris overweight di bandara. Persis jam 4 pagi kami bertiga berjalan menuju jalan raya dan disana jeep hardtop kami sudah stand-by.Kamera pocket Canon S90 yang menjadi andalan untuk dokumentasi perjalanan tidak mungkin saya lupakan dan baterainya sudah terisi penuh.Ternyata jalan raya dini hari itu sudah ramai dan hingar bingar dengan suara mobil jeep hard top yang bergerak menuju kawasan Taman Nasional Bromo. Kami tanpa sadar terbawa oleh suasana perjalanan yang terasa exciting dan heroik. Betapa tidak, sejauh mata memandang baik ke depan maupun ke belakang yang terlihat adalah iring-iringan puluhan bahkan mungkin seratusan jeep Toyota hardtop dengan ban radial mendaki jalan sempit, berliku dan tidak mulus. Tujuan pertama adalah puncak gunung Penanjakan yang merupakan gunung tertinggi di kawasan itu. Ada sekitar 30 menit lebih perjalanan menuju puncak Penanjakan hingga driver kami menemukan ruang parkir di tepi jalanan yang sempit, sekitar 300 meter dari gerbang masuk puncak Penanjakan.

Begitu turun mobil, tukang ojek motor berebutan dengan orang-orang yang menawarkan penyewaan jaket, topi kupluk dan syal. Begitu heboh. Saya sempat berdebat dengan Inet yang ngotot mau naik ojek karena merasa ngga kuat untuk berjalan mendaki yang lumayan kemiringannya. Akhirnya saya mengalah sehingga kita pun naik ojek dengan bayaran Rp 10 ribu per ojek, kecuali Giri yang memilih berjalan kaki keatas. Ojek berjuang menerobos kepadatan pendaki lainnya, dan .... guess what? Tidak sampai 5 menit, kami sudah sampai di anak tangga menuju puncak Penanjakan. Lha, kalau tahu begini mending jalan kaki aja. Tak lama kemudian Giri sudah bergabung dengan kami. Di kanan kiri jalan menuju puncak banyak warung yang menawarkan mulai dari kopi hangat, jagung bakar, souvenir hingga penyewaan pakaian tebal. Pokoknya suasananya heboh, tak obahnya seperti los pasar Tanah abang. Bedanya, mayoritas pengunjungnya turis asing berkulit putih. Oh ya, keramaian disini lebih mirip dengan kios-kios di Phuket, Thailand di malam hari.

 
                              
     pemandangan kearah Selatan, terlihat kawah gunung Bromo. 

Akhirnya ...... kami pun mencapai puncak gunung Penanjakan, berdesakan dengan pengunjung lainnya untuk menyaksikan terbitnya matahari dari balik pegunungan. Subhanallah, sungguh merupakan pemandangan yang teramat indah. Sesaat saya speechless, lalu teringat penggalan ayat Ali Imran 191: Rabbana ma khalaqta haza bathila.. subhanaka faqina azabannar..~ Tuhanku,tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia2, Maha suci Engkau..maka peliharalah aku dari azab api neraka... Dalam kerumunan yang dinominasi oleh turis asing, kuping saya mendengar logat bahasa yang beraneka ragam. Sekilas saya bisa membedakan antara bahasa Perancis, Belanda dan Jerman, disamping bahasa yang asing sama sekali buat saya. Saya sempat menyapa satu turis yang ternyata jauh-jauh datang dari St. Petersburg, Rusia hanya untuk Bromo dan melihat Komodo. Waktu saya tanya komennya, sambil geleng-geleng kepala dia berkomentar dalam bahasa Inggris yang patah-patah, "this view makes me crazy". Waduh, saya merasa malu sambil membatin ke diri sendiri, 'kemana aja loe selama ini'. Orang asing saja begitu menghargai keindahan alam kita, sementara saya baru berkesempatan kesini di usia senja, 55 tahun.

Perjalanan diperkirakan sekitar 30 menit, melalui lautan pasir yang cukup luas untuk menuju tempat perhentian kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menaiki kuda.Dengan alasan kendala fisik, kami memilih untuk naik kuda saja dengan bayaran resmi, Rp 100 ribu per kuda untuk pulang pergi.Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di tangga menuju kawah Bromo. Kuda yang dinaiki berjalan dengan pelan karena dituntun pemiliknya. Jalan yang dilalui agak mendaki dan bergelombang. Jalan mendaki dengan bukit pasir bisa menyulitkan bagi yang tidak terbiasa menunggang kuda. Saya sebetulnya agak mengkawatirkan Inet, tapi semangatnya untuk dapat sampai ke kawah Bromo ternyata mengatasi kendala ini dan terlihat begitu menikmati perjalanan mengarungi lautan pasir yang terbentang mengelilingi gunung Bromo dan gunung Batok yang sangat unik dan cantik.Setelah turun dari kuda, kami baru menyadari betapa tingginya tangga yang harus didaki yang katanya berjumlah 253 anak tangga menuju puncak Bromo. Keraguan Inet muncul lagi dan mengatakan bahwa dia merasa tidak sanggup naik keatas, biar menunggu saja dibawah. Saya hampir mengiyakan, tapi akhirnya berhasil meyakinkannya bahwa kita bisa naik perlahan-lahan dan berhenti dulu jika lelah.


 
Menaiki tangga perlahan sambil terengah-engah. Inilah resikonya kalau kurang olahraga.

 
Giri terlihat lelah dalam perjalanan, namun tetap exciting.

 
Pemandangan setelah turun dari kuda dibawah anak tangga menuju puncak.

 
Lelah tetapi puas. Itulah yang tergambar dari ekspresi wajah diatas puncak Bromo
dengan latar belakang gunung Batok.

Akhirnya kesabaran dan perjuangan itu membuahkan hasil. Kami berhasil mencapai puncak gunung Bromo. Alhamdulillah. Diatas sudah banyak pengunjung yang berdesakan berdiri di pagar puncak gunung melihat kebawah, kearah kawah Bromo yang mengeluarkan asap belerang tipis. Pemandangannya yang mirip dengan fenomena alam gunung tangkuban perahu, yaitu kawah yang menghasilkan asap karena aktifitas gunung berapi. Hanya bedanya kawah Bromo lebih sempit dan terfokus di satu titik, tidak seperti tangkuban perahu. Di puncak gunung Bromo ini lukisan alam begitu menakjubkan kami saksikan. Pura terlihat kecil dan persegi panjang. Di sebelah gunung Bromo, gunung Batok berdiri dengan gagahnya. Suhu yang dingin membuat betah berlama-lama menyaksikan pemandangan yang luar biasa ini. Suhu Bromo tidak sedingin di puncak gunung Penanjakan, hanya terasa dingin sejuk.Tapi akhirnya kami tokh harus mengakhiri pemandangan ini karena kuda dan jeep hardtop sudah menanti. Menjelang jam 8 pagi kami menuruni anak tangga menuju tempat kuda-kuda menunggu.

 
Kawah Bromo dilihat atas. Bau belerangnya cukup menyengat.

 
 
Dalam perjalanan kembali dari puncak Bromo, berhenti sejenak di depan pura.

 
Naluri ibu-ibu, sebelum meninggalkan lokasi masih tergoda sama penjaja kaos Bromo.

Perjalanan kembali mengarungi lautan pasir kali ini dilalui dengan santai, penuh rasa puas.  
Now I have been to Bromo. So what next? 

Ciputat, 5 Agustus 2010