Wednesday, November 2, 2011

In Memoriam Loetan Soetan Toenaro 1915 - 1995



Sosok Loetan St. Toenaro memang tidak banyak dikenal oleh generasi muda saat ini, termasuk warga Tebet Barat Dalam 4D, tempat beliau bermukim di hari tuanya hingga wafat pada April 1995. Maka tatkala jenazah almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, banyak dahi yang berkerut. Bekas penyiar dan Kepala RRI (1965-1968) dilepas dengan upacara militer lengkap, jelas merupakan hal yang tidak lazim.

Pertanyaan yang sama juga muncul di benak saya yang bersama anak menantunya turut mendampingi di detik-detik akhir hayat beliau di ICU RS. DGI Cikini, 9 April 1995.

Namun Tuhan Maha Adil. Pertanyaan yang mengganjal selama bertahun-tahun itu akhirnya beroleh jawaban juga. Ketika membongkar-bongkar buku peninggalan paman saya, Adrin Kahar di Padang akhir tahun lalu, sebuah buku tipis berjudul "Pancaran Perjuangan Radio Revolusi" keluaran Penerbit Idayus menarik perhatian saya. Iseng, saya comot dan membolak-balik halaman buku tersebut.
Dan .... Yes!! Ini dia jawaban dari pertanyaan saya selama ini. Sebuah kisah perjalanan karir Loetan St. Toenaro yang diterbitkan tahun 1981. Langsung buku itu masuk kedalam tas saya untuk diboyong ke Jakarta. Sayangnya, kesibukan sehari-hari membuat saya lupa akan keberadaan buku kecil itu, dan baru tersentuh lagi beberapa hari lalu.

Dari buku tersebut diketahui bahwa Loetan St. Toenaro (yang merupakan adik kandung Kaharoeddin Dt. Rangkayo Basa, mantan Gubernur Sumbar 1958-1965) dilahirkan di Bayur, Maninjau tanggal 15 Mei 1915. Pada awalnya Loetan sempat menjadi menjadi guru H.I.S. di Kayu Agung Palembang dan Lampung.

Di penghujung tahun 1942 ia melamar untuk memulai karirnya sebagai penyiar radio pada Medan Hoso Kyoku (stasiun radio penyiar Jepang). Kegigihan dan semangatnya membuat Loetan diterima sebagai salah satu diantara 7 penyiar bangsa Indonesia yang terpilih. Memang sejak awal ia sudah bercita-cita untuk mengabdi di dunia radio.

Begitulah, di pagi hari, selagi orang-orang masih bergelung di tempat tidur, para penyiar ini telah mengayuh sepeda ber-ban mati (di jaman Jepang, ban sepeda adalah karet keras tanpa ban dalam), tergoncang keras akibat jalan yang berlobang menuju studio.

Gaji yang diperolehnya kala itu jauh dari mencukupi untuk menafkahi keluarga. Tidak jarang Loetan sekeluarga hanya mampu mengisi perut dengan singkong rebus saja. Tetapi di depan corong dalam studio, kepahitan hidup mereka seperti terhibur dengan mengucapkan selamat pagi kepada para pendengarnya dan menghibur mereka dengan dendang dan lagu.

Lewat corong radio Medan, para penyiar Indonesia ini dalam setiap kesempatan berusaha mempopulerkan lagu-lagu Indonesia sendiri, sementara politik siaran Jepang pada waktu itu menanamkan semangat Dai Nippon kedalam jiwa pemuda-pemuda Indonesia.

Hal ini pada akhirnya menjadi masalah besar sehingga pada suatu ketika Loetan digelandang ke Polisi Militer Jepang Kempeitai (sejenis GESTAPO nya Hitler). Menurut kisah, jarang orang yang masuk ke kantor Kempeitai itu, keluar secara utuh sebagai manusia, kalau tidak "lenyap" alias tidak keluar lagi.

Diiringi ratap tangis isteri dan anak tercintanya, Loetan digiring ke kantor itu dan dihadapkan kepada seorang pemeriksa yang bertampang bengis.

