Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Sunday, February 19, 2012

Obrolan Ringan Soal Simbol Status


Minggu lalu saya menerima kiriman SMS yang isinya kira-kira begini:
Apa kabar Aswil. Ini dari ...... Dimana anda sekarang? Maksud saya, sudah jadi bos apa?”

Isi pesan singkat itu membuat saya tersenyum karena datangnya pada waktu yang sangat pas, yang dalam kosa kata sistem informasi disebut dengan istilah “just in time”. Ya, masuknya SMS kawan ini hanya sehari setelah saya mengulas topik “simbol status kemapanan” seseorang bersama beberapa teman kuliah.

Awalnya salah seorang teman saya mengungkapkan bahwa dia agak risih kalau diundang ke acara reunian alumni sekolahnya, walaupun sebenarnya begitu ingin untuk bertemu dengan sobat-sobat lama. Pasalnya, dalam suasana keakraban tersebut seringkali terlontar pertanyaan seperti kalimat diatas, seperti “sudah jadi boss belum?” atau pertanyaan yang lebih spesifik “si anu sudah jadi direktur belum?

Bagi sesama teman akrab, pertanyaan semacam itu tentunya tidak menjadi soal karena biasanya tidak bermaksud merendahkan satu sama lain. Tetapi kalau individu yang ditanya sedang sensi (sensitif) dan kondisi kehidupannya memang  susah, pertanyaan tersebut bisa merusak suasana keakraban.

Saya pribadi kebetulan tidak pernah mempersoalkan hal-hal kecil semacam itu ketika hadir dalam acara reuni atau silaturahmi eks teman-teman sekolah masa lalu.  Tetapi diskusi soal status teman-teman lama yang meroket ke posisi puncak dalam karirnya cukup sering terdengar. Pernyataan seperti “si Ahmad sudah jadi Presdir lho” atau “hebat ya si Munir, perusahaannya sudah buka cabang dimana-mana” tidak perlu dibuat heran. Itu biasa, dan sejak dulu fenomena semacam ini sudah ada.

Salah seorang teman menyebutkan bahwa di tahun 70 an dia pernah mendengar kalimat seperti ini, “hebat tuh si Polan, di rumahnya ada piano. Padahal pembantunya aja ngga bisa main piano”.
Ungkapan ini konon merupakan pengakuan akan status seseorang sekaligus sindiran. Maksudnya, orang yang dimaksud pasti kaya karena mampu membeli piano yang mahal. Namun juga menyindir, buat apa buang-buang duit untuk membeli piano karena seisi rumahnya tidak satupun yang bisa main piano, sekalipun pembantu rumah tangganya.

“Namun ada juga masa dimana simbol status kesuksesan diukur dari pintu rumah,” kata teman saya lainnya.
“Lho, kok pintu rumah?,” tanya saya.
“Ya, memang begitu. Kalau pintu rumahnya terbuat dari kayu jati, pasti dia sudah sukses. Kan harga kayu jati itu mahal,” ujar teman tersebut.
Kita yang terlibat dalam diskusi itu cuma tertawa sambil geleng-geleng kepala.

Teman lain ngga mau kalah menimpali, bilang bahwa sejak tahun 90-an kemapanan juga diukur dari ada atau tidaknya kolam renang di rumah seseorang. Ada juga yang memperlihatkan statusnya melalui koleksi moge (motor gede) sekaliber Harley Davidson.

Tapi sekali waktu saya mendengar kalimat yang agak berbeda dari seorang  teman yang sudah menjadi pengusaha sukses. Ketika bertanya tentang keberadaan teman lama yang juga terbilang sukses, dia melontarkan pertanyaan: “Rumahnya sudah pakai lift atau belum?
Walah, rupanya simbol kemapanan sudah bergeser dari kolam renang menjadi lift.
Kira-kira setelah lift, nanti apa lagi ya simbol status yang menunjukkan kesuksesan seseorang?” tanya saya ke teman-teman.
Langsung ada yang menimpali, “nanti akan datang masanya dimana helipad di rumah seseorang menjadi simbol status. Kita tunggu aja, kalau ngga percaya!
Dalam hati saya membatin, prediksi itu boleh jadi benar adanya. Bukankah sudah ada satu dua rumah konglomerat yang sekarang sudah punya helipad?

Ngobrol soal duniawi ini kalau mau diteruskan bakal tidak ada ujungnya, bisa melebar kemana-mana dan kita bisa larut didalamnya. Padahal Allah Swt sudah mengingatkan dalam firman-Nya seperti yang disebutkan dalam surat Al Hadiid ayat 20:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. “

Maka cukup mengherankan kalau simbol status di dunia ini menjadi topik perbincangan. Kok jadi sesuatu banged ya..?

Ciputat, 19 Februari 2012.

Saturday, February 11, 2012

Hallyu: Demam Korea Yang Membius

Beberapa hari yang lalu saya melihat satu narasi artikel yang menyebut  Virus budaya kontemporer Hallyu yang mengakibatkan "demam Korea" sudah menginfeksi Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir.

Hemm, istilah apa lagi nih, pikir saya dalam hati. Sayangnya artikel itu tidak sempat saya baca keseluruhannya karena sedang terburu-buru untuk urusan lain. Belakangan ketika sedang santai, saya coba nanya ke mbah google perihal demam Korea dengan menggunakan keyword “hallyu”. Hasilnya? Sungguh mencengangkan buat saya yang sudah cukup lama tidak memperhatikan negeri ginseng tersebut.



 Seoul di tahun 1980 an
Saya pertama kali menginjak kaki di Seoul, ibukota Korea Selatan pada tahun 1983, hampir 29 tahun yang lalu. Ketika itu Korea terkesan baru bangkit dengan suasana ibukota yang mulai dipenuhi oleh skyscrapers (gedung perkantoran bertingkat tinggi). Jakarta jelas tertinggal jauh, namun Korea secara umum masih berada dibawah bayang-bayang kejayaan Jepang. Belakangan saya sempat mengulangi kunjungan ke Seoul pada tahun 1986 dan terakhir kali tahun 1989 untuk keperluan training. Kota Seoul terlihat semakin berkembang dan menarik bagi orang asing.

Bicara tentang Seoul atau Korea secara umum, ada beberapa kenangan yang masih tersisa di memori saya. Yang pasti, saya tidak mungkin lupa dengan Lotte department store yang gedungnya menjadi tempat favorit bagi para turis. Di tahun 80 an saja gedung Lotte sudah terlihat megah dan komplit isinya. Tapi entah kenapa, saya paling tertarik dengan aneka permen yang dipajang di Lotte tersebut. Ternyata perasaan saya tidak salah, karena Lotte itu awalnya adalah perusahaan permen karet yang didirikan tahun 1948 di Jepang. Konon nama Lotte diambil dari dari nama tokoh CHARLOTTE dalam kisah The Sorrows of Young Werther. Pemuda Takeo Shigemitsu si pendiri perusahaan Lotte sangat mengagumi dan menjadikan gadis muda Charlotte sebagai sumber inspirasi.

Satu hal lagi yang juga tidak saya lupakan adalah cara  beroperasinya taksi di Seoul. Ketika saya menaiki taksi untuk kembali ke hotel sehabis jalan-jalan ke Lotte department store,  tahu-tahu ditengah jalan taksi saya diberhentikan orang lain dan dipersilahkan naik sama sang sopir. Saya cuma melongo dan tidak sempat bertanya kenapa penumpang lain diijinkan naik. Sempat berpikir, kok taksi disini beroperasinya ibarat angkutan umum yang boleh menaikkan penumpang lain di jalanan. Belakangan saya memperoleh penjelasan bahwa taksi disana memang begitu, kecuali kalau sedari awal kita bilang sama sopir taksinya untuk tidak sharing dengan penumpang lain, dan tentu saja bayarannya akan berbeda. Saya tidak tahu apakah pola operasi taksi sharing seperti itu masih ada sekarang.

Satu lagi hal yang berkesan buat saya adalah buah jeruk berukuran kecil yang rasanya manis sekali yang disebutkan berasal dari pulau Jeju (Jeju Island). Perlu diingat bahwa pada saat itu (tahun 80 an) buah-buahan impor masih sangat langka di Indonesia dan harganya selangit. Ketika saya masih sering bertugas ke Pekanbaru di awal tahun 90 an, banyak kios-kios buah yang menawarkan buah import seperti sunkist, apel, anggur dan pear (selundupan) dari Singapore. Buah import ini banyak diminati oleh para pelancong sebagai buah tangan ketika kembali ke kota asalnya. Kini buah-buahan impor sudah banyak kita temui di toko buah atau supermarket di kota-kota besar Indonesia.

