Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Wednesday, December 7, 2011

Makam-makam Tua di Barus, Tapanuli Tengah

Kota Barus terletak di pantai barat pulau Sumatera, sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga, berada di sebelah selatan Kecamatan Singkil, Aceh Selatan. Barus dapat dicapai dengan  menggunakan pesawat udara dari Medan ke Sibolga selama 30 menit dan dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Sibolga selama 2 jam lagi menuju Barus. Atau bisa juga melalui perjalanan darat dengan minibus travel dari kota Medan, ke Barus selama 9 jam.

Kota Barus dan Samudera Indonesia dilihat dari Kompleks Makam Papan Tinggi

MAKAM PAPAN TINGGI

Pemakaman tua pertama yang konon dianggap paling tua berada di sebuah bukit hijau nan terpencil. Makam ini berlatar belakang panorama kota Barus dan Samudra Indonesia di sisi barat, berada diatas ketinggian 153 meter diatas permukaan laut. Badan bukit menuju makam cukup terjal, memiliki kemiringan hingga 45 derajat, cukup sulit untuk didaki. Bantuan lebih dari tujuh ratus anak tangga sepanjang 225 meter tidak mampu mengurangi rasa lelah peziarah untuk mencapai puncaknya.

Masyarakat Barus menyebutnya Makam Papan Tenggi. Dalam bahasa Indonesia diartikan Makam Papan Tinggi. Dahulu, bukit ini merupakan daerah pengambilan kayu oleh masyarakat yang akan dijadikan bilah-bilah papan. Sejak hadirnya sebuah pemakaman, maka tempat ini dinamakan Makam Papan Tinggi.
Lokasi Makam Papan Tinggi berada di sebuah bukit yang terletak di sisi timur Jalan Raya Barus – Manduamas. Secara administratif makam ini berada di dusun Lobu Tua, Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Makam Papan Tinggi merupakan kompleks pemakaman tua Islam seorang tokoh penyebar agama Islam pertama di Sumatera Utara. Pada kompleks Makam Papan Tinggi terdapat makam istimewa yang memiliki panjang 9 meter, dengan nisan setinggi 1,5 meter. Di sekeliling makam panjang terdapat beberapa makam sederhana dimana nisan makam berupa batu yang ditegakkan tanpa adanya tanda sama sekali. Makam Papan Tinggi diperkirakan didirikan ada tahun 1239 M berdasarkan tulisan yang tertera pada pilar di dekat makam panjang. Kompleks makam dikelilingi pagar dan dinaungi pohon besar. Dahulu, di depan pagar tertanam guci keramat yang mengaliri air tanpa henti meski pada musim kemarau. Kini hanya tinggal berupa lubang tanah berbentuk kotak sedalam 20 sentimeter.

Makam Syekh Mahmud di Makam Papan Tinggi

Sejarahwan kota Barus, Djamaluddin Batubara mengatakan, tokoh utama yang dimakamkan di Makam Papan Tinggi adalah Sykeh Mahmud, penyebar agama Islam yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Makam beliau berupa makam panjang, dengan batu nisan putih setinggi 1,5 meter berukir aksara Persia dan Arab kuno.
Belum diketahui secara pasti tahun kedatangan Syekh Mahmud ke tanah Barus. Namun melihat corak nisan makam dan jenis kaligrafi yang tertulis, serta unsur arkeologis lainnya, diperkirakan Syekh Mahmud telah hadir di Barus sejak abad ke-9 Masehi.

Mengenai kota Barus sendiri, dahulunya merupakan kota pelabuhan terbesar yang pernah ada di nusantara, jauh sebelum adanya Bandar Malaka dan Samudera Pasai di tanah rencong. Barus mengokohkan dirinya sebagai penghasil kapur barus (kamper) yang terkenal hingga seluruh dunia. Sehingga kota ini dinamakan Barus.
Sejarah mencatat, sejak abad ke-9 kota Barus sudah dikenal sebagai kota dagang. Di masa itu komoditi yang sangat digandrungi semisal buah pala, cengkeh, lada, kulit manis, merica, kemenyan dan kayu bulat, diperdagangkan di Barus. Konon bahan-bahan pembalseman para raja Mesir didatangkan dari Barus.

Barus yang dikenal sebagai kota perdagangan antarbangsa, sangat dimungkinkan terjadinya kotak budaya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Berkenaan dengan itu pula, berdatangan rombongan mubaligh asal tanah Arab ke negeri niuntuk tujuan penyebaran agama Islam yang dilatarbelakangi perdagangan. Para mubaligh menghabiskan waktunya untuk syiar Islam di daerah baru. Mereka menopang hidupnya dengan berdagang.

Hadirnya Sykeh Mahmud di tanah Barus merupakan salah satu tesis tentang keberadaan penyebar Islam sejak agama ini pertama kali disyiarkan. Arkeolog dan ahli kaligrafi Arab kuno asal Perancis, Prof. Dr. Ludwig Kuvi menyatakan dengan tegas bahwa bukti arkeologis berupa pahatan batu nisan makam Syekh Mahmud menunjukkan beliau adalah seorang pendatang yang telah lama tinggal di Barus. Batu nisan makam Syekh Mahmud bukan batu biasa yang digunakan oleh penduduk Barus, melainkan sejenis batu yang didatangkan dari India. Maka, hampir mustahil Syekh Mahmud seorang biasa yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat Barus. Ukiran batu ayat-ayat Al-Qur’an dan pesan singkat yang Nampak samar memberi isyarat bahwa beliau seorang mubaligh besar.

Teori kedatangan Syekh Mahmud di tanah Barus diperkuat dengan pembuktian yang dilakukan oleh sejarahwan Belanda, Dr. Ph. S. Van Ronkel. Sejarahwan Belanda ini menyatakan Syekh Mahmud merupakan penyebar ajaran Islam yang pertama di Tapanuli. Da’wah Syekh Mahmud berhasil menyentuh tokoh etnis Batak, Raja Guru Marsakkot, yang akhirnya memeluk agama Islam.

Salah satu ukiran batu pada nisan makam Syekh Mahmud yang berbunyi: “Fa Kullu Syai’un Halikun Illa Wajhullah” yang berarti, “Maka segala sesuatunya hancur kecuali Dzat Allah”. Menurut Djamaluddin Batubara, nilai Islam yang disampaikan Sykeh Mahmud kepada masyarakat Barus adalah ajaran Tauhid, yakni mengajak masyarakat pesisir Tapanuli untuk meng-esa-kan Tuhan, Allah SWT.