"Kamu, Roetan ka?" tanyanya dingin.
"Haik", jawabnya sambil berusaha menahan perasaannya yang tergoncang menyaksikan suasana di ruang pemeriksaan yang lebih tepat disebut ruang pembantaian.
"Kamu tidak senang sama Dai Nippon ka?" suaranya bernada menyelidik.
"Saya senang dengan Dai Nippon!"
"Mana boreh!" senyumnya terlihat sarkastis.
"Kemaren kamu telah pukul satu orang Nippon, dayo!"
"Tuan harus melihat persoalan yang saya hadapi. Saya bukan benci Nippon!", Loetan membela diri.
"Bohong!" hardiknya keras. "Kamu benci bangsa Nippon, dayo!"
"Ini persoalan kemanusiaan, tuan, bukan soal kebangsaan!", Loetan bertahan.
"Mikado-san, bangsa Nippon! Kamu tempeleng dia kemaren. Betul ka?"
Loetan mengangguk. "Betul, tuan! Tapi saya lakukan itu karena hati saya sangat sakit oleh ucapannya. Anak saya sakit, saya kehabisan uang untuk membawanya berobat. Saya mau meminjam kepada Hoso Kyoku. Lantas seenaknya dia bilang, lebih baik anak saya mati, karena sekarang jaman perang, anak-anak tidak perlu dipikirkan!"
"Mikado-san seorang Nippon, mengerti? Kamu tahu itu ka?"
"Tapi dia seorang manusia yang tidak punya peri kemanusiaan!" jawab Loetan berani.
Matanya merah, gerahamnya berderak, "Amerika, Inggris juga manusia. Karena dia manusia, kamu tidak memusuhinya, begitu ka?" sambungnya dengan suara keras. Sorot matanya menjadi lebih tajam menikam.
"Itu soal lain, tuan. Ini adalah persoalan pribadi antara saya dengan Mikado-san! Kenapa tuan hubungkan dengan yang lain-lain?" Loetan mendebat.
"Mikado-san tidak bisa kamu pisahkan dengan bangsanya Dai Nippon. Penghinaan yang kamu lakukan terhadapnya berarti penghinaan terhadap Dai Nippon!"
"Tapi, Nippon-Indonesia sama-sama. Kalau sebaliknya yang terjadi? Tuan hanya melihat dari sudut Dai Nippon dan tidak melihat dari sudut Indonesia! Saya yang dihina duluan oleh Mikado! Bukankah ini penghinaan terhadap bangsa Indonesia, kalau menurut logika tuan?"

Paras Jepang itu memerah. Matanya mengecil oleh debatan Loetan dan serentak dengan itu tangannya mendarat di muka Loetan. Ia pun terpental kebelakang dan darat mencurat dari hidungnya.
Loetan hanya bisa pasrah. Di luar terdengar langkah-langkah mendekat. Ketika daun pintu terbuka, Loetan terkejut, seniman muda Indonesia Lily Suhairi didorong masuk oleh dua serdadu Jepang.

Kempeitai itu menuding Lily Suhairi, "Kamu Lily Suhairi, bukan?"
Seniman musik itu hanya mengangguk. Hadiah sebuah tinju mendarat di mukanya.
"Jawab, bagero!" bentak sang Kempeitai.
"Ia, ya ... Saya Lily!" Suhairi terbata-bata.
"Kamu berdua telah bersekongkol untuk melawan Dai Nippon. Kamu menciptakan lagu-lagu dan kamu penyiar berusaha menyiarkannya sebanyak-banyaknya lewat radio Hoso Kyoku. Lagu-lagu Nippon jadi tersisih!"
"Itu tidak benar, tuan!" jawab Lily.
"Jangan mungkir! Saya tahu, anak-anak banyak senang dengan lagu-lagu Lily Suhairi!"
"Tapi juga banyak senang dengan lagu-lagu Jepang!"
"Sina No Yoru, Miotokai ...!" ujar Loetan yang berusaha untuk melembutkan hati Jepang itu.