Korea Selatan menurut hemat saya boleh dibilang sebagai salah satu pioneer dalam jiplak menjiplak produk, jadi bukan Cina. Di akhir tahun 80-an, produk branded seperti tas wanita dan sepatu merk terkenal sudah bisa ditemui imitasinya di lokasi pasar gelap Seoul. Hebatnya, produk jiplakan ini juga punya kualitas yang berbeda-beda, dari yang paling mirip sama aslinya (premium class), lalu KW1 hingga KW3. Tentu saja harga yang ditawarkan sesuai dengan kualitas yang dimiliki produk tersebut. Belakangan ternyata Cina juga mengikuti jejak Korea ini.

Nasionalisme dan semangat kerja orang Korea menurut saya tidak kalah dengan Jepang, walau mereka tidak mau disamakan dan terkesan punya "dendam" sama orang Jepang. Sewaktu pertama kali mengunjungi Seoul di tahun 1983, saya dijamu makan malam sama salah seorang teman Korea. Dia datang ke hotel tepat waktu sambil membawa buah tangan berupa gantungan kunci khas Korea, tape cassette lagu pop Korea dan jeruk Jeju yang manis itu. Lalu saya ditraktir makan di restoran Korea tentunya, sambil diterangkan menunya satu persatu. Terasa sekali betapa mereka sangat membanggakan produk dan segala sesuatu yang berbau Korea. Pertemuan malam itu diakhiri menjelang pukul 10 malam karena sahabat saya itu harus menemui customernya di pub untuk urusan bisnis. Karena melihat saya terheran-heran, dijelaskannya bahwa appointment dengan customer di malam hari untuk urusan bisnis itu hal yang biasa di Korea. Saya hanya geleng-geleng kepala, kinerja dan stamina kerja orang Korea ternyata jauh berbeda dengan rata-rata pekerja di negara kita. Di Indonesia, jam kerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore pun sering di korting, alias menghilang di tengah jam kerja.

Korean Wave, sejak kapan?
Hallyu atau Korean Wave ("Gelombang Korea") adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia. Umumnya Hallyu memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan kebudayaan Korea.

Kegemaran akan budaya pop Korea dimulai di Republik Rakyat Cina dan Asia Tenggara mulai akhir 1990-an. Istilah Hanliu, (Bahasa Korea: Hallyu) diadopsi oleh media Cina setelah album musik pop Korea, HOT, dirilis di Cina.  Serial drama TV Korea mulai diputar di Cina dan menyebar ke negara-negara lain seperti Hongkong, Vietnam, Thailand, Indonesia, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Latin dan Timur Tengah. Pada saat ini, Hallyu diikuti dengan banyaknya perhatian akan produk Korea Selatan, seperti masakan, barang elektronik, musik dan film. Fenomena ini turut mempromosikan Bahasa Korea dan budaya Korea ke berbagai negara.

Berbagai stasiun televisi Indonesia mulai menayangkan drama produksi Korea Selatan setelah RCTI yang mempelopori pemutaran drama Endless Love (Autumn in My Heart).  Para sineas drama di Korea mulai menyadari daya jual drama Korea sangat tinggi di negara-negara tetangganya sehingga produksi serial mereka menjadi komoditas ekspor.  Puncaknya terjadi saat serial Winter Sonata diputar di Jepang, Cina, Taiwan dan Asia Tenggara.  Sejak saat itu istilah "Hallyu" atau "demam Korea" muncul.

Demam Korea rupanya berdampak begitu jauh dan terkadang membuat penggemarnya berlaku di luar nalar. Lihat saja kisah Rhiannon Brooksbank-Jones, seorang pelajar kelahiran Inggris yang nekad mengoperasi lidahnya agar dapat melafalkan bahasa Korea dengan sempurna. Pasalnya, Jones yang sudah mengambil kursus bahasa Korea selama dua tahun merasa kesulitan mengucapkan beberapa kata dengan tepat.

Seorang wanita asal Taiwan yang keranjingan serial drama Korea hampir kehilangan penglihatannya. Wanita berusia 40 tahun ini dilaporkan selama tiga hari berturut-turut hanya tidur dua jam demi menyaksikan serial drama Korea kesayangannya. Seperti dikutip dari situs Soompi, setelah menyadari penglihatannya telah berubah kabur, wanita itu bergegas mendatangi rumah sakit. Ia ingin mengetahui kondisi kesehatan matanya. Seperti dilaporkan media Taiwan, ia didiagnosis menderita glaukoma ganas yang mungkin bisa membuatnya buta.

Drama Korea memang merupakan salah satu penyebab Hallyu di sejumlah negara. Drama Korea terkenal dengan ceritanya yang bagus, seru, dan selalu bikin penasaran. Membuat orang yang menggemari drama pasti tergila-gila dengan Drama Korea dan tidak sabar ingin menonton kelanjutannya, bahkan ada yang bener-bener Korea addicted, sampai-sampai berulang-ulang nonton drama Korea yang disukainya tanpa bosan, seperti drama Korea fenomenal Secret Garden yang telah meraih berbagai penghargaan (award) di tahun 2010 dan 2011.

Virus hallyu yang melanda dunia secara mengejutkan telah membuat budaya Korea menjadi barometer para penggemarnya di berbagai negara. Banyak diantara mereka yang rela melancong ke negeri ginseng yang berada di Semenanjung Asia Timur itu hanya untuk menonton konser artis idola dan berbelanja pernik-pernik Korea. Lebih hebat lagi, malah ada paket tour ke Korea untuk napak tilas mengunjungi lokasi-lokasi tempat syuting drama Korea yang populer.

Demam K-Pop rupanya bukan hanya melanda negara-negara di Asia, tetapi juga merambah ke Amerika. Salah satu girlsband yang terdiri dari 9 gadis cantik, Girl’s Generation atau SNSD membuat debut di Amerika dengan tampil pada ‘The Late Show with David Letterman‘ pada tanggal 1 Februari yang lalu.Talk show TV David Letterman ini terkenal dengan tamu-tamu selebritinya, mulai dari bintang papan atas Hollywood hingga politisi, atlet, dan penyiar berita. Program ini dianggap sebagai salah satu program TV tengah malam yang paling popular di Amerika.

Seharusnya belajar dari Korea
Apa yang ditulis diatas sesungguhnya hanya sebagian dari virus hallyu yang melanda dunia. Dalam sektor bisnis seperti segmen produk elektronika dan otomotif, K-wave juga mendominasi di banyak negara. Di jaman dahulu, ketika disebutkan nama Korea, kita biasanya teringat akan ginseng dan taekwon-do. Tapi kini, segmen industri kita dibanjiri oleh produk-produk Korea. Iklan merk seperti LG, Hyundai, Samsung misalnya, bisa kita temui dimana-mana. Lotte Mart yang bergerak di sektor retail mulai bersaing dengan outlet-outlet lokal sebagaimana hanya dengan restoran-restoran Korea.
Kita patut bertanya, apakah serangan K-Wave ini hanya faktor kebetulan atau memang merupakan hasil dari sebuah kerja keras?

Sebagai manusia yang berpikir, tentu saja kita akan cenderung menyatakan bahwa  kemajuan pesat yang dialami Korea Selatan adalah hasil dari kerja keras baik dari pemerintah maupun anak bangsanya. Banyak faktor penyebab suksesnya yang kalau dalam dunia bisnis disebut “key success factors”.

Faktor nasionalisme menurut hemat saya memegang peranan penting, disamping semangat kerja dan daya juang yang kuat. Faktor "dendam" bangsa Korea terhadap Jepang agaknya menjadi salah satu pemicu yang efektif dalam pencapaian prestasi industri mereka. Dari sisi pemerintah, sektor pendidikan sejak puluhan tahun lalu sudah diperkuat dengan alokasi dana pendidikan dan penguatan bidang matematika dan sains. Tampaknya pemerintah mereka sadar betul bahwa kekuatan SDM di bidang matematika dan sains merupakan fondasi bagi kualitas produk industrinya kelak. Di bidang hukum pemerintahnya juga “committed” dan memberantas korupsi tanpa pilih bulu. Sungguh ibarat siang dengan malam jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di negeri kita. Tapi yang paling penting dan krusial adalah faktor perencanaan yang matang dan komprehensif. Pemerintah Korea paham betul akan tujuan yang ingin dicapai dan apa fokus dan prioritasnya.

Singkat kata, kemajuan dan leadership Korea Selatan dalam hampir semua aspek adalah hasil dari kerja keras seluruh komponen bangsa mereka dengan endurance yang belum tertandingi oleh negara-negara lain. Jadi sama sekali tidak ada “magic” disini. Bukankah itu sesuai dengan prinsip “no pain no gain”?

Namun apa yang terjadi di negara kita, kondisinya sungguh kontras. Kalau faktor dendam anak bangsa Korea terhadap Jepang bisa menjadi pemicu prestasi, seharusnya kita juga bisa berbuat yang sama. Bukankah kita juga pernah lama dijajah oleh Belanda dan lalu oleh Jepang? Kenapa ya, rasa "sakit hati" itu tidak mampu kita translasikan menjadi cambuk penyemangat untuk mengalahkan negara-negara penjajah itu dalam sektor industri, SDM dan seni budaya seperti halnya kasus Korea? Apa yang terjadi di bumi pertiwi belakangan ini justru tumbuh kembangnya perilaku oportunis, hedonis dan prinsip yang ingin serba instan, tapi tidak mau bekerja keras.
Nah, ini kan jelas-jelas melanggar konsep sunnatullah. Yang namanya keberhasilan dan kesuksesan itu tidak ujug-ujug jatuh dari langit, tapi harus melalui proses. Saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya mukjizat seperti yang dikaruniai  Tuhan kepada para Nabi di masa lalu.

Annyeonghaseyo kawan-kawan ...

Ciputat, 11 Februari 2012.

Saturday, January 14, 2012

MEMAHAMI GENERASI Z DI ERA SERBA DIGITAL

Anda sering melihat anak remaja di jalanan, di sekolah, di tempat umum atau bahkan di rumah dengan earphone atau headphone yang menempel di telinganya? Itulah salah satu ciri Generasi Z, yang sulit dipisahkan dari handphone dan portable MP3 Player dalam kehidupannya, yang seolah-olah tidak bisa melepaskan diri dari musik. Mereka terkesan cuek atau bisa dibilang budek, karena ketika dipanggil orang tuanya seringkali tidak memberi respon saking asyiknya menikmati suara musik di telinganya.

Entah siapa yang memprakarsai istilah generasi Z ini, tetapi menurut literatur penggolongan generasi telah dimulai sejak tahun 1965, tatkala barang-barang konsumsi seperti perangkat teknologi mulai diproduksi secara masal di Amerika.

Setiap generasi periodenya sekitar satu dekade atau atau lebih, memiliki keunikan karakteristik masing-masing. Generasi yang awal dinamai Baby Boomers. Mereka itu merupakan kelompok masyarakat yang hidup setelah Perang Dunia II (dari 1946 hingga 1964). Konon diberi nama Baby Boomers karena semasa hidupnya generasi ini terjadi peningkatan jumlah kelahiran di seluruh dunia. Pada generasi ini mulai dikenal TV hitam putih.
Berikutnya adalah Generasi X (mereka yang lahir dari tahun 1965 hingga 1980). Mereka yang lahir pada generasi ini bertumbuh kembang dengan video games dan MTV, serta menghabiskan  masa remajanya di tahun 80-an.
Sesudahnya muncul Generasi Y, (dari 1981 hingga 1995)  yang lebih dikenal dengan generasi Milenium. Mereka berkembang seiring dengan banyaknya kemajuan dunia, diantaranya perkembangan komunikasi massa dan awalnya Internet.
Generasi terkini adalah Generasi Z, anak-anak yang lahir sesudah tahun 1994. Ada pendapat lain yang menyebut bahwa Generasi Z dimulai dari tahun 1990.
Yang jelas, Generasi Z atau terkadang disebut juga Generasi Net adalah mereka yang hidup pada masa digital, atau lebih spesifik “native digital”.

Berbagai artikel yang mengulas subyek ini rata-rata menuliskan bahwa  karakteristik yang menyolok dari Generasi Z antara lain adalah mereka yang
  1. Punya akses yang cepat terhadap informasi dari berbagai sumber
  2. Mampu ber-multitasking (mengerjakan beberapa aktivitas secara bersamaan)
  3. Lebih menyenangi hal-hal yang berbau multimedia
  4. Lebih suka berinteraksi di jejaring sosial seperti facebook, twitter, Yahoo Messenger dan  BBM
  5. Dalam belajar, lebih menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan
Sesungguhnya tidak perlu heran terhadap kekhasan karakteristik Generasi Z diatas, karena mereka lahir pada era dimana Internet mulai berkembang dan tumbuh sejalan dengan perkembangan media digital elektronik. Jadi wajar kalau mereka akrab dengan piranti digital seperti handphone, laptop dan gadget elektronik mutakhir lainnya.

Di satu sisi kita boleh kagum akan kecepatan Generasi Z beradaptasi dengan dunia digital. Mereka tidak perlu lagi ikut kursus komputer sebagaimana halnya generasi orang tuanya. Para orang tua zaman sekarang bisa tercengang melihat kepiawaian anak-anaknya berchatting ria di dunia maya, mengetik cepat diatas toets smartphone atau mencolek layar tablet PC. Tidak jarang kita lihat orang tua yang justru berguru kepada sang anak bagaimana cara berkomunikasi di dunia maya.

Tetapi generasi ini harus patuh kepada analogi hukum kekekalan energi, bahwa dimana ada keunggulan pasti ada kelemahan. Karena terbiasa dengan dunia digital yang umumnya serba instan, anak-anak yang terlahir di era generasi Z biasanya tidak terlalu suka dengan proses, mereka tidak sabaran dan ingin segalanya serba instan. Makanan instan pun jadi kegemaran mereka. Makanya anak-anak generasi Z umumnya tidak paham dengan proses.

Kondisi ini bukan salah mereka, tapi memang situasi zaman yang telah berubah. Kalau di era pra-digital kita terbiasa dengan kamera foto analog dengan film 35mm yang harus melalui proses cuci cetak, anak-anak generasi Z justru akrab dengan digital camera yang bisa menghasilkan gambar foto secara instan yang bisa langsung dicetak ke kertas dalam hitungan menit saja. Mereka tidak paham dengan cara pembuatan foto yang harus melalui proses pencucian film foto di kamar gelap. Kini banyak kita temui anak-anak yang belajar animasi dan desain tanpa memiliki skill menggambar, sesuatu yang sukar dilakukan pada era pra komputer digital. Padahal idealnya mereka harus melalui proses belajar menggambar dahulu sebelum beranjak ke tingkatan yang lebih tinggi, sebagai designer. Keinginan serba instan ini pula yang menjerumuskan sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) muda yang tergiur mengambil jalan pintas untuk menjadi kaya secara instan. Tidak percaya? Coba saja simak pemberitaan beberapa media cetak dan elektronik belakangan ini yang mengangkat topik “rekening gendut PNS muda”.

Era digital juga membuat Generasi Z kurang trampil dalam berkomunikasi verbal. Mereka terbiasa berkomunikasi dengan gadget elektronik, apakah melakukan chatting via messenger atau SMS. Saya pernah memergoki dua kakak beradik tengah berkomunikasi via chatting, padahal mereka berada di satu ruangan, malah duduk berdekatan. Ini sih kebangetan pikir saya, karena mereka kan bisa saja berkomunikasi secara langsung. Jadi jangan heran kalau ada yang menamakan generasi ini dengan istilah silent generation.

Kegemaran akan dunia maya inilah yang menjadi sasaran kritik para humanis seperti Mark Slouka. Anak-anak generasi Z menjadi sulit untuk membedakan antara realitas nyata dengan realitas maya. Seperti yang pernah saya singgung dalam artikel “teknologi maju dan alam yang terkembang”, mereka tidak akrab dengan alam. Mereka melihat dunia dari balik kaca belaka.

Konon dampaknya Generasi Z akan benar-benar dirasakan sekitar tahun 2020, ketika mereka berusia sekitar 25 tahunan, saat memasuki dunia kerja. Mereka diyakini akan sangat tergantung kepada perangkat digital untuk hampir seluruh aktivitasnya. Bagi Generasi Z, kecepatan (speed) adalah kunci keberhasilannya, sejalan dengan kegemaran mereka terhadap yang serba instan. Siapa yang paling cepat memperoleh informasi, memasuki pasar, akan memenangi pertarungan. Ironinya, kecepatan itulah yang dapat membuat mereka terisolasi dari alam nyata, seolah pohon yang tercerabut akarnya, terlepas dari tanah.

Maka para orang tua masa kini memliki tantangan baru, yaitu bagaimana untuk menyikapi anak-anak generasi Z dengan bijak. Orang tua selain harus menjaga komunikasi dua arah dengan sang anak, kini juga harus bisa menjelaskan kepada si anak bahwa proses itu merupakan aspek penting, jangan dilupakan. Bahkan konsep dasar bekerjanya sebuah komputer modern  sekalipun adalah INPUT – PROSES – OUTPUT.

Ciputat, 14 Januari 2012.

Sunday, January 8, 2012

Antara Teknologi Maju dan Alam Yang Terkembang

  Pepatah “Belajar dari alam yang terkembang” agaknya perlu dirunut ulang atau direvisi kembali. Bukannya mengingkari leluhur atau mau sok pintar, tapi saya hanya merasa kesulitan untuk mewujudkan himbauan bijak itu di abad modern, abad serba hi-tech saat ini.

Falsafah arif diatas sesungguhnya telah teruji berabad-abad dan diamini oleh banyak pemikir di bumi nusantara ini, itu tidak mungkin salah. Mewujudkan harapan untuk dekat dengan alam, semestinya tidak susah-susah amat tentunya. Mereka yang hidup di alam pedesaan, di lereng gunung Merapi misalnya, pasti paham sekali betapa bijaksananya para orang tua kita tempo doeloe. Sungguh banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik oleh manusia yang katanya ciptaan Allah paling mulia ini, dari peristiwa yang terjadi di alam semesta.

Di abad-abad silam, nenek moyang kita bisa hidup tenang dan akrab dengan alam. Mereka bertani tanpa merusak gunung dan ekosistem, padahal mereka tidak pernah duduk di sekolah tinggi atau magister pertanian manapun. Mereka melaut dan menangkap ikan tanpa merusak terumbu laut atau mengotori laut dengan sampah manusia.

Kini, pendidikan manusia di dunia telah sedemikian majunya. Di kota-kota besar kita bisa lihat dengan kasat mata betapa banyaknya dan sekolah-sekolah tinggi yang menawarkan gelar yang ditengarai akan meningkatkan harkat dan martabat si penyandangnya. Syaratnya cuma satu, harus punya kocek yang cukup tebal. Lha jelas tokh? Apapun harus pake duit di jaman hi-tech dan hedonis ini.

Tapi bukan cuma pendidikan umum saja yang berkembang pesat. Di negeri ini sekolah-sekolah agama tidak mau kalah, juga bertaburan. Tidak cukup dengan itu, kelompok pengajian, kelompok zikir pun belakangan ini semakin banyak kita temui di hampir semua kota besar bumi pertiwi ini. Kita tentu akan bersyukur dalam hati, bahwa ternyata kehidupan manusia Indonesia bukan melulu mengejar materi dan duniawi, tetapi juga urusan spiritual.

Namun ironinya, apa yang kita saksikan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari sungguh membuat cemas hati ini.
Manusia yang seharusnya paripurna ini, yang telah mengenyam pendidikan tinggi dan rohaninya berisikan ayat-ayat Allah, kok masih banyak yang berperilaku anomali, yang melanggar rambu-rambu Sang Pencipta serta merusak alam ciptaan-Nya? Kehidupan yang modern serta teknologi tinggi membuat si manusia lupa diri, ibarat kacang yang lupa pada kulitnya, melupakan alam semesta yang memayungi dan melindunginya.

Seyogyanya seseorang yang memiliki pendidikan tinggi itu semakin arif dan bijaksana. Bukankah ada pepatah, bahwa padi itu semakin berisi semakin merunduk. Tapi apa yang kita saksikan saat ini, rata-rata kejahatan dan penyelewengan kelas kakap di kota-kota besar, pelakunya justru mereka yang status dunianya terhormat, orang-orang terpelajar. Mereka pun menjarah masuk ke pelosok, ke daerah-daerah terpencil yang memiliki kekayaan alam melimpah. Alam pun dikuras dan dirusak, demi untuk memuaskan nafsu lawwamah mereka. Astaghfirullah!

Allah sesungguhnya Maha Tahu, sehingga jauh-jauh hari telah mengingatkan umatnya untuk tidak merusak alam. Lihat saja salah satu penggalan terjemahan firman-Nya berikut ini:
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42

Juga di dalam surat Al Baqarah Allah SWT telah memberi peringatan: “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. 2 : 11).

Intinya, ternyata pendidikan tinggi itu tidak serta merta berbanding lurus dengan perilaku dan pribadi seseorang. Banyak diantara kita yang seolah pohon yang telah tercerabut dari akarnya, sehingga tidak lagi akrab dengan alam.
Ada yang menyalahkan teknologi yang saking majunya membuat manusia lupa diri, lupa  segalanya.
Ah, masa iya sih?

Baiklah kita longok sejenak, dunia modern dewasa ini yang bisa membuat teknologi menjadi kambing hitam. Tentu banyak diantara kita yang telah pernah mendengar istilah cyberspace (dunia maya). Perkembangan teknologi satu dekade terakhir ini nyaris mencengangkan orang awam dan membuat cemas para humanis yang mencermati pesatnya pergerakan teknologi ini terutama di era Internet saat ini.

Salah satu humanis yang gencar mengumandangkan kegalauan hatinya terhadap perkembangan teknologi ini adalah Mark Slouka, seorang dosen di bidang sastra dan budaya di Universitas California, San Diego. Dalam bukunya, War od the Worlds: Cyberspace and the High-tech Assault on Reality (terjemahan Indonesianya berjudul Ruang Yang Hilang: Pandangan humanis tentang Budaya CYBERSPACE Yang Merisaukan). Mark mengungkapkan kegelisahannya terhadap realitas maya yang begitu digandrugi manusia modern. Ia begitu risau melihat betapa banyaknya orang yang tergiur dengan cyberspace ini sehingga rela menghabiskan waktunya berjam-jam untuk chatting (bercengkerama) dengan teman-maya yang tidak dikenalnya. Teknologi cyberspace ini ternyata lebih maju dari pemikiran manusia secara umumnya. Ia menawarkan opsi buat para penggunanya untuk bergaul di dunia maya tanpa menunjukkan identitas aslinya, sehingga seseorang akan semakin bebas untuk berekspresi dan beraksi di pentas fiktif itu. Kita bahkan bisa memanipulasi gender dimana seorang pria dewasa bisa saja mengaku sebagai gadis remaja dengan menggunakan atribut palsu. Mereka begitu menikmati peran tersebut dan meyakini itu sebagai kenyataan, sehingga tidak heran jika ada yang punya pacar di dunia maya. Mereka bebas melakukan apa saja tanpa kawatir kepergok Hansip sehingga populerlah apa yang disebut cybersex, cyberorgasm, cybermasturbation dll. Dan karena semua serba maya, bisa jadi seorang pria yang menyaru sebagai anak gadis, berpacaran dengan anak muda di dunia maya (padahal mungkin saja pacarnya itu adalah seorang pria tua yang menyamar jadi anak muda).

Sebagian besar mereka ini sesungguhnya paham bahwa realitas sesungguhnya bisa saja berbeda dengan yang digelutinya di alam maya ini, tetapi mereka tampaknya begitu menikmati itu dan umumnya tidak lagi tertarik untuk bertatap muka (copy darat). Bagi mereka ini tampaknya batasan antara dunia realitas dengan dunia maya sudah blur, sudah tidak jelas lagi.

Kini pertanyaannya, apakah ketidak jelasan batasan antara dunia realitas dengan dunia maya hanya dilakukan oleh mereka yang rajin chatting saja? Jawabannya jelas tidak.
Coba simak dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Betapa banyak orang, dari anak-anak hingga orang tua yang akrab dengan gadget seperti handphone. Ketika berada didalam angkutan umum, sewaktu berbelanja di mall, ketika dirawat rumah sakit, atau (maaf) di dalam toilet, mereka bisa dengan enteng berkomunikasi dengan teman, pacar atau orang tuanya di manapun, sejauh sinyal handphone bisa ditangkap. Seorang tokoh yang menjadi moderator di sebuah seminar diam-diam bisa berchatting ria melalui gadget mungil ditangannya sementara pemakalah tengah memberikan paparannya.

Fenomena diatas sesungguhnya menunjukkan betapa kita (manusia) dewasa ini sudah masuk ke alam cyber, suka atau tidak suka. Seorang suami yang sedang berada dalam department store di Eropa, bisa berkomunikasi dengan isterinya melalui handphone untuk menanyakan barang yang akan dibelinya, apakah sudah sesuai dengan kemauan sang isteri. Bahkan kalau perlu barangnya bisa difoto dulu dengan Blackberry, lalu dikirim via BBM agar bisa dikonfirmasi sang isteri bahwa memang itu yang dimauinya. Dalam hitungan detik ia bisa memperoleh kepastian dan tidak akan terjadi kesalahan dalam berbelanja. Semua dilakukan serba instan, bukan jamannya lagi berkomunikasi via kartu pos atau surat. Selamat tinggal kantor pos.

Apa yang kita bahas diatas menunjukkan betapa seseorang bisa berada di dua tempat sekaligus. Saya secara fisik sedang berada di Jakarta, dalam ruang kelas misalnya, tetapi pada saat yang sama bisa berada di lokasi yang nun jauh disana. Dengan bantuan perangkat komunikasi saya bisa bincang-bincang dengan sahabat saya yang lagi berada di tepi danau Sentani,  Jayapura. Bahkan bisa turut menyaksikan keindahan danau tersebut secara visual dengan bantuan komunikasi 3G. Alam pikiran saya telah hadir di Papua sementara saya tengah berada di dalam kelas di Jakarta.

Beberapa tahun lalu, ketika salah seorang teman berkisah tentang kemampuan kakeknya yang diyakini bisa berada di dua lokasi pada satu saat yang bersamaan, saya hanya mengomentarinya dengan senyum. Sungguh sebuah cerita yang sulit diterima akal. Ketika itu saya tidak mampu untuk mencerna dan mempercayai kisah tersebut. Padahal cukup banyak cerita semacam itu yang disampaikan para orang tua kita jaman dahulu. Saya menganggapnya sebagai bumbu cerita saja.

Namun ketika tidak sengaja membaca buku “The Science and Miracle of Zona Ikhlas” dari Erbe Sentanu yang menyinggung soal teori dan alam kuantum, saya jadi terpana. Buku tersebut ditulis dalam bahasa populer yang menarik dan memuat banyak konten ilmiah termasuk tentang fisika kuantum. Disitu disebutkan bahwa di dalam alam yang berisikan benda-benda kuantum yang sangat sulit dilihat (quanta) berlaku prinsip-prinsip:
  1. Keterkaitan quantum entanglement (bahwa kita semua saling bertautan dalam zona informasi raksasa)
  2. Adanya pusat informasi raksasa yang merekam semua perubahan dan pergerakan yang terjadi pada setiap atom di alam semesta.
  3. Kita dan seluruh alam sebagai bagian dari jaringan komunikasi raksasa itu di tingkat atom memiliki fungsi seperti antena untuk menerima dan mengirim informasi dari dan ke penjuru jagat raya.
  4. Kecerdasan prinsip-prinsip non-lokal diatas menjelaskan bahwa di tingkat kuantum; semua benda di seluruh alam sesungguhnya juga berada di tempat lain pada saat bersamaan.
Poin nomor 4 diatas merupakan sesuatu yang hampir tidak pernah kita dengar (sebagai orang awam). Statement diatas diperkuat oleh ilmuwan Marcus Chown berikut ini:
Ini bukan fantasi teoritis. Dalam eksperimen telah dibuktikan bahwa photon atau atom bisa berada di dua tempat sekaligus – hal itu setara dengan Anda berada di San Fransisco dan di Sydney pada saat yang sama.”

Kalau begitu, tampaknya para leluhur kita telah sangat paham dengan alam semesta sehingga bisa melebur dan memanfaatkan prinsip yang berlaku di alam kuantum. Sementara soal keakraban dengan alam semesta sesungguhnya merupakan isu besar pada era cyberspace ini.

Nenek moyang kita dan mereka yang hidup di pedalaman dan belum tersentuh teknologi lebih mampu memahami perilaku dan sifat-sifat alam karena mereka sehari-hari bergaul dengan alam. Seorang petani akan dekat dengan alam karena setiap hari bercocok tanam, paham dengan bau khas tanah, warna dan tekstur tumbuhan obat di lokasinya. Sementara mereka yang melewati daerah itu dengan kendaraan bermotor, akan memperoleh pengalaman (moment of truth) yang berbeda. Ia tidak mungkin dapat merasakan bau atau apalagi menyentuh pepohonan yang dilewatinya. Kecepatan gerak telah menjauhkan kita, menciptakan jarak dengan alam. Dalam komentarnya Mark Slouka dikatakan bahwa kendaraan (mobil) telah mengisolasi kita; dunia yang berada di balik kaca jendela – apakah itu padang rumput ataukah ladang pertanian – tampak tidak nyata. Pada kecepatan supersonik keterceraian itu menjadi sempurna. Pemandangan dari ketinggian 10.000 meter adalah sebuah abstraksi, tidak serupa dengan kenyataan, hanya bak lukisan belaka. Sehingga tentu saja akan sulit untuk mengharapkan manusia modern yang tidak akrab dengan alam, untuk menimba pelajaran dari alam yang terkembang. Mereka jarang sekali memperoleh moment of truth, pengalaman berinteraksi dengan alam. Di mata mereka, pengalaman itu sama saja dengan apa yang mereka saksikan di realitas maya seperti visualisasi video/film sehari-hari. Padahal itu bukanlah realitas nyata karena mereka sesungguhnya telah tersolir dari alam, pemandangan yang disaksikannya dari balik kaca.

Maka tidak heran jika banyak anak-anak dari kota besar yang menjadi cerewet dan antusias ketika diajak orang tuanya menyusuri alam pedesaan yang hijau, bertanya tentang tumbuhan atau hewan yang tidak pernah dijumpainya di tempat mereka dibesarkan. Mereka bisa menikmati dan menyentuh bunga, merasakan sejuknya embun pagi, menangkap kupu-kupu indah atau mungkin dikejutkan oleh melintasnya hewan liar. Inilah realitas nyata yang masih belum bisa disaingi oleh dunia cyber. Tapi kalau teknologi sudah bisa menemukan cara untuk mentransmisikan rasa dan bau, saya tidak bisa lagi membayangkan bagaimana kondisi kehidupan di dunia ini nantinya. Di masa depan, seorang gadis yang sedang bercakap-cakap dengan pacarnya melalui komunikasi video tidak bisa lagi berbohong bahwa ia telah memakan petai, karena aroma petainya tercium sama sang pacar di ujung sana. 

Kini semuanya terpulang kepada si manusianya. Begitu banyak fasilitas dan kemampuan teknologi yang tersedia. Tinggal kita saja yang harus menentukan, apakah itu akan digunakan untuk kemaslahatan manusia atau digunakan untuk merusak dan membuat kemudaratan.

Ciputat, 8 Januari 2012.

Wednesday, November 2, 2011

TERIMA KASIH BANG FOKE . . .

Senin lalu Presiden SBY mengeluarkan statement yang membuat saya terpana. Ini sangat berbeda dengan biasanya karena sabda beliau selama ini sulit ditebak dan cenderung multi tafsir. Entahlah, mungkin juga beliau sudah begitu emosional sehingga berujar seperti ini:
 "Yang berkomitmen membangun transportasi di Jakarta, Gubernur DKI, luar biasa banyaknya 10 tahun ini, Semuanya pepesan kosong, tidak jalan. Barangkali di daerah juga seperti itu," ujar Presiden SBY dalam pembukaan rapat kerja penyusunan rencana induk 2025 di Istana Bogor ( detiknews, 21 Februari 2011).

Wartawan yang nakal ketika meminta komentar Fauzi Bowo, Gubernur DKI memperoleh jawaban normatif seperti ini:
"Pak Presiden tidak menyebut Pemda DKI, tapi Jakarta. saya kebetulan hadir di situ dan saya tidak merasa teguran diarahkan kepada saya semata-mata tapi kita semua. Saya menyambut baik semua itu, dorongan untuk seluruh jajaran pemerintah untuk berhati-hati, lebih selektif dalam memilih investor," kata Fauzi Bowo saat jumpa pers di Istana Bogor keesokan harinya.
Saya sebetulnya iba sama bang Foke (panggilan akrab Fauzi Bowo) yang kalau dalam pertandingan tinju rasanya sudah babak belur menerima hantaman hook dan jab dari berbagai arah.
Tapi itulah resiko yang harus diterima bang Foke sebagai Gubernur yang dimasa kampanyenya  sering menggunakan jargon “serahkan Jakarta pada ahlinya.” Belakangan kita semua tahu bahwa jargon tersebut malah berbalik menjadi bumerang terhadap beliau.

Persoalan transportasi di ibu kota negara ini sudah seperti benang kusut, malah mungkin lebih parah. Benang kusutnya sudah menjadi buhul-buhul yang sulit dilepaskan. Itu baru soal transportasi.
Persoalan lain yang juga menghantui Jakarta adalah ancaman banjir dan minimnya penghijauan kota. Kalau saya yang jadi bang Foke, mungkin sudah lama melempar handuk, alias menyerah.
Ajaibnya bang Foke (sebetunya saya ingin tahu apa resep beliau untuk bisa bertahan) masih tetap tegar dan selalu menebarkan senyum khasnya ketika meninjau lokasi-lokasi banjir.
Kalau dihitung-hitung, memang panjang urutan pekerjaan rumah bang Foke yang belum terselesaikan, dan yang paling krusial  adalah soal transportasi. Jadi sangat masuk akal kalau pak SBY sampai menyebut komitmen Gubernur DKI sebagai pepesan kosong.

Tapi apakah benar bang Foke pepesan kosong? Saya kok tidak sepakat. Bukan hendak berseberangan dengan pak Beye, sama sekali bukan. Saya hanya ingin berlaku fair dalam menilai bang Foke.

Beberapa hari ini saya baru sadar betapa kemacetan rutin yang terjadi hampir di seluruh pelosok ibu kota sesungguhnya membawa hikmah tersendiri bagi pengemudi mobil.
Saya setiap hari harus menyetir mobil dari rumah di kawasan Ciputat menuju kantor di daerah Cempaka Putih. Dihitung dari jarak, sebetulnya tidak seberapa jauh, paling juga 40-50 km. Tetapi waktu tempuhnya bisa sangat variatif, dari satu hingga tiga jam, tergantung situasi jalanan.
Selama mengendarai mobil ada beberapa kegiatan rutin yang biasa saya lakukan untuk menghilangkan kebosanan sekaligus menghindari stres. Saya biasanya mendengarkan siaran radio, memutar CD murrotal Al Qur’an atau lagu2 pop tempo doeloe. Sayangnya kenikmatan mendengarkan lagu-lagu atau ayat Qur’an seringkali terusik oleh godaan eksternal. Apa pasalnya?

Menyetir di pagi hari melalui jalan tol TB Simatupang yang dilanjutkan ke tol dalam kota ke arah Priok sungguh bukanlah perjalanan yang nyaman. Entah setan apa yang mempengaruhi hampir semua pengendara mobil, semuanya saling adu cepat di jalan tol. Yang paling runyam adalah ketika usai membayar Rp 2000 di gardu tol setelah exit tol Simatupang menuju Priok. Pengemudi mobil rata-rata tidak mau mengalah. Lebar jalan di sisi tol yang dirancang untuk 2 jalur mobil pada kenyataannya dipaksa untuk menampung 4 jalur mobil. Urusan salib menyalib tidak usahlah ditanya, itu sudah lumrah. Pengemudi yang kurang piawai dijamin bisa bohwat (putus asa) dan kaget akibat disalib dari kiri dan kanan sekaligus, sehingga terkunci ditengah.

Kadar adrenalin pasti naik, emosi bisa terpancing. Tapi disitulah seninya mengemudi kendaraan di ibu kota. Anggota tubuh seperti tangan dan kaki harus standby, setiap saat harus mampu bertindak reflex. Pengemudi mobil non-matic harus siap untuk exercise khususnya kaki kiri untuk menginjak kopling. Panca indera pun harus prima, Mata harus selalu awas karena mobil di depan anda bisa mengerem mendadak. Telinga juga harus bisa mendengarkan klakson atau sirene kendaraan petinggi yang sewaktu-waktu memaksa lewat dari belakang. Kondisi jantung juga diuji ketahanannya dengan menjaga emosi dan kadar adrenalin.
Last but not least, test kantung kemih juga dilalui. Anda harus mampu menahan kencing selama 2-3 jam karena tidak ada peluang untuk menepikan mobil untuk mencari toliet umum. Kalau terpaksa harus kencing, bolehlah melepas hajat kedalam botol kosong AQUA secara diam-diam, syukur-syukur mobil anda dilapisi kaca film 60% keatas.
Tapi hendaknya melepas air seni kedalam botol AQUA harus hati-hati, jangan seperti kejadian yang dialami seorang rekan saya. Ketika asyik melepas hajat, mobilnya menyerempet kendaraan lain. Dia kaget dan air seni di botol AQUA tertumpah menyiram celana panjangnya. Ketika terpaksa harus turun kendaraan dan berhadapan dengan cewek di  mobil yang ditabraknya dia amat kesulitan untuk menutupi noda basah di celananya.
Kembali ke laptop. Maka ketika sampai di tujuan sekitar 2-3 jam kemudian, kondisi tubuh tak obahnya seperti orang yang telah menjalani medical check-up yang meliputi  treadmill, jantung, ginjal dan test pancaindera lainnya. Semuanya kita lakukan tanpa harus membayar, alias medical check gratis. Artinya para pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta sesungguhnya sudah tidak perlu menjalankan medical checkup yang bayarannya berkisar dari 500 ribu hingga 1 jutaan.
Mestinya kita harus berterima kasih kepada pemilik fasilitas medical checkup tadi, yaitu bang Foke.
Maka pada kesempatan ini saya merasa perlu untuk mengucapkan,
Terima kasih bang Foke, atas medical checkup gratis ini.”

Ciputat, 24 Februari 2011

Tuesday, November 1, 2011

SIAPA YANG TIDAK BOLEH BOHONG DI REPUBLIK PINOKIO INI?




Setahun yang lalu, persisnya 7 Januari 2010 saya menulis note singkat di FB tentang Code of Conduct bagi Intelektual yang intinya agar mereka
  1. tidak boleh berbohong dan
  2. tidak boleh emosional dalam menyampaikan pendapat.
Pada saat itu masyarakat Indonesia lagi asyik menikmati sinetron Bibit-Chandra dan bank Century yang ditengarai penuh dengan kebohongan. Kini kita semua sudah menyaksikan betapa sinetron tersebut tidak jelas endingnya, yang kalau ibarat menonton film laga,  kita tidak tahu siapa yang menang atau kalah.

Kini, setelah setahun berjalan, masyarakat kembali disuguhi sinetron baru dengan tema sama, yaitu KEBOHONGAN. Wajar kalau seantero republik jadi heboh, karena yang dituding sebagai pemeran utama adalah RI-1.  Pihak istana pun bereaksi dan angkat bicara. Tapi stigma negatif itu sudah terlanjur menyebar di kalangan masyarakat karena sejumlah tokoh lintas agama turut meramaikan panggung. Seperti biasa, pro kontra pun terjadi. Sayangnya diantara tokoh agama yang menuding RI-1 berbohong itu ada figur yang tidak 100% dipercaya netralitas dan motivasinya. Maka jadilah situasi saling tidak percaya.
Andaikan keseluruhan tokoh agama yang mengumumkan  sejumlah kebohongan RI-1 merupakan figur bersih ibarat petapa sakti dan suci yang turun gunung untuk memberantas kejahatan, reaksi masyarakat pasti akan beda. Tapi kini situasinya jadi salah kaprah karena tokoh agama itu kini dituding sudah masuk ke ranah politik dan punya motif politik.

Situasi ini membuat saya jadi teringat akan ucapan seorang dosen yang bertanya kepada mahasiswanya, apa yang membedakan antara Politisi, Peneliti, dan Dosen/Ulama. Pertanyaan itu dijawabnya sendiri seperti dibawah ini:
  • Politisi boleh melakukan kesalahan dan boleh berbohong
  • Peneliti boleh berbuat salah, tetapi tidak boleh bohong
  • Dosen/Ulama tidak boleh salah dan tidak boleh bohong.
Jadi kalau dilihat statement diatas, kata kuncinya adalah BOLEH dan TIDAK BOLEH. Tentunya harus dipahami bahwa pengertian BOLEH tidak sama dengan HARUS. Boleh berbohong, tidak serta merta dianggap harus berbohong. Pengertian tidak boleh disini berarti mesti dihindari.
Konon ada aturan main tambahan bagi mereka yang berbohong, yaitu "harus konsisten dengan kebohongannya". Artinya, sekali bohong dalam suatu hal, harus berbohong terus hingga akhir. Ibaratnya seseorang yang mengaku naik kereta api ke Bandung, kalau bercerita jangan menyebut bahwa dia singgah makan di restoran Puncak. Jadi untuk  urusan kecil dan sepele pun harus dibuat klop dengan cerita bohongnya. Dan inilah yang sulit karena kebohongan manusia biasanya terbongkar dari hal-hal yang remeh-temeh.

Kalau Peneliti kondisinya berbeda. Ia bisa saja berbuat salah dalam melakukan eksperimen atau hipotesa. Tapi peneliti harus jujur dalam menyampaikan hasil penelitiannya, jangan berbohong atau menyembunyikan hasilnya walaupun salah. Kalau peneliti tidak jujur, akibatnya bisa fatal seperti kasus Blue Energy tempo hari yang ujung-ujungnya mempermalukan RI-1 lagi.

Tapi yang paling berat adalah profesi dosen atau ulama. Seorang dosen tidak diperbolehkan memberikan materi yang salah. Ulama juga jangan mengajarkan hal yang salah kepada umatnya. Kalau berbuat salah saja sudah dilarang bagi dosen atau ulama, apalagi berbohong karena akan berdampak fatal terhadap pemahaman yang salah dari anak didik atau umatnya.

Sekarang bagaimana kalau ada seorang ulama (tokoh agama) yang masuk dan berkecimpung di ranah politik seperti DPR? Itulah sumber kekacauan karena ulama tersebut tidak mungkin lagi mempertahankan prinsip "tidak boleh salah dan tidak boleh bohong". Untuk hal ini juga banyak contoh nyata yang kita lihat di pentas politik. Cukup banyak tokoh agama kondang dan dihormati pengikutnya yang sikap serta ucapannya berbalik 180 derajat setelah masuk ke ranah politik. Sungguh memprihatinkan.

Kembali ke politisi, Presiden tentunya masuk kedalam kategori ini. Jadi kalau belakangan ini banyak pihak yang menuding Presiden berbohong, tentu kita tidak perlu terkaget-kaget. Ada kalanya seorang Presiden tidak bisa berkata jujur tentang suatu kejadian karena beberapa pertimbangan, misalnya demi keamanan atau rahasia negara. Tapi Presiden juga tidak bisa seenaknya bicara. Mungkin masih ada yang ingat dengan kontroversi pidato SBY pasca bom Marriot-Ritz Carlton di Kuningan. Beberapa jam setelah ledakan bom, SBY berpidato tanpa teks dan  ditayangkan secara langsung oleh sejumlah stasiun televisi. Satu demi satu pernyataan SBY mengalir, disamping berisi ungkapan duka, juga menyentil para elit politik.

Ini kutipan berita tersebut yang diambil dari INILAH.COM:
"Ini intelijen, bukan rumor, bukan isu, bukan gosip. Ada pernyataan, kita bikin Indonesia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan, bagaimanapun juga SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu," urai SBY.
Walhasil, pidato SBY pun menuai sorotan dari berbagai kalangan, mulai dari politisi, aktivis, hingga akademisi. Pernyataan SBY sebagai kepala negara disesalkan karena justru membuat panik bahkan bernada menuduh lawan politik.

Pertama, ia menyebutkan bahwa ada orang-orang yang pada masa lalu melakukan kejahatan dan belum dihukum. Kedua, ia menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan drakula-drakula itu menebar maut.
Siapakah yang dimaksud presiden? Tentu saja ini adalah pernyataan keras, dan publik merasa pokok itu ditujukan pada salah satu pihak calon presiden. Presiden memang terus terang mengindikasikan juga hubungan antara teror bom dengan situasi ketidakpuasan terhadap pelaksanaan pilpres. Ia bahkan menghubungkannya dengan usaha untuk menggagalkan pelantikannya kelak sebagai presiden.
Itulah sebabnya pihak Megawati-Prabowo secara tegas meminta agar Presiden SBY tidak mempolitisir soal pemboman itu. Demikian juga Jusuf Kalla menganggap bahwa pengaitan bom dengan masalah politik pilpres adalah terlalu jauh.

Seperti kita ketahui bersama, urusan ini berakhir tanpa kejelasan, siapa yang sesungguhnya memutar balikkan berita. Dan karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang pemaaf sekaligus pelupa, maka kita pun sudah melupakan hal-hal yang lalu. Sama halnya ketika beberapa kalangan ingin memberikan gelar pahlawan nasional bagi Soeharto, kita pun lupa betapa banyak korban sia-sia di era orde baru, betapa peristiwa G-30S PKI masih menyisakan misteri, siapa sesungguhnya sang sutradara dan pemain utama.

Lalu soal berbohong, bukankah dari dulu pemerintah kita sudah biasa melakukannya? Misalnya saja, korban pembantaian Westerling  yang disebut berjumlah 40.000 jiwa kini mulai diragukan kebenarannya. Begitu juga Taman Makam 1000 di Serpong diperkirakan hanya memuat sekitar 100 makam pejuang saja. Tampaknya anak bangsa ini sejak dulu sudah  senang melakukan mark-up angka-angka, bukan hanya terjadi dalam tender pemerintah saja.
Karena itu mari kita kita sudahi saja obrolan ngalor-ngidul ini sebelum saya ikut terseret menulis hal-hal bohong disini.
Pamit mundur.

Ciputat, 19 Januari 2011.

Obrolan Warung Kopi: Pilih PNS atau Pegawai Swasta?

Ketika bincang-bincang dengan pengelola sebuah universitas swasta terkemuka, saya diminta untuk memberikan komentar tentang fakultas teknologi informasinya.  Dalam memberikan komentar, sekilas saya sampaikan bahwa dosen muda yang jadi Wakil Dekan kelihatannya potensial untuk dikembangkan.
Namun jawaban yang keluar dari mulut beliau sungguh mengejutkan: “ya betul, tetapi tadi pagi dia baru saja menyampaikan surat pengunduran diri. Dia diterima sebagai PNS (pegawai negeri sipil).”
Saya cuma bisa termangu mendengarnya sambil membatin, “rupanya menjadi pegawai negeri sipil masih lebih menarik ketimbang jabatan Wakil Dekan di universitas swasta.”

PRO KONTRA SOAL PEGAWAI NEGERI SIPIL ATAU SWASTA
Polemik soal berkarir sebagai PNS atau pegawasi swasta memang tidak akan pernah usai karena setiap orang memiliki preferensi menurut versinya masing-masing.
Beberapa kenalan yang saya tanyai dalam berbagai kesempatan, punya aneka jawaban yang menarik untuk disimak.
Penanya: “boleh tahu kenapa Anda memilih karir di jalur PNS?”
Resopnden 1: ‘Lebih terjamin masa tuanya.  Uang pensiun dan jaminan kesehatan (ASKES) akan terus diterima sampai kita meninggal.  Mana ada fasilitas seperti ini di swasta?”

Responden 2: “Ada tambahan lagi. Sebagai pegawai negeri status kepegawaian saya lebih terjamin dibandingkan swasta. Perusahaan swasta kan bisa saja bangkrut atau melakukan penciutan karyawan. Disamping itu sebagai PNS kans untuk dipecat sangat kecil. Buktinya ada di depan mata. Tuh isterinya Gayus di Pemda DKI cuma dipindahkan ke bagian lain, ngga dipecat.”

Responden 3: “di daerah saya, penghargaan masyarakat terhadap pegawai negeri akan lebih tinggi daripada mereka yang jadi karyawan swasta. Statusnya terlihat lebih terhormat.”

Responden 4: “Para orang tua di Aceh sejak dulu menganggap bahwa anak-anaknya belum berhasil  kalau belum menjadi pegawai negeri.”

Responden 5: “Tadinya saya mau masuk swasta. Tapi sewaktu melihat situasi ekonomi yang tidak menentu dan adanya perbaikan remunerasi terhadap pegawai negeri khususnya di sektor pendidikan,  saya daftar ke Depdiknas dan lulus.”

Responden 6: “Saya sih cita—citanya mau melanjutkan sekolah lagi ke jenjang tertinggi. Dan jalur yang paling menjanjikan adalah jadi dosen di perguruan tinggi negeri. Awalnya melamar ke BPPT, tapi gagal.”

Penanya: “apa yang memotivasi Anda memilih sektor swasta?”
Responden 7: Semasa kuliah ada opini umum di kalangan mahasiswa tentang dunia pekerjaan. Katanya kalau ingin pekerjaan yang santai dan terjamin sampai hari tua walau gajinya kecil, jadilah pegawai negeri. Kalau ingin mengembangkan diri dan tidak mau dikekang oleh birokrasi, pilihlah swasta. Dan saya pilih opsi yang kedua, karena saya ingin berkembang.”

Responden 8: “Saya ingin gaji yang lebih besar dengan cara yang halal. Makanya saya pilih swasta.”
Penanya: “Lho, emangnya jalur swasta dijamin halal? Atau pertanyaannya dibalik, apakah mereka yang memilih jalur non-swasta itu penghasilannya tidak halal?
Responden 8: “Waduh, maaf mas. Bukan begitu maksud saya. Maksud saya, umumnya gaji PNS kan lebih kecil. Takutnya iman saya jadi goyah dan terjerumus berbuat salah. Kan ada istilah bahwa FAKIR itu dekat dengan KAFIR jika tidak hati-hati."

PROBLEMA DUNIA SWASTA DEWASA INI
Ketika mewawancara sejumlah pelamar untuk lowongan IT di kantor minggu lalu, saya menemui sebuah kenyataan yang menarik untuk direnungkan.
Ternyata sebagian besar pelamar adalah karyawan perusahaan swasta yang masih aktif, dan ….. berstatus sebagai staf kontrak selama bertahun-tahun.
Sehingga sewaktu saya tanyakan, “apa yang membuat Anda tertarik untuk melamar kesini?” hampir semua menjawab “saya mau bekerja sebagai staf permanen, bukan kontrakan.” Hanya seorang yang memberikan jawaban bahwa ia mencari tantangan yang lebih besar.

STAF PERMANEN.  Itu kata kunci yang saya dapatkan yang implisit bermakna job security.
Hal ini sampai terbawa pulang dan membuat saya kepikiran, berapa banyak pekerja professional yang merasa tidak nyaman dengan status kontrak ini.  Sebagai karyawan kontrak, individu tersebut tidak akan memperoleh fasilitas dan benefit seperti halnya karyawan tetap atau permanen. Khusus mengenai asuransi kesehatan, item yang satu ini seolah menjadi faktor penentu bagi calon karyawan yang melamar pekerjaan. Seperti contoh diatas, banyak orang memilih bekerja sebagai pegawai negeri karena jaminan kesehatan ASKES seumur hidup. Setelah pensiun mereka relatif merasa  aman jika menderita sakit, termasuk sakit kronis sekalipun. Soal gaji kecil tidak menjadi masalah, pasti ada jalan untuk mencari tambahan atau ngobyek.

Ditambah lagi dengan kenyataan betapa dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu belakangan ini, sebuah perusahaan besar bisa saja limbung dan bahkan tumbang, sehingga mem-PHK karyawannya. Job Security di sektor swasta semakin dipertanyakan. Ujung-ujungnya, begitu ada ujian masuk CPNS, peminatnya berjibun, tumpah ruah ibarat ujian masuk universitas negeri era SKALU tahun 70-80 an. Maka ketika ada isu bahwa untuk masuk PNS bisa dilakukan dengan imbalan uang seratusan juta rupiah, itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Tapi membuktikannya pasti sulit karena kelihaian pemainnya.

SOAL REJEKI, ITU HAK PREROGATIF TUHAN
Sebagai tambahan, saya pernah mendapat nasehat dari seorang teman senior agar di dalam pekerjaan harus selalu ingat bahwa semua rejeki itu datangnya dari Sang Maha Pemberi Rejeki, Allah. Artinya jangan sampai kita mempersekutukan-Nya dalam situasi apapun. Terlalu mengidolakan atasan sehingga bersedia melakukan pekerjaan salah yang diperintahkannya, bisa dianggap mempersekutukan Tuhan.
Cukup sering saya mendengar keluhan teman-teman sekerja yang melakukan tindakan "salah" atas perintah atasan, tetapi tetap dikerjakannya dengan alasan dia harus menafkahi keluarganya. Seolah-olah tidak ada pilihan lain untuk berkarya selain ditempat tersebut. Kasus seperti amat banyak terjadi.

Beberapa tahun yang lalu harga diri saya begitu terusik dan meradang karena dimaki atasan saya (bukan orang Indonesia) dalam suatu tele-conference yang diikuti para manager Asia Pacific. Ketika itu saya diminta mem-PHK sekitar 30 orang staf dengan alasan efisiensi. Saya bantah karena menurut pandangan saya tenaga mereka masih dibutuhkan (saya sebetulnya didukung oleh top management lokal). Penolakan ini rupanya membuat boss saya emosi, sehingga keluarlah kata-kata: "Aswil, I pay your salary. I pay your bonuses. If you dont' do what I say, I'll send somebody to replace you. I really mean it. Do you understand?"
Waktu itu saya juga emosi, tapi karena yang ngomong adalah atasan, saya akhirnya diam dan mengalah.
Pulang kantor ucapan tersebut terngiang-ngiang terus di kepala dan dada rasanya mau pecah. Untunglah masih ingat istighfar, dan malam harinya memohon kepadaNya melalui tahajud.
Believe it or not. Tidak sampai satu bulan sejak peristiwa tersebut, saya dapat tawaran pekerjaan yang lebih sesuai dengan nurani. Sehingga ketika menyampaikan surat pengunduran diri, saya begitu menikmati momen dimana boss saya yang biasanya begitu garang dan otoriter, mendadak membujuk saya dengan lemah lembut: "what can I do for you, Aswil?"  Ha ha ... it's too late, boss. It's been decided that I want to leave this company.

Kejadian yang menimpa saya pasti juga dialami oleh banyak orang. Tetapi saya amat kagum dengan keyakinan (iman) yang dipunyai salah seorang teman kerja saya, Badai. Hal ini saya ungkapkan sebagai bentuk penghargaan saya kepada Badai akan keyakinannya bahwa rejeki itu datangnya dari Allah.
Suatu pagi Badai mampir ke meja saya yang menceritakan bahwa dia baru saja menyerahkan surat resign ke HRD. Saya kaget. Soalnya Badai termasuk satu diantara sales person yang dikenal cukup sukses.
Saya tanya, kenapa mau keluar? Badai menjawab, "pekerjaan saya sudah tidak sesuai dengan nurani saya, mas". Initinya Badai diminta untuk memberikan laporan sales yang tidak benar ke regional management. Ada sales yang sedang berjalan (belum pasti), tetapi karena sudah mendekati closing (triwulan), dia diminta untuk melaporkan ke atas bahwa sales tersebut sudah terjadi. Ini jelas sebuah kebohongan, walau fenomena ini sudah jamak terjadi di dunia marketing.
Karena nuraninya menolak, Badai memutuskan untuk keluar diri dari perusahaan.
Pertanyaan saya berikutnya, "terus loe mau pindah kemana? Udah diterima dimana?"
Jawaban Badai mengejutkan saya, "saya belum tahu mas. Saya mau keluar dulu, nanti baru saya pikirkan."
Nekad nih orang, pikir saya sambil nanya lagi, "loe ngga kawatir nanti butuh waktu lama buat cari kerja, keluarga bagaimana?" Saya tahu bahwa dia sudah berkeluarga dengan satu anak, masih kecil.
Kali ini jawabannya membuat saya terdiam malu, "Saya percaya sama Allah, mas. Rejeki ditangan Dia. Jadi saya ngga kawatir."

Sore harinya, sebelum pulang kantor, ketika berpapasan kembali dengan Badai dia menyampaikan bahwa berita pengunduran dirinya sudah tersebar di kalangan teman-teman lain.
Dan, ini yang menarik. Seharian itu Badai sudah menerima tawaran kerja dari 3 orang teman, mengajaknya untuk bergabung. Dia belum memutuskan mau pilih siapa, hanya berterima kasih kepada tawaran teman-temannya.
Sungguh Allah Besar dan Maha Mendengar.

Terakhir saya lihat teman saya Badai memilih untuk membuka usaha sendiri dan survive hingga saat ini.
Kasus ini sungguh merupakan bukti nyata bahwa kalau kita berjalan diatas rel-Nya, insya Allah Dia akan memberikan jalan yang terbaik buat kita. Amin.

Ciputat, 18 Februari 2011