Mencermati posisi makam Syekh Mahmud yang berada di atas bukit, diperkirakan bahwa beliau adalah guru bagi pengikutnya yang dimakamkan di Makam Mahligai. Terdapat 43 makam para ulama yang berada di kompleks Makam Mahligai. Daintaranya adalah makam Syekh Rukunuddin, kompleks makam Bukit Hasan, makam Tuanku Ambar, makam Tuan Kepala Ujung, makam Tuan Sirampak, makam Tuan Tembang, makam Tuanku Kayu Manang, makam Tuanku Makhdum, makam Syekh Zainal Abidin Ilyas, makam Syekh Ahmad Khatib Siddiq, dan makam Imam Mua’azhamsyah.

Tidak mudah bersiarah ke Makam Papan Tinggi. Sebelum menaiki tangga, peziarah disyaratkan untuk bersuci di kaki bukit yang telah tersedia pancuran air. Kemudian peziarah menaiki seribu anak tangga yang dibangun permanen. Perlu ketangguhan fisik untuk menaiki anak-anak tangga yang curam dan menanjak. Namun tangguh secara fisik saja tidak cukup, diperlukan pula niat ikhlas untuk mengunjungi makam Syekh Mahmud yang berada di puncak bukit. Sebab bila niatnya tidak tulus, apalagi disertai niat syirik, maka sulit untuk dapat mencapai puncak bukit Makam Papan Tinggi.

MAKAM MAHLIGAI



Tim arkeologi dari Ecole Francaise D’extreme-Orient, Perancis yang bekerja sama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua – Barus, memberikan telaah baru mengenai sejarah Islam datang ke nusantara. Adanya data-data arkeologis sekitar abad ke-9 sampai 12 Masehi, membuktikan bahwa Barus telah berkembang menjadi kota perdagangan dengan struktur masyarakat multi etnis yang terdiri dari masyarakat Batak, Minangkabau, Bengkulu, Jawa bahkan Bugis, termasuk bangsa asing dari negeri India, Arab, Cina, Tamil dan sebagian kecil Afrika.

Bukti adanya masyarakat multi etnis ini berupa temuan aneka keramik, guci dan batu mulia yang berkualitas tinggi yang telah berusisa ratusan tahun. Bukti ini menunjukkan kesejahteraan masyarakat Barus ketika itu sudah makmur.
Heterogenitas masyarakat kota Barus bertumpu kepada kehidupan ekonomi yang bersandar kepada perdagangan antar bangsa. Berbagai kooditi rempah-rempah tersedia di Barus, terutama kapur barus yang berkualitas tinggi. Letak Barus yang berhadapan dengan lautan luas memudahkan para pedagang dari berbagai negeri berdatangan. Saat itu pelabuhan Samudera Pasai belum dikenal perdagangan dunia.

Banyaknya para saudagar asal Arab yang menetap di Barus menciptakan kemakmuran yang tinggi di daerah ini. Beberapa diantara mereka pernah menjadi utusan dari Bani Umayyah untuk Kerajaan Sriwijaya, sehingga diantara kalangan saudagar Arab sendiri diangkat seorang pemimpin. Sikap terbuka, bersahabat dan kekeluargaan yang ditunjukkan oleh para penguasa bandar kepada kalangan masyarakat lokal, menjadikan mereka begitu terpandang, sehingga mampu menjalin hubungan baik dengan para raja, adipati ataupun pembesar Kerajaan Sriwijaya. Beberapa diantaranya menerima Islam sebagai keyakinan baru. Bukti kemakmuran masyarakat yang didiami saudagar Arab berupa situs makam tua bertarikh abad ke-8 Masehi yang menguatkan keberadaan komunitas Muslim mapan di Barus.

Berdasarkan teori sosiologi, pengelompokan makam yang dibangun merata dan teratur berdasarkan ukuran tertentu di daerah tertentu, membuktikan status tokoh-tokoh yang dimakamkan. Sejarah selalu mencatat, hanya orang-orang besar yang memiliki pemakaman khusus. Dengan demikian kompleks pemakaman ini membuktikan entitas masyarakat muslim di tanah Barus yang telah ada ratusan tahun silam.

Kompleks pemakaman tua ini bernama Makam Mahligai, tidak berapa jauh dari Makam Papan TInggi. Pada kompleks makam ini, terdapat 43 nsan tua yang berukir aksara Arab kuno dan Persia.
Konon, nama makam ini diambil dari sebuah istana kecil pada zaman dahulu yang dibangun oleh Tuan Syekh Abdul Khatib Siddiq. Setelah wafat, Syekh Siddiq dimakamkan di Makam Mahligai. Selain beliau, sejumlah ulama besar penyebar Islam lainnya dimakamkan disini, diantaranya Syekh Rukunuddin, Syekh Ushuluddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Mu’azzamsyah Biktiba’I, Syekh Syamsuddin, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang, Tuanku Makhdum.



Ukuran makam di kompleks ini rata-rata panjangnya 7 meter, datar tanpa ornamen khusus kecuali batu nisan di kedua ujung makam. Nisan makam berbahan batu khusus berwarna coklat terlihat mulai menghitam akibat terkikis zaman. Batu nisan bertuliskan aksara Arab kuno bercampur Persia. Sebagian batu nisan memiliki kesamaan corak dengan makam para Syekh di wilayah Sumatera dan Jawa, yakni memiliki corak India.
Nisan makam Syekh Rukunuddin bertuliskan aksara Arab yang memiliki arti: “Tuan Syekh Rukunuddin, wafat malam 13 Syafar, tahun 48 Hijriah (48 H), dalam usia 102 tahun, 2 bulan, 10 hari atau Ha Min Hijratun Nabiy”. Nisan makam Syekh Rujunuddin hanya ada satu nisan, nisan beliau lainnya disimpan di museum purbakala di kota Medan sebagai bahan untuk penelitian.

Menurut beberapa keterangan sejarah, Syekh Rukunuddin melanjutkan misi dakwah Syekh Mahmud yang dimakamkan di Makam Papan TInggi. Sebagian ahli sejarah lainnya mengatakan bahwa makam yang berada di Makam Mahligai adalah murid dan pengikut Syekh Mahmud, dimana ajaran Syekh Mahmud bertumpu pada tauhid, mengesakan Allah. Belum ada perintah melaksanakan hukum-hukum Islam. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dibawakan berupa ayat-ayat Makiyyah.

Beberapa catatan pemerhati sejarah perkembangan Islam menyatakan, daerah penyebaran Islam yang dilakukan oleh Syekh Rukunuddin beserta ulama lainnya dimulai dari dusun Lobu Tua kemudian bergerak ke wilayah utara, kembali ke selatan hingga di ujung bukit dimana Makam Mahligai berada. Kemudian perjalanan da’wah dilanjutkan ke arah timur hingga ke Dusun Patumangan.

Lingkungan Makam Mahligai terbilang rindang dan sejuk, dinaungi pohon besar dengan hamparan sawah membentang di sisi makam. Keadaan tanah Makam Mahligai bergelombang dan berbukit-bukit. Sebelum memasuki kawasan Makam Mahligai, peziarah disarankan bersuci sebagai penghormatan kepada tokoh-tokoh yang disemayamkan disana.

Sumber Pustaka:
  • Masjid dan Makam Bersejarah di Sumatera, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, 2008
  • Claude Guillot, Daniel Perret, Atika Suri Fanani (Translator), Marie-France Dupoizat, Untung Sunaryo, Heddy Surachman, Barus: Seribu Tahun Yang Lalu, KPG, 2008
  • Foto-foto koleksi pribadi

Monday, November 21, 2011

Sekilas Riwayat Berdirinya Masjid Sarik, Sungai Puar

Nagari Sarik yang berada di kaki gunung Merapi Sumbar adalah satu diantara 4 nagari di Kabupaten Agam, yaitu; Sarik, Sungai Puar, Batagak dan Batu Palano. Belakangan salah satu jorongnya menjadi nagari pula, yaitu Padang Laweh.

Nagari yang bersuhu sejuk di kaki gunung Merapi ini juga dikenal dengan tabek (kolam) Sarik nya. Tabek Sarik belakangan ini cukup santer dibicarakan oleh pemko Bukittinggi yang sedang berupaya membujuk masyarakat Sarik untuk membagi air tabek Sarik bagi warga Bukittinggi. Persoalan menjadi rumit karena warga Sarik menolak untuk membagi air bersihnya karena debit airnya dirasakan tidak mencukupi (Padang Ekspres, 14 Juli 2011).

Tetapi tulisan ini tidak hendak membahas soal tabek Sarik yang  lahannya merupakan milik keluarga Datuk Palindih di Sarik, melainkan mencoba menelusuri sejarah lahirnya masjid antik yang berdiri kokoh disamping tabek Sarik yang menjadi simbol nagari tersebut.

 
(Foto Masjid Sarik di tahun 1910 - dok. KITLV Leiden. Bangunan di sebelah kanan adalah surau yang dahulunya juga dihuni oleh Inyiak Pasia. Sementara bagunan kecil beratap putih yang ditengah adalah rumah untuk imam masjid. Surau lama telah lama rubuh. Surau bergonjong yang ada sekarang dibangun oleh Johan Dt. Palindih di tahun 1977 sebagai pengganti surau lama.)


Berikut adalah penjelasan dari Angku Ono Dt. Palindih, mengenai sejarah berdirinya masjid Sarik di atas tanah wakaf di lingkungan tanah pusako milik kaumnya.

Alkisah di tahun 1800-an hiduplah tiga perempuan bersaudara, Tuo (nenek) Labu, Tuo Upik dan Tuo Tarimin di desa Sarik, Sungai Puar yang berhawa sejuk.

Tuo Labu dikaruniai dua putra, Haji Sulaiman bergelar Sutan Sulaiman (di kemudian hari lebih dikenal dengan panggilan Inyiak Imam) dan adiknya, Haji Rasyad gelar Sutan Pasia yang belakangan lebih sering disebut Inyiak Pasia.
Tuo Upik mempunyai 6 anak, Latief, Sawiyah, Saribanun, Isam, Abbas dan Insah. Sementara Tuo Tarimin hanya dikaruniai anak tunggal, Ajo yang bergelar Dt Palindih.

Setelah menikah, Tuo Upik bersama sang suami pergi merantau dan menetap di Padang Panjang.
Namun kepergiannya itu tidak berlangsung lama karenaTuo Upik sekeluarga didatangi oleh Inyiak Pasia dan dibujuk untuk pulang ke kampung halamannya, Sarik. Maklum dari ketiga bersaudara, hanya Tuo Upik lah yang memiliki anak perempuan yang diakui dan punya hak terhadap harta pusako kaum Dt. Palindih. Bisa dimaklumi, karena penduduk Minangkabau menganut prinsip matrilinial.

Diantara harta pusako yang dimiliki kaum Dt. Palindih adalah areal tanah/sawah dan sebuah tabek (kolam) dengan mata air jernih yang konon tidak pernah kering. Menurut penuturan Ono Dt. Palindih, Inyiak Pasia inilah yang mulai membangun masjid Sarik dengan sepersetujuan Ajo Dt. Palindih. Persetujuan itu menjadi penting karena bangunan masjid didirikan diatas tanah wakaf pemberian keluarga Dt. Palindih. Inyiak Pasia (yang juga dipanggil Buya Angku Pasia) dulunya adalah guru sekolah agama sebuah pesantren di Kecamatan IV Angkat Candung (Tarbiyah Pasir). Kapan persisnya masjid ini dibangun, tidak ada yang  ingat. Tetapi yang jelas, ketika gunung Krakatau meletus di tahun 1883, masjid ini telah lama ada.

Informasi mengenai Masjid Sarik ini bisa kita temui di buku “Masdjid dan Makam Doenia Islam”, cetakan Balai Poestaka–Weltevreden tahun 1926 yang memuat foto serta komentar singkat sebagai berikut:

“Inilah seboeah lagi masdjid jang didirikan menoeroet matjam baroe. Masdjid Sarik ini boekan boeatannja sadja jang bagoes, tetapi letaknja djoega, disisimata air jang besar, di lereng goenoeng Merapi, berpemandangan bagoes ke kaki goenoeng Singgalang dan ke Fort de Kock. Menaranja jang tjantik itoe soedah roboh tatkala gempa boemi jang terdjadi dengan takdir Toehan di Soematera Barat”.
Informasi tambahan tentang masjid Sarik dapat pula kita temui di website rizalbustami.blogspot.com yang menuliskan sebagai berikut:
Didirikan pertama kali tahun 1800-an. Semula bangunannya terbuat dari kayu kemudian diganti dengan tembok. Meski masjid ini berlantai dua, namun tidak menggunakan kerangka besi. Bahan perekatnya bukan pula semen, melainkan dari kapur sirih yang dicampur dengan pasir.

Seperempat abad setelah berdirinya masjid, tahun 1926 gempa bumi vulkanik dengan kekuatan 6,5 SR, yang terkenal dengan gempa Padang Panjang, menggoncangkan seluruh bangunan di sekitar Gunung Merapi. Ajaibnya, bangunan masjid tersebut tidak mengalami apa – apa, kecuali menara masjid yang mirip dengan menara masjid Kudus roboh separohnya. Pada sisa bangunan menara, dibangun saja kuncup atap seperti sebelumnya. Sehingga tinggi menara tidak lagi setinggi pertama sekali dibuat. Kubah baru tanpa menggunakan pipa besi untuk penyangganya. Untuk perekat tembok masih menggunakan kapur sirih. Masjid lama berarsitektur asli dengan bentuk atap punden berundak.

Inyiak Pasia, sang pendiri masjid Sarik telah lama tiada. Demikian pula Ajo Dt. Palindih yang tongkat penghulunya digantikan oleh sepupunya, Latief (Dt. Palindih). Ketika gelar Dt. Palindih dipegang oleh Johan (anak Sawiyah, cucu Tuo Upik yang kini juga telah almarhum) di tahun 70 an, beliau mendirikan sebuah surau bergonjong disamping bangunan masjid yang utama. Belum lama ini telah berdiri pula gedung sekolah MDA (diniyah) disamping masjid Sarik.

Masjid Sarik sebagai salah satu masjid tertua di kabupaten Agam di jaman penjajahan cukup sering disebut dalam tulisan dan dokumentasi. Buku Tourism in the Netherlands Indies terbitan Batavia tahun 1938 memuat dua foto masjid tua di Sumatera Tengah yang salah satunya adalah Masjid Sarik.

 
Wajah masjid Sarik sekarang (dokumentasi 28 Desember 2010). 
Pada saat itu gedung sekolah MDA masih beum selesai dibangun.


Mengingat banyaknya turis mancanegara yang tertarik dengan aspek budaya dan seni, seyogyanya masjid Sarik dapat dioptimalkan sebagai salah satu obyek turis di Kabupaten Agam.
Tapi realitanya masjid bersejarah dengan arsitektur antik ditepi kolam jernih ini justru terkesan terbengkalai. Malah bisa  jadi masih ada generasi muda Sarik yang belum tahu akan keberadaan aset pariwisata yang berharga ini. Sementara pemerintah daerah dan masyarakat kita masih tetap saja seperti dulu, belum serius untuk menggalakkan pariwisata di ranah Minang.

(Nara sumber: Engku Ono. Dt. Palindih, Hj. Nurlaili Johan)

Ciputat, 20 Juli 2011.

Wednesday, November 2, 2011

In Memoriam Loetan Soetan Toenaro 1915 - 1995



Sosok Loetan St. Toenaro memang tidak banyak dikenal oleh generasi muda saat ini, termasuk warga Tebet Barat Dalam 4D, tempat beliau bermukim di hari tuanya hingga wafat pada April 1995. Maka tatkala jenazah almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, banyak dahi yang berkerut. Bekas penyiar dan Kepala RRI (1965-1968) dilepas dengan upacara militer lengkap, jelas merupakan hal yang tidak lazim.

Pertanyaan yang sama juga muncul di benak saya yang bersama anak menantunya turut mendampingi di detik-detik akhir hayat beliau di ICU RS. DGI Cikini, 9 April 1995.

Namun Tuhan Maha Adil. Pertanyaan yang mengganjal selama bertahun-tahun itu akhirnya beroleh jawaban juga. Ketika membongkar-bongkar buku peninggalan paman saya, Adrin Kahar di Padang akhir tahun lalu, sebuah buku tipis berjudul "Pancaran Perjuangan Radio Revolusi" keluaran Penerbit Idayus menarik perhatian saya. Iseng, saya comot dan membolak-balik halaman buku tersebut.
Dan .... Yes!! Ini dia jawaban dari pertanyaan saya selama ini. Sebuah kisah perjalanan karir Loetan St. Toenaro yang diterbitkan tahun 1981. Langsung buku itu masuk kedalam tas saya untuk diboyong ke Jakarta. Sayangnya, kesibukan sehari-hari membuat saya lupa akan keberadaan buku kecil itu, dan baru tersentuh lagi beberapa hari lalu.

Dari buku tersebut diketahui bahwa Loetan St. Toenaro (yang merupakan adik kandung Kaharoeddin Dt. Rangkayo Basa, mantan Gubernur Sumbar 1958-1965) dilahirkan di Bayur, Maninjau tanggal 15 Mei 1915. Pada awalnya Loetan sempat menjadi menjadi guru H.I.S. di Kayu Agung Palembang dan Lampung.

Di penghujung tahun 1942 ia melamar untuk memulai karirnya sebagai penyiar radio pada Medan Hoso Kyoku (stasiun radio penyiar Jepang). Kegigihan dan semangatnya membuat Loetan diterima sebagai salah satu diantara 7 penyiar bangsa Indonesia yang terpilih. Memang sejak awal ia sudah bercita-cita untuk mengabdi di dunia radio.

Begitulah, di pagi hari, selagi orang-orang masih bergelung di tempat tidur, para penyiar ini telah mengayuh sepeda ber-ban mati (di jaman Jepang, ban sepeda adalah karet keras tanpa ban dalam), tergoncang keras akibat jalan yang berlobang menuju studio.

Gaji yang diperolehnya kala itu jauh dari mencukupi untuk menafkahi keluarga. Tidak jarang Loetan sekeluarga hanya mampu mengisi perut dengan singkong rebus saja. Tetapi di depan corong dalam studio, kepahitan hidup mereka seperti terhibur dengan mengucapkan selamat pagi kepada para pendengarnya dan menghibur mereka dengan dendang dan lagu.

Lewat corong radio Medan, para penyiar Indonesia ini dalam setiap kesempatan berusaha mempopulerkan lagu-lagu Indonesia sendiri, sementara politik siaran Jepang pada waktu itu menanamkan semangat Dai Nippon kedalam jiwa pemuda-pemuda Indonesia.

Hal ini pada akhirnya menjadi masalah besar sehingga pada suatu ketika Loetan digelandang ke Polisi Militer Jepang Kempeitai (sejenis GESTAPO nya Hitler). Menurut kisah, jarang orang yang masuk ke kantor Kempeitai itu, keluar secara utuh sebagai manusia, kalau tidak "lenyap" alias tidak keluar lagi.

Diiringi ratap tangis isteri dan anak tercintanya, Loetan digiring ke kantor itu dan dihadapkan kepada seorang pemeriksa yang bertampang bengis.

"Kamu, Roetan ka?" tanyanya dingin.
"Haik", jawabnya sambil berusaha menahan perasaannya yang tergoncang menyaksikan suasana di ruang pemeriksaan yang lebih tepat disebut ruang pembantaian.
"Kamu tidak senang sama Dai Nippon ka?" suaranya bernada menyelidik.
"Saya senang dengan Dai Nippon!"
"Mana boreh!" senyumnya terlihat sarkastis.
"Kemaren kamu telah pukul satu orang Nippon, dayo!"
"Tuan harus melihat persoalan yang saya hadapi. Saya bukan benci Nippon!", Loetan membela diri.
"Bohong!" hardiknya keras. "Kamu benci bangsa Nippon, dayo!"
"Ini persoalan kemanusiaan, tuan, bukan soal kebangsaan!", Loetan bertahan.
"Mikado-san, bangsa Nippon! Kamu tempeleng dia kemaren. Betul ka?"
Loetan mengangguk. "Betul, tuan! Tapi saya lakukan itu karena hati saya sangat sakit oleh ucapannya. Anak saya sakit, saya kehabisan uang untuk membawanya berobat. Saya mau meminjam kepada Hoso Kyoku. Lantas seenaknya dia bilang, lebih baik anak saya mati, karena sekarang jaman perang, anak-anak tidak perlu dipikirkan!"
"Mikado-san seorang Nippon, mengerti? Kamu tahu itu ka?"
"Tapi dia seorang manusia yang tidak punya peri kemanusiaan!" jawab Loetan berani.
Matanya merah, gerahamnya berderak, "Amerika, Inggris juga manusia. Karena dia manusia, kamu tidak memusuhinya, begitu ka?" sambungnya dengan suara keras. Sorot matanya menjadi lebih tajam menikam.
"Itu soal lain, tuan. Ini adalah persoalan pribadi antara saya dengan Mikado-san! Kenapa tuan hubungkan dengan yang lain-lain?" Loetan mendebat.
"Mikado-san tidak bisa kamu pisahkan dengan bangsanya Dai Nippon. Penghinaan yang kamu lakukan terhadapnya berarti penghinaan terhadap Dai Nippon!"
"Tapi, Nippon-Indonesia sama-sama. Kalau sebaliknya yang terjadi? Tuan hanya melihat dari sudut Dai Nippon dan tidak melihat dari sudut Indonesia! Saya yang dihina duluan oleh Mikado! Bukankah ini penghinaan terhadap bangsa Indonesia, kalau menurut logika tuan?"

Paras Jepang itu memerah. Matanya mengecil oleh debatan Loetan dan serentak dengan itu tangannya mendarat di muka Loetan. Ia pun terpental kebelakang dan darat mencurat dari hidungnya.
Loetan hanya bisa pasrah. Di luar terdengar langkah-langkah mendekat. Ketika daun pintu terbuka, Loetan terkejut, seniman muda Indonesia Lily Suhairi didorong masuk oleh dua serdadu Jepang.

Kempeitai itu menuding Lily Suhairi, "Kamu Lily Suhairi, bukan?"
Seniman musik itu hanya mengangguk. Hadiah sebuah tinju mendarat di mukanya.
"Jawab, bagero!" bentak sang Kempeitai.
"Ia, ya ... Saya Lily!" Suhairi terbata-bata.
"Kamu berdua telah bersekongkol untuk melawan Dai Nippon. Kamu menciptakan lagu-lagu dan kamu penyiar berusaha menyiarkannya sebanyak-banyaknya lewat radio Hoso Kyoku. Lagu-lagu Nippon jadi tersisih!"
"Itu tidak benar, tuan!" jawab Lily.
"Jangan mungkir! Saya tahu, anak-anak banyak senang dengan lagu-lagu Lily Suhairi!"
"Tapi juga banyak senang dengan lagu-lagu Jepang!"
"Sina No Yoru, Miotokai ...!" ujar Loetan yang berusaha untuk melembutkan hati Jepang itu.

Namun tetap saja mereka berdua dihajar hingga babak belur. Tetapi untunglah ada bantuan dari seorang pejabat Jepang yang baik di Hoso Kyoku, sehingga Loetan dan Lily tidak terlalu lama mendekam dalam neraka Kempeitai tersebut. Loetan terpaksa diboyong ke rumah sakit karena selangkangannya harus dioperasi pasca siksaan itu. Apesnya di jaman itu rumah sakit kekurangan obat, sehingga Loetan dioperasi tanpa menggunakan bius. Dokter Pirngadi yang mengoperasinya dengan penuh simpati memberitahunya sebelum operasi, supaya sabar dan tabah menghadapi rasa sakit.

Cukup lama Loetan terbaring di rumah sakit, sementara hidup bangsa Indonesia semakin susah dan melarat. Untunglah isteri dan anaknya cukup tabah untuk menghadapi penderitaan ini.
Isterinya dengan setia menjenguk Loetan ke rumah sakit dengan berjalan kaki setiap hari sejauh 4 km dari jalan Japaris (belakangan menjadi jalan Rahmadsyah) ke jalan Serdang, sambil menggendong putrinya yang masih bayi.

Setelah bom atom meledak di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu tanpa syarat. Itulah saat yang dinanti para angkawasan di Hoso Kyoku.
Loetan dan kawan-kawan tidak rela peralatan radio itu diserah terimakan kepada Sekutu karena itu merupakan modal perjuangan bangsa. Namun karena kendala teknis, ditengah penjagaan serdadu Gurkha dan Belanda, mereka hanya bisa melarikan sebuah pemancar kecil ke Kampung Baru, 5 km dari Medan.

Tetapi belakangan rupanya posisi pemancar itu tercium oleh mata-mata NICA. Dalam satu aksi yang dilakukan tentara Sekutu di pagi hari, mereka dapat menerobos pengawalan pemuda-pemuda kita dan menyerbu ke Kampung Baru. Gedung pemancar dikepung dengan terlebih dahulu melepaskan tembakan kearah gedung tersebut. Mujurlah penyiar dan staf radio jang bertugas pada waktu itu dapat meloloskan diri. Hanya seorang yang menderita luka tembak di paha, namun dapat diselamatkan. Sementara stasiun radio itu akhirnya diledakkan oleh serdadu-serdadu Gurkha.

Loetan dalam perjalanan karirnya kemudian, di tahun 1947 sempat menjadi Kepala Radio Medan di Pematang Siantar sebelum diangkat sebagai Kepala RRI Pekanbaru (1947-1948). Setelah penyerahan kembali RRI oleh Belanda kepada RI, ia diangkat sebagai Kepala RRI Bukittinggi dan Padang (1949-1950).

Tahun 1950-1954 Loetan St. Toenaro dipercaya sebagai Kepala RRI Medan dan bertanggung jawab dalam peliputan acara PON ke-III. Pada periode 1954-1960 ia dimutasikan sebagai Kepala RRI Bandung. Pada masa itu Loetan diberikan tanggung jawab sebagai pimpinan coverage siaran RRI untuk Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-1. Sungguh merupakan sebuah tantangan yang berat karena di saat itu peralatan RRI masih kuno dan sederhana. Namun sejarah membuktikan bahwa pelaksanaan konferensi bersejarah itu termasuk coveragenya telah berlangsung sukses.

Berikutnya Loetan dimutasi menjadi Kepala RRI Nusantara I Medan (1960-1965) dan terhitung November 1965 menjadi Kepala RRI seluruh Indonesia hingga tahun 1968 sebelum pensiun di tahun 1971.

Itulah sekilas riwayat karir Loetan St. Toenaro, satu diantara empat serangkai pelopor RRI Sumatera (Loetan St. Toenaro, Kamarsyah, M. Arief dan M. Sani) yang dilahirkan persis 96 tahun lalu, 15 Mei 1915.
Semoga potongan sejarah singkat ini dapat memberikan teladan bagi generasi muda khususnya angkasawan RRI tentang semangat pengabdian yang luhur kepada masyarakat di era perjuangan kemerdekaan.

                                     Coba-coba menanam mumbang, kalau mujur sunting negeri!

 
Foto kenangan keluarga semasa bertugas di Medan (1952)


Ciputat, 15 Mei 2011.

Sekilas Old Batavia: Jembatan Kota Intan dan Toko Merah

Tahun 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektar dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia  yang terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.

Nama Batavia berasal dari suku Batavia, sebuah suku Germanik yang bermukim di tepi Sungai Rhein. Bangsa Belanda dan sebagian bangsa Jerman adalah keturunan dari suku ini.
Batavia juga merupakan nama sebuah kapal layar tiang tinggi yang cukup besar buatan Belanda (VOC), dibuat pada 29 Oktober 1628, dinahkodai oleh Kapten Adriaan Jakobsz. Tidak jelas sejarahnya, entah nama kapal tersebut yang merupakan awal dari nama Betawi- Batavia, atau bahkan sebaliknya, pihak VOC yang menggunakan nama Batavia untuk menamai kapalnya. Kapal tersebut akhirnya kandas di pesisir Beacon Island, Australia Barat. Dan seluruh awaknya yang berjumlah 268 orang berlayar dengan perahu sekoci darurat menuju kota Batavia ini.
Penduduk Batavia disebut "Batavianen", kemudian dikenal sebagai suku "Betawi", terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.

Tahun 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650. Batavia kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.

Tahun 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota — atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana. Meski dekrit Gubernur dikeluarkan, Kota Tua tetap terabaikan. Banyak warga yang menyambut hangat dekrit ini, tetapi tidak banyak yang dilakukan untuk melindungi warisan era kolonial Belanda

Salah satu obyek yang menarik di kawasan Kota Tua adalah Jembatan Kota Intan.
Jembatan ini dibangun pada tahun 1628 dengan nama Engelse Burg yang berarti “Jembatan Inggris” karena jembatan ini menghubungkan Benteng Belanda dan Benteng Inggris yang terletak berseberangan dibatasi oleh Kali Besar – Kali Ciliwung. Pada tahun 1628 dan 1629 terjadi penyerangan dari Banten dan Mataram terhadap Benteng Batavia yang mengakibatkan jembatan ini rusak, namun dibangun kembali oleh Belanda pada tahun 1630 dan pada saat itu dikenal dengan nama De Hoender Pasarbrug atau “Jembatan Pasar Ayam” karena lokasinya berdekatan dengan Pasar Ayam.



Selanjutnya pada tahun 1655 jembatan ini diperbaiki kembali oleh Belanda karena mengalami kerusakan akibat sering terkena banjir dan korosi akibat air asin, dan namanya diganti menjadi Het Middelpunt Brug atau “Jembatan Pusat”. Pada April 1938 jembatan ini dirubah menjadi jembatan gantung agar dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan untuk mencegah terkena banjir yang sering terjadi, namun bentuk dan gayanya tetap dan tidak pernah dirubah. Tetapi namanya diganti menjadi Ophalsbrug Juliana atau Juliana Bernhard.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI nama jembatan ini diganti menjadi ”Jembatan Kota Intan”, disesuaikan dengan nama lokasi setempat. Letak Jembatan Kota Intan berada dekat dengan salah satu bastion Kastil Batavia yang bernama Bastion Diamont (Intan). Kastil Batavia yang merupakan kota tua Batavia sering disebut sebagai Kota Intan.
Jembatan Kota Intan ini sering juga disebut sebagai “Jembatan Jungkit.  Sebab pada tempo dulu jembatan itu dapat diangkat bila ada kapal yang hendak melintas.

Dimasa dulu (jaman Batavia), kapal yang mengangkut rempah-rempah dari pedalaman ke Pasar Ikan atau sebaliknya ke gudang dan pasar sering melewati  kali di bawah Jembatan Kota Intan. Jembatan tua peninggalan Belanda itu menghubungkan sisi Timur dan Barat kota Intan di jalan Kali Besar Barat, Jakarta Utara.

 
Pemandangan dari atas jembatan Kota Intan. Alangkah indahnya jika pemerintah kota DKI bisa memanfaatkan kanal ini sebagai obyek wisata seperti halnya halnya Venetia dan beberapa negara Eropah lainnya. Di sisi kanan kanal adalah Hotel Batavia.


Bangunan bersejarah lainnya yang cukup layak untuk dibahas adalah bangunan yang dinamakan TOKO MERAH.
Bangunan Toko Merah, merupakan salah satu dari 216 monumen cagar budaya, yang tersebar diseluruh wilayah DKI Jakarta. Merupakan salah satu dari sedikit monumen warisan VOC yang berada didalam kawasan bekas kota Jakarta Lama yang disebut Batavia, dan Toko Merah merupakan satu-satunya bekas rumah tinggal elit di zaman kejayaan VOC, yang paling utuh, terawat, serta terus mempertahankan keasliannya hingga saat ini. Dahulu Toko Merah pernah juga diberi nama Hoofd Kantoor van den Berg.
 Bangunan TOKO MERAH dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaff Willem Baron van Imhoff, yang kemudian menjadi Gubernur VOC tahun 1743 – 1750.



Pada tahun 1743, setelah diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC, bangunan TOKO MERAH bagian utara dijadikan kampus dan asrama Academie de Marine, guna menghasilkan opsir-opsir laut VOC yang terdidik dan terampil dibidang pelayaran guna mendukung perdagangan VOC.



Toko merah tergolong bangunan bersejarah karena dibuat oleh Baron van Imhoof, selain ia menjadi Gubernur Jenderal VOC, Baron van Imhoof juga seorang tokoh pembaharu pada zamannya. Dia banyak menelurkan karya-karya diantaranya mendirikan seminari dan Academie de Marine di Batavia pada tahun 1743 – 1755, dibidang perbankan ia mendirikan bank pertama di Batavia yaitu Bank van Lenning tahun 1752, dibidang pers dan jurnalistik ia memberikan izin diterbitkannya koran pertama di Batavia Bataviasche Nouvelles tahun 1744. pada tahun 1745 van Imhoof membentuk masyarakat candu (Amfioensocieteit), dan pada tahun 1745 ia mendirikan villanya Buitenzorg yang kini terkenal dengan nama Istana Bogor. Pada tahun 1746 ia juga mendirikan kantor pos pertama di Batavia.

Di depan gedung inilah mengalir sungai Groote Rivier (Kali Besar) yang pada masa itu suatu kerusuhan besar terjadi yaitu pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa. Peristiwa itu terjadi 10 tahun setelah gedung tersebut berdiri (1740). Di muara Ciliwung ini, yang kala itu airnya jernih, pada pagi dan sore, menjadi tempat mandi para Indo-Belanda. Sementara di malam terang bulan, para muda-mudi, sambil main gitar, bernyanyi menumpahkan isi hati mereka.

Penjelajah Inggris yang terkenal seperti James Cook, orang Eropa pertama yang menemukan benua Australia, dan Kapten William Bligh nakhoda kapal legendaris HMS Bounty, ternyata pernah singgah di Batavia.
Penulis serta saksi dari kejayaan toko merah di masa lalu, Thomas B. Ataladjar dalam Toko Merah menulis, Kapten Bligh pernah menginap di Toko Merah setelah lolos dari pemberontakan wakil nakhoda Christiaan Fletcher yang mengambil alih kapal HMS Bounty pada akhir Januari 1790. Mereka kemudian terdampar dan akhirnya beranak-pinak di Kepulauan Pitcairn (800 kilometer sebelah timur Australia). Kapten Bligh sendiri, bersama delapan belas pelaut yang setia padanya sempat terkatung-katung di atas sebuah sekoci selama dua setengah bulan sebelum akhirnya terdampar di Kupang. Kisah ini pernah diangkat ke layar lebar, dalam film Mutiny on The Bounty.

Seiring dengan berjalannya waktu, kepemilikan toko merah berganti begitu pula dengan fungsinya. Sejarah mencatat beberapa gubernur Belanda pernah menjadi pemilik toko merah, termasuk sang penandatangan perjanjian Gianti, yang memecahkan kerajaan Mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta, yaitu Nicolaas Hartingh. Fungsi toko merah yang semula merupakan rumah pribadi, beralih menjadi penginapan, kemudian beralih kembali sebagai rumah tinggal dan pernah pula sebagai gedung kantor pusat milik salah satu perusahaan the big five yang pernah jaya di zamannya.

Beberapa kisah sejarah yang ditorehkan oleh toko merah:
  • Van Imhoff pernah menjalani hukuman tahanan rumah atas perintah Gubernur Valckenier terkait peristiwa Chineesche Troebelen tahun 1740.
  • Toko merah pernah menjadi tempat pelelangan budak (orang pribumi). Bangunan ini merupakan saksi sejarah betapa menyedihkan nasib para budak di Batavia kala itu. Mereka diperjual belikan dan diperlakukan seperti binatang. Di tempat ini pernah dilelang sebanyak 162 budak belian.
  • Pada abad ke-18 toko merah pernah dimiliki oleh orang Tionghoa dan fungsinya menjadi rumah toko (ruko). Sejak saat itu pengaruh arsitektur cina terlihat dan batu bata yang tak diplester kemudian di cat dengan warna merah hati ayam.
Ciputat, 4 April 2011
(disarikan dari http://jakartaoke.blogspot.com/2010/02/jembatan-kota-intan-di-jakarta.html dan http://alwishahab.wordpress.com/2009/10/01/toko-merah-saksi-sejarah-voc/)

Tuesday, November 1, 2011

Mengenang 89 Tahun Rosihan Anwar




Hari ini, 10 Mei 2011 merupakan hari ulang tahun ke-89 almarhum Rosihan Anwar, seorang wartawan senior yang baru meninggal pada 14 April yang lalu.
Semasa hidupnya, Pak Ros (sapaan akrab almarhum) dikenal sebagai wartawan lima zaman, mulai dari masa penjajahan Belanda, kemerdekaan, orde lama, orde baru, hingga masa reformasi saat ini.

Saya menyenangi gaya tulisan beliau yang khas, seperti halnya  kolumnis koleganya yang juga sudah almarhum seperti Muchtar Lubis dan Mahbub Djunaidi. Kalau Muchtar Lubis biasanya menyajikan tulisan yang agak “berat” dan Mahbub Djunaidi memiliki gaya tulisan yang jenaka dalam melontarkan kritik pedas dan tajam, gaya tulisan Rosihan kira-kira berada ditengahnya, antara Muchtar Lubis dan Mahbub.

Gaya setiap penulis memang berbeda. Namun tetap ada kesamaan di antara mereka, yaitu pengetahuan yang luas, kaya dengan pengalaman dan jeli menangkap persoalan yang ada di sekitarnya.
Begitu pun dengan Rosihan Anwar. Ia adalah seorang penulis yang memiliki ciri-ciri seperti di atas. Rosihan Anwar adalah penulis yang mampu menulis dengan jernih dan kaya dengan berbagai pengetahuan, mulai dari pengetahuan sejarah, sastra, kebudayaan, filsafat, hingga politik.

Rosihan Anwar memulai karir sejak 1943 di Asia Raya, kemudian redaktur harian Merdeka (1945), dan Pemimpin Redaksi harian Pedoman. Ia juga merupakan salah seorang wartawan Indonesia yang meliput Konperensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada 1949, saat Belanda menyerahkan kedaulatannya kepada Republik Indonesia.
Hal-hal itulah yang membuat tulisan-tulisan Rosihan Anwar menjadi lebih kaya, penuh warna, dan tampak penguasaannya terhadap kompleksitas persoalan dan kemajemukan setiap permasalahan. Barangkali itulah penyebabnya sehingga para pembaca bisa betah menekuni tulisannya. Padahal bisa saja persoalan yang diangkatnya merupakan masalah yang cukup serius.

Dalam bukunya Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia  jilid 1 yang diterbitkan di tahun 2004 hingga jilid 4 yang terbit di bulan November 2010, kita dapat menikmati kolom-kolom beliau yang mengulas sejumlah persoalan yang dicermatinya dengan gaya bahasa yang ringan dan enak untuk dibaca. Cara pandang Rosihan Anwar amat beragam, dari acungan jempol, geleng-geleng kepala, kritik pedas, sikap sinis hingga mengejek. Kesemuanya disampaikan secara blak-blakan sehingga para pembacanya pun bisa ikut geleng-geleng kepala atau manggut-manggut sambil tersenyum simpul.

Untuk mengenang kepergian almarhum, berikut ini saya kutipkan tulisan  singkat peneliti sejarah LIPI, Asvi Warman Adam tentang Rosihan Anwar dalam bukunya “Membedah Tokoh Sejarah”.

Dari sudut sejarah, nama Rosihan tidak terlepas dari "brand mark" In Memoriam yang ditulisnya di berbagai surat kabar sejak 31 tahun yang lalu. Begitu ada tokoh yang meninggal, maka keesokan harinya sudah ada tulisan kilat berkat kolumnis kelahiran Kubang Dua, Solok, Sumatera Barat. Pada saat terjadi kematian, Rosihan telah menghadirkan kehidupan. Ketika menghirup secangkir kopi seraya membalik koran, masyarakat sekaligus mencicipi sepotong sejarah.

Dalam buku In Memoriam, Mengenang Yang Wafat yang diterbitkan 2OO2, terdapat 77 tulisan. Saya kira jumlah artikel Rosihan mengenai obituari pada hari ini sudah lebih dari seratus buah. Di dalam buku In Memoriam, urutan artikel tersebut diawali dengan tiga tokoh bangsa yakni Sukarno, Hatta dan Sjahrir.
Kemudian diikuti oleh istri ketiga orang tersebut. Namun Rosihan tidak menulis tentang figur keempat yaitu Amir Sjarifuddin - mantan perdana menteri yang dieksekusi mati tanpa proses pengadilan. Salah satu gagasan Amir yang sempat diperdebatkan adalah tentang tentara masyarakat.

Menurut hemat saya, Rosihan Anwar adalah sejarawan masyarakat. Koran yang dipimpinnya, Pedoman, dua kali di bredel pada era Orde Lama dan Orde Baru. Walau lama sekali menjadi WTS (wartawan tanpa surat kabar), Rosihan tetap menulis di mana-mana di seluruh Indonesia. Ia menjadi guru bagi para wartawan dalam pelatihan yang dilakukan secara berkala oleh PWI.

Rosihan banyak mendapat buku kiriman atau yang dibelinya sendiri ketika berkunjung ke luar negeri. Buku-buku tentang berbagai aspek sejarah itu terutama yang berbahasa Belanda diulasnya terutama pada surat kabar daerah. Ia menampilkan informasi dan perspektif baru mengenai suatu persoalan historis.
Kehadirannya sebagai jurnalis sejak masa revolusi, menyebabkan ia bisa bercerita dan menulis tentang apa dan siapa saja yang terlibat dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta periode sesudahnya. Dalam tulisannya sering ditemukan "inside story" dari berbagai peristiwa. Misalnya tentang upaya Presiden Sukarno mengangkat Brigjen ]usuf sebagai Waperdam (Wakil Perdana Menteri) ke-4 yang ditentang oleh Jenderal Yani sehingga melahirkan apa yang disebutnya sebagai “mosi tidak percaya" tentara terhadap Bung Karno Agustus 1965. Pada gilirannya, ini menyebabkan "Presiden susah tidur"'.

Reportase terbaiknya menurut saya adalah laporan pandangan mata tentang peristiwa 27 Juli 1996 yang dimuat pada sebuah suratkabar namun ditulis ulang dengan jauh lebih lengkap pada buku sejarah kecil (Petite Histoire) Indonesia (2004). Tulisan itu perlu dibaca oleh anggota Komnas HAM, karena mungkin bisa dijadikan sebagai "novum" atau temuan baru. Dalang pelanggaran HAM Berat dalam kasus "Kudatuli" itu disebutnya dengan gamblang yakni "Jenderal S". Ia mendengar sendiri pembicaraan yang berlangsung lewat walky talky di sebuah posko aparat keamanan di jalan Diponegoro.

Pada 2001 Rosihan Anwar diangkat sebagai anggota kehormatan MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) karena dipandang sebagai tokoh non-sejarawan yang telah berjasa dalam penulisan sejarah Indonesia terutama dalam memasyarakatkannya. Sejarah sesungguhnya tidak sekedar bahan pelajaran di sekolah (yang membosankan dan seenaknya dilarang).

Tulisan-tulisan Rosihan tentang tokoh bukan basa-basi, bahkan ia tidak segan mengeritik yang sering disampaikan secara bercemooh. Bagi saya, cemooh itu - yang membuat kultur Minang dinamis - menjadi kekuatan tulisan Rosihan. Sesuatu yang memerahkan kuping tetapi membuat kolom itu enak dibaca.
Menjadikan berbagai karangan Rosihan seperti rendang. Makin lama dimasak, diolah kembali, dihidangkan ulang, makin sedap.
Ondeh lamak bana.
Ulasan tentang sang penulis In Memoriam, Mengenang Yang Wafat  sebaiknya saya akhiri hingga disini dan kini giliran saya yang akan mengucapkan "Selamat jalan pak Rosihan. Semoga Tuhan menerima arwah beliau disisi-Nya. Amin Rabbal'alamin". 

Ciputat, 10 Mei 2011