Namun tetap saja mereka berdua dihajar hingga babak belur. Tetapi untunglah ada bantuan dari seorang pejabat Jepang yang baik di Hoso Kyoku, sehingga Loetan dan Lily tidak terlalu lama mendekam dalam neraka Kempeitai tersebut. Loetan terpaksa diboyong ke rumah sakit karena selangkangannya harus dioperasi pasca siksaan itu. Apesnya di jaman itu rumah sakit kekurangan obat, sehingga Loetan dioperasi tanpa menggunakan bius. Dokter Pirngadi yang mengoperasinya dengan penuh simpati memberitahunya sebelum operasi, supaya sabar dan tabah menghadapi rasa sakit.

Cukup lama Loetan terbaring di rumah sakit, sementara hidup bangsa Indonesia semakin susah dan melarat. Untunglah isteri dan anaknya cukup tabah untuk menghadapi penderitaan ini.
Isterinya dengan setia menjenguk Loetan ke rumah sakit dengan berjalan kaki setiap hari sejauh 4 km dari jalan Japaris (belakangan menjadi jalan Rahmadsyah) ke jalan Serdang, sambil menggendong putrinya yang masih bayi.

Setelah bom atom meledak di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu tanpa syarat. Itulah saat yang dinanti para angkawasan di Hoso Kyoku.
Loetan dan kawan-kawan tidak rela peralatan radio itu diserah terimakan kepada Sekutu karena itu merupakan modal perjuangan bangsa. Namun karena kendala teknis, ditengah penjagaan serdadu Gurkha dan Belanda, mereka hanya bisa melarikan sebuah pemancar kecil ke Kampung Baru, 5 km dari Medan.

Tetapi belakangan rupanya posisi pemancar itu tercium oleh mata-mata NICA. Dalam satu aksi yang dilakukan tentara Sekutu di pagi hari, mereka dapat menerobos pengawalan pemuda-pemuda kita dan menyerbu ke Kampung Baru. Gedung pemancar dikepung dengan terlebih dahulu melepaskan tembakan kearah gedung tersebut. Mujurlah penyiar dan staf radio jang bertugas pada waktu itu dapat meloloskan diri. Hanya seorang yang menderita luka tembak di paha, namun dapat diselamatkan. Sementara stasiun radio itu akhirnya diledakkan oleh serdadu-serdadu Gurkha.

Loetan dalam perjalanan karirnya kemudian, di tahun 1947 sempat menjadi Kepala Radio Medan di Pematang Siantar sebelum diangkat sebagai Kepala RRI Pekanbaru (1947-1948). Setelah penyerahan kembali RRI oleh Belanda kepada RI, ia diangkat sebagai Kepala RRI Bukittinggi dan Padang (1949-1950).

Tahun 1950-1954 Loetan St. Toenaro dipercaya sebagai Kepala RRI Medan dan bertanggung jawab dalam peliputan acara PON ke-III. Pada periode 1954-1960 ia dimutasikan sebagai Kepala RRI Bandung. Pada masa itu Loetan diberikan tanggung jawab sebagai pimpinan coverage siaran RRI untuk Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-1. Sungguh merupakan sebuah tantangan yang berat karena di saat itu peralatan RRI masih kuno dan sederhana. Namun sejarah membuktikan bahwa pelaksanaan konferensi bersejarah itu termasuk coveragenya telah berlangsung sukses.

Berikutnya Loetan dimutasi menjadi Kepala RRI Nusantara I Medan (1960-1965) dan terhitung November 1965 menjadi Kepala RRI seluruh Indonesia hingga tahun 1968 sebelum pensiun di tahun 1971.

Itulah sekilas riwayat karir Loetan St. Toenaro, satu diantara empat serangkai pelopor RRI Sumatera (Loetan St. Toenaro, Kamarsyah, M. Arief dan M. Sani) yang dilahirkan persis 96 tahun lalu, 15 Mei 1915.
Semoga potongan sejarah singkat ini dapat memberikan teladan bagi generasi muda khususnya angkasawan RRI tentang semangat pengabdian yang luhur kepada masyarakat di era perjuangan kemerdekaan.

                                     Coba-coba menanam mumbang, kalau mujur sunting negeri!

 
Foto kenangan keluarga semasa bertugas di Medan (1952)


Ciputat, 15 Mei 2011.

1 comment: